RADARSEMARANG.ID, Semarang — Isra Mikraj adalah peristiwa penting dalam sejarah Islam yang memperingati perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah salat.
Momen yang diperingati setiap tanggal 27 Rajab dalam kalender Hijriyah ini pun menjadi waktu yang penuh berkah.
Sebagian besar umat Islam mempercayai bahwa peristiwa Isra Mikraj terjadi pada malam 27 Rajab, yang mendorong mereka untuk melaksanakan berbagai amal ibadah.
Namun, beberapa mungkin bertanya tentang tanggal pasti terjadinya malam Isra Mikraj pada tahun ini. Berikut adalah penjelasan lebih rinci.
Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny mengungkapkan bahwa malam 27 Rajab dipandang sebagai waktu terjadinya Isra Mikraj.
Pandangan ini didasarkan pada keyakinan sejumlah ulama yang menyatakan bahwa wahyu untuk Nabi Muhammad SAW diturunkan pada malam tersebut.
Melakukan berbagai amalan baik di malam tersebut dianggap sebagai cara untuk memuliakan dan menghidupkan malam yang penuh berkah ini.
Sejarah Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW
Sejarah Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW menggambarkan salah satu peristiwa paling istimewa di masa hidup Rasulullah.
Kisah Isra Mikraj tak hanya menunjukkan kebesaran kekuasaan Allah Subhanahu Wa Taala.
Peristiwa Isra Miraj sekaligus menegaskan keistimewaan kedudukan Nabi Muhammad SAW di hadapan Allah SWT.
Kata Isra secara bahasa artinya perjalanan malam.
Secara istilah dalam Islam, arti Isra adalah peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan pada malam hari dari Masjidil Haram di Makkah ke Baitul Maqdis di Yerusalam.
Jarak Makkah ke Yerusalem sekitar 1.239 kilometer yang pada sekitar 621 Masehi normalnya ditempuh dengan perjalanan kuda atau unta sekitar sebulan.
Namun, Nabi Muhammad SAW mencapainya hanya dalam waktu beberapa saat saja.
Sementara itu, arti mikraj secara bahasa adalah kenaikan.
Adapun arti Mikraj dalam Islam ialah peristiwa ketika Nabi Muhammad meneruskan perjalanan dari Baitul Maqdis di Yerusalem untuk naik ke atas serta melalui 7 langit hingga sampai ke Sidratul Muntaha.
Perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW berlangsung dalam waktu kurang dari semalam, dimulai dari selepas Rasulullah melaksanakan sholat malam dan berakhir sebelum terbit fajar.
Pada malam 27 Rajab itu, Nabi Muhammad sudah kembali lagi ke Makkah setelah perjalanan Isra Mikraj sebelum waktu subuh.
Saat melakukan perjalanan dari Masjidil Haram menuju Baitul Maqdis hingga sampai ke Sidratul muntaha di ujung langit ke-7, Nabi Muhammad ditemani oleh malaikat Jibril.
Sidratul muntaha merupakan tempat paling tinggi dan paling akhir di atas langit ketujuh yang dikunjungi Nabi Muhammad SAW ketika mikraj.
Sidratul Muntaha sekaligus simbol puncak pengetahuan yang paling mungkin dicapai oleh makhluk.
Di Surah An Najm ayat 16-17, pengalaman Rasulullah di Sidratul mutaha digambarkan sebagai berikut:
“(Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya,” [QS An Najm: 16].
Baca Juga: Keutamaan, Makna, Dalil Puasa dan Ibadah-ibadah yang Dilakukan Selama Bulan Ramadan 1446 H
“Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya),” [QS An Najm: 16].
Di Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad SAW menerima perintah dari Allah Subhanahu Wa Taala berupa kewajiban melaksanakan sholat 5 waktu dalam sehari semalam bagi beliau dan umat Islam.
Awalnya, kewajiban umat Nabi Muhammad untuk melaksanakan sholat dalam sehari semalam berjumlah 50 kali sehari.
Namun, ketika Rasulullah turun dari Sidratul Muntaha, Nabi Musa As mengingatkan beliau bahwa jumlah tersebut terlalu banyak.
Nabi Musa menyarankan agar Nabi Muhammad meminta keringanan kepada Allah SWT, hingga tersisa 5 kali sholat fardhu dalam sehari semalam.
Setelah Allah SWT meringankan perintahnya menjadi sholat 5 waktu saja dalam sehari semalam, Nabi Muhammad enggan memohon keringanan lagi sekalipun Nabi Musa menyarankannya.
