RADARSEMARANG.ID — Setiap kali memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam di Indonesia sering kali disibukkan dengan berbagai macam rangkaian kegiatan untuk memperingati bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW (maulid nabi) yang bertepatan pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah.
Sejarah mencatat, perayaan maulid nabi diprakarsai oleh Raja Muzhaffat Abu Sa‟id, penguasa Kota Ibril Dinasti Fatimiyyah sebelah timur Mosul, Irak pada abad VI Hijriyah.
Beliau merupakan ipar dari Sultan Salahuddin al Ayubi yang tercatat sebagai orang pertama yang memperingati maulid Nabi Muhammad SAW secara besar-besaran, dan beliau sampai menghibahkan hartanya sebanyak 300 ribu dinar.
Pada zaman itu Raja Mongolia Jenghis Khan tengah membabi buta dengan melabrak negeri tetangga.
Raja Muzhaffar membayangkan jika rakyatnya tidak siap mental, tentu akan menjadi korban keganasan yang dilakukan oleh Jenghis Khan.
Pada saat kondisi rakyat yang sudah sangat memprihatinkan, Raja Muzhaffar memiliki gagasan yang tepat untuk membangkitkan kembali kekuatan dan semangat rakyatnya dengan mengungkapkan riwayat kehidupan Rasulullah SAW.
Gagasan tersebut terbukti mampu membawa perubahan yang signifikan dalam membangun kembali semangat rakyatnya, dan juga menumbuhkan ketahanan yang tinggi dalam menghadapi serangan oleh Raja Jenghis Khan.
Baca Juga: Gaji Guru dan Dosen di Indonesia Kecil? Begini Tanggapan Sri Mulyani Dalam Pidatonya yang Viral
Perihal yang sama juga dilakukan oleh Salahuddin al Ayubi saat menjadi Panglima Perang Salib berkobar.
Salahuddin al-ayubi melihat kondisi pasukan umat Islam dalam keadaan lemah dan kehilangan semangat dalam berperang.
Beliau memanfaatkan momentum bulan kelahiran Nabi (maulid nabi) sebagai cara jitu untuk mengatasi kerapuhan pertahanan yang dibangun pasukan umat Islam.
Dikenang pula nabi dan para sahabat mengorbankan apa yang mereka miliki, untuk membela agama dan umat Islam.
Dengan cara tersebut al-Ayubi berhasil mengembalikan ruhul jihad dalam mengembalikan semangat pasukan umat Islam, sehingga pasukan Islam mampu mengalahkan pasukan salib di sejumlah front pertempuran.
Ketika Salahuddin al-Ayubi meminta persetujuan dari khalifah di Baghdad yakni an-Nashir, mengenai setiap 12 Rabiul Awal (maulid nabi) harus dirayakan secara massal agar setiap tahunnya tidak berlalu begitu saja, ternyata an-Nashir setuju.
Maka pada bulan Dzulhijjah 579 H (1183 Masehi) Salahuddin al-Ayyubi sebagai penguasa haramain (Mekkah dan Madinah) mengintruksikan kepada seluruh jamaah haji, agar ketika kembali ke kampung halaman masing-masing untuk mengabarkan perihal perayaan maulid nabi kepada umat Islam dimana saja berada.
Bahwa mulai tahun 580 Hijriyah (1184 Masehi) tanggal 12 Rabiul Awal dirayakan sebagai hari maulid Nabi dengan berbagai kegiatan untuk membangkitkan kembali semangat para pejuang Islam.
Salahuddin al-Ayubi dalam menerapkan kebijakannya juga mengalami banyak hambatan, yakni ditentang oleh para ulama.
Sebab, menurut keyakinan mereka peringatan maulid Nabi tidak pernah ada dan tidak pernah dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW.
Akan tetapi al- Ayyubi menegaskan bahwa perayaan maulid nabi hanya kegiatan untuk menyemarakkan syiar agama bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak masuk dalam kategori amalan bidah yang dilarang.
Salah satu kegiatan yang diselenggarakan al-Ayyubi dalam memperingati maulid nabi adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat hidup Nabi beserta pujian bagi Nabi dengan bahasa yang indah.
Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti sayembara tersebut, dan pemenang pertama pada saat itu adalah Syaikh Jafar Al Barzanji.
Karyanya yang sangat monumental dikenal sebagai Kitab Barzanji yang sampai sekarang sering dibaca masyarakat kampung untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Kitab tersebut berisi pujian kepada nabi dan menceritakan kisah hidup nabi dari masa kecil, remaja, dewasa, sampai beliau diangkat menjadi rasul.
Apa yang dialami Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya juga dialami oleh umat Islam yang berjuang pada generasi-generasi berikutnya.
Segala cara dilakukan untuk meruntuhkan kekuatan Islam pada saat itu.
Hinaan, fitnah, penyesatan pemikiran, dan bahkan ancaman lainnya berupa pembunuhan yang dialami oleh umat Islam di Irak, dan umat Islam di Palestina hingga saat ini.
Maka sangat penting bagi kita melihat dan meniru kepribadian Rasulullah SAW, dimana perjuangan beliau dalam mengenalkan dan mensyiarkan Islam.
Teladan yang sangat pantas untuk ditiru apa yang ada pada diri beliau.
Moment maulid Nabi menjadi refleksi bagi umat Islam seluruh dunia, untuk lebih menambah rasa cinta dan bangga sebagai umatnya.
Surat Al Ahzab 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١
laqad kâna lakum fî rasûlillâhi uswatun ḫasanatul limang kâna yarjullâha wal-yaumal-âkhira wa dzakarallâha katsîrâPeringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Salahuddin al-Ayyubi membuahkan trend positif dikalangan umat Islam khususnya.
Dasar yang kuat dengan adanya ayat al-Qur‟an menjadi gelora semangat luar biasa pasukan Islam dalam menghadapi Perang Salib.
Salahuddin al-Ayyubi berhasil menghimpun kekuatan sehingga pada tahun 1187 (583 Hijriah) Yerussalem berhasil direbut oleh Salahuddin al-Ayuyubi dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali sampai hari ini. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi