Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Sejarah 10 Oktober Jadi Hari Kesehatan Mental Sedunia, Ini Dia Penjelasannya

Zulia Munna Khasanah • Selasa, 7 Oktober 2025 | 20:03 WIB

 

Sejarah 10 Oktober Hari Kesehatan Mental Sedunia (sumber: Freepik)
Sejarah 10 Oktober Hari Kesehatan Mental Sedunia (sumber: Freepik)

RADARSEMARANG.ID - Setiap tanggal 10 Oktober, seluruh dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia.

Pada tahun ini, World Health Organization (WHO) mengangkat tema "Mental Health in Humanitarian Emergencies" yang menyoroti pentingnya dukungan psikologis bagi masyarakat yang terdampak krisis global.

Isu mengenai kesehatan mental tak lagi  dianggap tabu, melainkan sudah menjadi pembahasan utama di banyak negara, termasuk Indonesia.

Sejarah peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia sendiri dimulai pada tahun 1992 oleh World Federation for Mental Health (WFMH), dengan dukungan WHO, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental.

Pada awalnya, kegiatan ini hanya berupa siaran radio global yang membahas isu mengenai gangguan depresi dan kecemasan.

Kemudian peringatan ini berkembang menjadi gerakan internasional yang melibatkan jutaan orang di lebih dari 100 negara. 

Menurut WHO pada 2025 melaporkan bahwa lebih dari satu miliar orang di dunia hidup dengan gangguan mental seperti depresi, kecemasan, dan stres pascatrauma.

Meski banyak negara mulai memperkuat sistem kesehatan mental, kesenjangan pelayanan masih tinggi, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Laporan Mental Health Atlas 2024 menunjukkan pengeluaran pemerintah untuk sektor kesehatan mental hanya sekitar dua persen dari total anggaran kesehatan nasional.

Baca Juga: Jaga Mental Napi, Lapas Perempuan Semarang Hadirkan Buah Hati

Bahkan, di beberapa negara, tenaga profesional kesehatan mental hanya berjumlah 13 orang per 100 ribu penduduk.

WHO menilai kondisi ini menunjukkan perlunya reformasi besar-besaran dalam sistem layanan dan kebijakan kesehatan mental global.

Pada Maret 2025, WHO meluncurkan panduan baru yang mendorong transformasi kebijakan berbasis hak asasi manusia dan keadilan sosial.

Panduan tersebut menekankan pentingnya menghapus diskriminasi terhadap penyintas gangguan jiwa serta memperkuat layanan berbasis komunitas.

Menurut WHO, dalam situasi darurat kemanusiaan seperti bencana alam, konflik, dan pandemi, satu dari lima orang berpotensi mengalami gangguan kesehatan mental.

Oleh sebab itu, layanan psikososial harus menjadi bagian utama dalam setiap tanggap darurat.

Data WHO juga mencatat bahwa angka kematian akibat bunuh diri mencapai 727 ribu kasus per tahun secara global. 

Angka ini masih jauh dari target Sustainable Development Goals (SDGs) yang menargetkan penurunan sepertiga pada tahun 2030.

Meski begitu, ada kemajuan positif di beberapa negara yang berhasil mengintegrasikan layanan kesehatan mental ke dalam sistem perawatan primer.

Sebanyak 71 persen negara kini telah memenuhi minimal tiga dari lima indikator integrasi layanan menurut WHO.

Selain itu, dukungan psikososial dalam penanganan bencana meningkat dari 39 persen pada 2020 menjadi lebih dari 80 persen pada 2025.

Namun, WHO tetap menegaskan bahwa perubahan nyata tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, melainkan juga kesadaran masyarakat.

Stigma, diskriminasi, dan kurangnya edukasi menjadi tantangan utama yang harus terus dilawan bersama.

Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 pun menjadi momentum untuk mengingat bahwa kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Sejarah panjang ini menunjukkan bahwa perjuangan melawan stigma dan meningkatkan kepedulian mental masih terus berjalan.

Kini, dunia tak hanya berbicara tentang gangguan jiwa, tapi juga tentang keberanian untuk sembuh dan mendukung satu sama lain.

Karena pada akhirnya, kesehatan mental bukan hanya urusan individu, tetapi tanggung jawab bersama sebagai masyarakat yang beradab.

 

Editor : Baskoro Septiadi
#who #Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025 #hari kesehatan mental sedunia #Sejarah