Sejarah Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW dapat diketahui dari sejumlah ayat Al-Quran dan hadits.
Surah Al-Isra ayat 1 dan Surat An Najm ayat 12-17 beserta sejumlah hadits shahih menegaskan bahwa kisah Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW benar-benar terjadi.
Sejumlah hadits tentang Isra Mi’raj itu merupakan hadits mutawatir, dan ada sekitar 16 sahabat yang meriwayatkannya.
Kisah Perjalanan Peristiwa Isra Mikraj lengkap adalah sebagai berikut:
- Suatu malam, Jibril mendatangi Nabi Muhammad yang sedang berada di Masjidil Haram.
- Usai melaksanakan sholat malam, Nabi Muhammad mengalami semacam ‘pembedahan’.
- Pembedahan itu dilakukan dari atas dada sampai bawah perut Nabi Muhammad.
- Perut Nabi Muhammad dicuci dengan air zamzam dan diisi dengan hikmah dan iman.
- Dikawal Jibril, Nabi Muhammad naik Buraq menuju Masjid Al-Aqsa (Baitul Maqdis di Yerusalem).
- Di Masjidil Aqsha, Nabi Muhammad melakukan sholat sunnah 2 rakaat.
- Rasulullah SAW menjadi imam sholat bagi semua Nabi dan Rasul yang hadir di Baitul Maqdis.
- Nabi Muhammad diberi 3 gelas dengan isi berbeda-beda, yatu khamr, susu, dan air putih. Beliau memilih susu, yang disebut oleh Jibril sebagai memilih fitrah atau agama Islam.
- Dengan dikawal oleh Jibril, Nabi Muhammad berangkat dari Masjidil Aqsa menuju langit 1-7 hingga sampai ke Sidratul Muntaha.
- Di langit 1 sampai 7, Nabi Muhammad bertemu dengan sejumlah Nabi dan Rasul sebelum beliau.
- Rasulullah SAW bertemu Nabi Adam di langit pertama.
- Rasulullah SAW bertemu Nabi Isa dan Yahya di langit kedua.
- Rasulullah SAW bertemu Nabi Yusuf di langit ketiga.
- Rasulullah SAW bertemu Nabi Idris di langit keempat.
- Rasulullah SAW bertemu Nabi Harun di langit kelima.
- Rasulullah SAW bertemu Nabi Musa di langit keenam.
- Rasulullah SAW bertemu Nabi Ibrahim di langit ketujuh.
- Saat sampai di Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad SAW melihat wujud asli malaikat Jibril.
- Di Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad SAW menghadap Allah Subahanu Wa Taala.
- Di Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad menerima perintah sholat fardu 5 waktu dari Allah SWT.
- Selanjutnya, Nabi Muhammad kembali ke Makkah melalui Baitul Maqdis.
- Nabi Muhammad sudah sampai kembali ke Makkah sebelum waktu shubuh.
Kitab Qishshah Mi’rajin Nabi karya Syekh Najmudin Al Ghoidzi menerangkan bahwa dalam perjalanan dari Ka’bah ke Baitul Maqdis, Nabi Muhammad mengalami perhentian beberapa kali, yaitu di Madinah, dekat Sajarah Musa, tempat Nabi Musa berteduh saat diburu Raja Firaun, Bukit Sinai, hingga Betlehem tempat kelahiran Nabi Isa.
Amalan Malam 27 Rajab Isra Mikraj
Setelah mencermati tanggal berlangsungnya Isra Miraj di malam 27 Rajab pada tahun 2025 ini, hendaknya kaum Muslim untuk menghidupkan momentum tersebut dengan melakukan berbagai amalan baik.
Ada berbagai amalan sunnah yang dapat dikerjakan pada waktu tersebut.
Berikut beberapa di antaranya.
1. Sholat 12 Rakaat Lailatul Mikraj
Salah satu amalan yang dapat dilakukan oleh umat Muslim pada malam 27 Rajab adalah melaksanakan sholat sunnah sebanyak 12 rakaat.
Dalam beberapa panduan, disebutkan bahwa sholat ini dikerjakan dengan membagi 12 rakaat tersebut menjadi 6 kali salam, masing-masing terdiri dari 2 rakaat.
Sholat sunnah ini sering disebut dengan Lailatul Mikraj dan bisa dilakukan setelah sholat Maghrib atau Isya.
Tata cara pengerjaannya sama seperti sholat sunnah lainnya, yaitu dengan melaksanakan dua rakaat di setiap salam hingga genap mencapai 12 rakaat.
