Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Ibnu Battuta, Jadi Petualang Muslim Paling Bersejarah, Keliling Dunia Lintasi 44 Negara Hingga Menempuh Jarak 120 Ribu Kilometer

Tasropi • Senin, 9 September 2024 | 22:35 WIB
Ilustrasi Ibnu Batuta
Ilustrasi Ibnu Batuta

RADARSEMARANG.ID, IBNU BATTUTA lahir pada 24 Februari 1304 M di Tangier, Maroko, dengan nama lengkap Abu Abdullah Muhammad ibn Abdullah al-Lawati al-Tangi bin Batutah.

Ia dikenal sebagai penjelajah ulung dari Maroko yang melakukan perjalanan mengelilingi dunia meskipun teknologi pelayaran pada zamannya belum secanggih sekarang.

Menurut buku Petualangan Ibnu Battuta: Seorang Musafir Muslim Abad ke-14 oleh Ross E. Dunn, Ibnu Battuta dibesarkan dalam keluarga yang mendalami ilmu hukum Islam (fiqh) dan pengetahuan Islam lainnya.

Pada 14 Juni 1325 M/2 Rajab 725 A.H, Ibnu Battuta meninggalkan Tangier dan mulai perjalanan menuju tenggara melalui daratan tinggi Rif Timur.

Saat berusia sekitar 20 tahun, ia melakukan ziarah ke Mekkah untuk mengunjungi makam Nabi.

Setelah dari Mekkah, ia melanjutkan perjalanan sejauh kira-kira 120 ribu km melintasi dunia Muslim, setara dengan menjelajahi 44 negara saat ini, sebagaimana dikutip dari buku 99 Tokoh Muslim Dunia oleh Salman Iskandar.

Perjalanan Ibnu Battuta ke Mekkah dilakukan melalui jalur darat, mengikuti pantai Afrika Utara hingga Kairo, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Mamluk dan relatif aman.

Ibnu Battuta mengambil rute yang tidak biasa dengan menuju Sungai Nil dan melanjutkan ke timur lewat jalur darat menuju pelabuhan Laut Merah di 'Aydhad.

Namun, ketika mendekati kota tersebut, ia terpaksa kembali karena terjadi konflik lokal.

Setelah kembali ke Kairo, ia memilih jalur kedua menuju Damaskus (yang kemudian dikuasai Mamluk).

Berdasarkan rekomendasi seseorang yang ditemuinya dalam perjalanan sebelumnya, yang menyarankan agar ia melewati Suriah untuk sampai ke Mekkah.

Selama 24 hari di Damaskus, seperti yang dikutip dalam Petualangan Ibnu Battuta: Seorang Musafir Muslim Abad ke-14, Ibnu Battuta belajar di salah satu madrasah Mazhab Maliki dan memulai pendidikan formal pertamanya di luar negeri.

Dalam buku Rihlah, yang berisi kisah perjalanannya, Ibnu Battuta menyebutkan bahwa ia mengikuti kuliah dan mendapatkan ijazah dari lebih dari 14 guru berbeda.

Setelah menjalani Ramadhan di Damaskus, Ibnu Battuta bergabung dengan rombongan yang melakukan perjalanan sejauh 800 mil dari Damaskus ke Madinah untuk mengunjungi makam Nabi Muhammad SAW.

Empat hari kemudian, ia melanjutkan perjalanannya ke Mekkah.

Setelah menyelesaikan ritual haji, ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sebagai bagian dari refleksi pribadinya.

Dalam catatan sejarah, Ibnu Battuta telah menjelajahi berbagai wilayah termasuk Afrika Utara, Afrika Selatan, Afrika Barat, Eropa Timur, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tengah, Asia Tenggara, dan China.

Berikut beberapa fakta penting tentang Ibnu Batutta dan petualangannya megelilingi dunia :

1. Rute dan Kota Penting yang Dilewati:

Ibnu Battuta tidak hanya mengunjungi Mekkah dan Madinah, tetapi juga mengunjungi kota-kota penting lainnya seperti Baghdad, Istanbul (dulu dikenal sebagai Konstantinopel), dan Kairo.

Setiap kota ini memiliki peranan penting dalam sejarah dan perkembangan dunia Islam pada masa itu.

2. Pekerjaan dan Jabatan:

Selama perjalanannya, Ibnu Battuta juga menjabat sebagai hakim di beberapa kota yang dikunjunginya.

Misalnya, di Delhi, ia diangkat sebagai qadi (hakim) oleh penguasa setempat, yang menunjukkan pengakuan atas pengetahuan hukum dan keahliannya.

3. Kehidupan Setelah Perjalanan:

Setelah kembali ke Maroko, Ibnu Battuta menulis buku tentang perjalanan-petualangannya yang dikenal sebagai Rihlah.

Buku ini bukan hanya mencatat perjalanan dan tempat-tempat yang dikunjunginya, tetapi juga memberikan pandangan yang berharga tentang masyarakat dan budaya yang ia temui.

4. Pengalaman di Asia Timur:

Ibnu Battuta juga melakukan perjalanan ke China dan mencatat pengalamannya di sana. Ia mengunjungi kota-kota seperti Hangzhou dan Beijing, serta mengamati kebudayaan dan kehidupan di Asia Timur yang berbeda dari dunia Muslim.

5. Pengaruh Budaya dan Ilmiah:

Perjalanan Ibnu Battuta tidak hanya memberikan catatan sejarah, tetapi juga memperluas pemahaman tentang berbagai kebudayaan dan ilmu pengetahuan pada masa itu.

Ia mengamati dan mencatat berbagai aspek kehidupan, dari sistem pemerintahan hingga adat istiadat setempat.

6. Catatan mengenai Infrastruktur dan Teknologi:

Dalam perjalanan panjangnya, Ibnu Battuta mencatat berbagai bentuk infrastruktur, seperti jaringan jalan, sistem pos, dan teknologi pelayaran yang ada pada masa itu.

Ini memberikan wawasan tentang perkembangan teknologi dan infrastruktur di berbagai wilayah.

7. Kehidupan di Pengasingan:

Selama perjalanan, ia juga mengalami tantangan dan situasi sulit, seperti konflik lokal yang memaksa ia untuk mengubah rutenya.

Pengalaman-pengalaman ini menambah dimensi pada narasi perjalanannya.

Editor : Tasropi
#pelabuhan laut #Musafir Muslim #Ibnu Battuta #hukum islam #timur tengah #keliling dunia #catatan sejarah #afrika selatan