Untuk bacaan suratnya, pada setiap rakaat pertama dan kedua diawali dengan membaca Surat Al-Fatihah, lalu dilanjutkan dengan Surat Al-Ikhlas satu kali.
Sebelum memulai sholat ini, ada bacaan niat yang perlu dilafalkan terlebih dahulu. Berikut adalah bacaan niatnya:
أُصَلَى لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ سُنَّةٌ لِلَّهِ تَعَالَى اللَّهُ أَكْبَرُ.
Ushalli lailatal miraji rak’ataini mustaqbilal qiblati sunnatan lillahi ta’älä. Allahu Akbar.
Artinya: “Saya niat sholat Lailatul Miraj dua rakaat dengan menghadap kiblat, sunnah karena Allah Ta’ala. Allahu Maha Besar.”
2. Banyak Berdoa
Pada malam 27 Rajab, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak doa dan memohon kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan.
Meskipun tidak ada doa khusus yang diwajibkan pada malam tersebut, umat Islam dapat membaca doa yang biasanya diamalkan pada bulan Rajab, sebagaimana yang telah diajarkan oleh para ulama terdahulu.
Dalam salah satu panduan ibadah yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid, disebutkan bahwa terdapat doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika memasuki bulan Rajab.
Doa ini merupakan permohonan agar Allah memberikan keberkahan sepanjang bulan Rajab dan Syaban, serta memberikan kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadan.
Hal ini didasarkan pada salah satu riwayat hadits yang menyampaikan:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا دَخَلَ رَجَبُ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ.
Artinya: “Sesungguhnya, Nabi SAW apabila memasuki bulan Rajab, beliau berdoa, ‘Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Syaban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan’.” (HR. Bukhari).
Baca Juga: Meluap! Ribuan Jama’ah hadir di PHBI Langensari Bersholawat bersama Majelis Gandrung Nabi
Adapun bacaan doa yang kerap dilantunkan oleh Rasulullah SAW saat memasuki bulan Rajab adalah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ.
Allaahumma baarik lanaa fii rajaba wa sya’baana, wa ballighnaa ramadhaana.
Artinya: “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Syaban, dan sampaikan kami di bulan Ramadhan.”
Doa Malam 27 Rajab Isra Mikraj
اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ بِمُشَاهَدَةِ أَسْرَارِ الْمُحِبِّيْنَ، وَبِالْخَلْوَةِ الَّتِي خَصَّصْتَ بِهَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْنَ حِيْنَ أَسْرَيْتَ بِهِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ أَنْ تَرْحَمَ قَلْبِيَ الْحَزِيْنَ وَتُجِيْبَ دَعْوَتِيْ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ
Allāhumma innī as’aluka bi musyāhadati asrāril muhibbīn, wa bil khalwatil latī khashshashta bihā sayyidal mursalīn hīna asraita bihī lailatas sābi’i wal ‘isyrīn an tarhama qalbiyal hazīna wa tujība da‘watī yā akramal akramīn.
Artinya:
“Ya Allah, dengan keagungan diperlihatkannya rahasia-rahasia orang-orang pecinta, dan dengan kemuliaan khalwat (menyendiri) yang hanya Engkau khususkan kepada pimpinan para rasul, ketika Engkau memperjalankannya pada malam 27 Rajab, sungguh aku memohon kepada-Mu agar Kaumerahmati hatiku yang sedih dan Kau mengabulkan doa-doaku, wahai Yang Maha Memiliki kedermawanan.”
Syekh Muhammad bin Abdullah bin Hasan al-Halabi al-Qadiri, dalam kitabnya Darul Kutub Ilmiah, menyampaikan:
“Barang siapa yang membaca doa ini pada malam 27 Rajab, kemudian meminta kepada Allah (untuk dipenuhi) kebutuhannya, maka akan dipenuhi kebutuhannya dengan izin Allah.”
3. Memperbanyak Dzikir
Selain memperbanyak doa, malam Isra Mikraj yang jatuh pada 27 Rajab juga dapat dimanfaatkan dengan memperbanyak bacaan dzikir untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dzikir merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan, terutama pada malam-malam yang istimewa seperti ini.
Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa panduan ibadah, terdapat beberapa bacaan dzikir yang dapat diamalkan pada malam tersebut. Berikut adalah beberapa dzikir yang bisa dilafalkan:
Membaca Tasbih 100 Kali
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.
Subhanallahi wal hamdu lillahi wala ilaha illallahu walláhu akbar.
Artinya: “Maha Suci Allah. Segala puji bagi Allah. Tiada Tuhan selain Allah. Dan hanya Allah yang Maha Besar.”
Membaca Istighfar 100 Kali
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ
Astaghfirullahal ‘adzhim.
Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”
Baca Juga: Dikenal Sederhana dan Jadi Panutan, Sosok Gus Lik Kyai Terkemuka Asal Jamsaren Kediri Wafat
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim
Artinya:
“Tidak ada daya dalam menjauhi maksiat dan tidak ada upaya menjalankan ketaatan melainkan dengan pertolongan Allah SWT.”
Dzikir ini mengingatkan umat Muslim untuk senantiasa bergantung kepada Allah dalam menjalani kehidupan dan menjauhi segala bentuk maksiat.
4. Banyak Beristighfar
Malam Isra Mikraj juga menjadi waktu yang tepat untuk introspeksi diri dan memperbanyak istighfar. Salah satu bacaan istighfar yang dianjurkan adalah Sayyidul Istighfar yang berbunyi:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِالنِّعْمَةِ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
Allahumma anta rabbi la ilaha illa anta khalaqtani wa ana abduka wa ana ala ahdika wa wadika mastathatu. Audzu bika min syarri ma shanatu. Abu u laka bini matika alayya wa abuu u bidzanbi faghfirlii fa innahu la yaghfirudz-dzunuba illa anta.
Artinya:
“Ya Allah, Engkaulah Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau sudah menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku akan berusaha selalu taat kepada-Mu, sekuat tenagaku.
Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang kuperbuat. Kuakui segala nikmat yang Engkau berikan padaku, dan kuakui pula dosa-dosaku. Maka ampunilah aku ya Allah. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau.”
5. Puasa 27 Rajab
Puasa sunnah pada hari Isra Mikraj turut menjadi amalan yang sangat dianjurkan.
Selain sebagai ibadah yang mendatangkan pahala besar, puasa juga menjadi bentuk syukur atas karunia Allah.
Niat Puasa Rajab Malam Hari
نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ رَجَبَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma Rajaba sunnatan lillâhi ta’âlâ
Artinya: “Aku berniat puasa Rajab, sunnah karena Allah ta’âlâ.”
Niat Puasa Rajab Siang Hari
نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ شَهْرِ رَجَبَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i syahri rajaba lillâhi ta’âlâ
Artinya: “Saya niat puasa sunnah bulan Rajab hari ini, sunnah karena Allah ta’âlâ.”
Keutamaan Puasa Rajab
Bagi muslim yang berpuasa di bulan haram seperti bulan Rajab, banyak keutamaan yang akan diperolehnya.
1). Menutup Pintu Neraka
Dengan mengamalkan puasa Rajab selama tujuh hari, seorang muslim dapat menutup tujuh pintu neraka.
Dari Ibnu Abbas RA, Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Barang siapa berpuasa sehari pada bulan Rajab, maka dia seperti berpuasa sebulan.
Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab selama tujuh hari, maka tujuh pintu neraka ditutup untuknya.
Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab sebanyak delapan hari, maka delapan pintu surga dibuka untuknya.
Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab sebanyak sepuluh hari, maka keburukannya diganti kebaikan.” (HR Baihaqi)
2). Seperti Puasa Sebulan Penuh
Seorang muslim yang mengamalkan puasa Rajab diibaratkan seperti berpuasa sebulan penuh.
Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:
“Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab sehari maka laksana ia puasa selama sebulan.” (HR At Thabrani)
3). Masuk Surga
Keutamaan puasa Rajab lainnya adalah akan dimasukkan ke dalam surga.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa:
“Sesungguhnya di surga terdapat sungai yang dinamakan Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis dari madu.
Barangsiapa puasa sehari pada bulan Rajab, maka ia akan dikaruniai minum dari sungai tersebut.” (HR Baihaqi).
6. Memperbanyak Sholawat Nabi
Sholawat Nabi 1000 Kali
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad.
Artinya: “Ya Allah, karuniakanlah selalu kehormatan dan kesejahteraan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad.”
Peringatan Isra Mikraj adalah momen istimewa untuk memperbanyak salawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Membaca sholawat pun adalah bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Nabi sebagai pembawa risalah Islam.
Salawat tidak hanya menjadi sarana mendapatkan syafaat Nabi di hari kiamat, tetapi juga mendatangkan ketenangan hati dan keberkahan hidup.
Jadi, itulah sejumlah amalan yang dianjurkan saat peringatan Isra Mikraj.
Jangan lewatkan malam penuh kemuliaan ini untuk memperbanyak ibadah dan memperkuat hubungan spiritual kamu ya. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi