RADARSEMARANG.ID - Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health day yang diperingati setiap 10 Oktober menjadi momen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mental.
Kesehatan mental adalah sebuah isu yang kerap kali terabaikan padahal hal tersebut sangat memengaruhi kualitas hidup seseorang.
Peringatan ini pertama kali digagas oleh World Federation For Mental Health (WFMH) pada tahun 1992.
Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia telah didukung oleh World Health Organization (WHO) serta berbagai negara di seluruh dunia termasuk Indonesia.
Tema yang diangkat setiap tahunnya memang berbeda-beda namun memiliki benang merah yang sama yaitu mengajak masyarakat untuk lebih terbuka dalam membicarakan kesehatan mental, mengurangi stigma, dan memperkuat akses layanan kesehatan mental.
Menurut WHO, satu dari delapan orang di dunia hidup dengan mengalami gangguan mental.
Setiap tahunnya angka tersebut terus meningkat seiring dengan tekanan sosial, ekonomi, hingga dampak dari pandemi lalu yang tambah memperparah kondisi psikologis banyak orang.
Tema peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia pada tahun 2025 yaitu 'access to services - mental health in catastrophes and emergencies' yang berarti kesehatan mental dalam keadaan bencana dan situasi darurat.
Tema tersebut menyoroti bahwa pentingnya kemampuan seseorang untuk mempertahankan kesehatan mental dalam menghadapi berbagai isu global yang ada.
Hal ini mengisyaratkan bahwa ketangguhan mental seseorang dapat terganggu jika selalu mengikuti isu global yang memberitakan banyak kabar buruk.
Menurut Mental Health Foundation, paparan berita buruk terus-menerus dapat menimbulkan gangguan kecemasan, kebingungan, rasa tidak berdaya, bahkan bisa merasa kelelahan secara emosional.
Sehingga sangat penting untuk membatasi diri mengkonsumsi informasi atau berita yang negatif agar tidak menimbulkan dampak psikologis berkepanjangan.
Fenomena tersebut dinamakan Doomscrolling atau kebiasaan menggulir berita negatif tanpa henti hingga menyebabkan suasana hati jadi buruk, menurunkan konsentrasi, mengganggu tidur, bahkan dapat berdampak pada kesehatan fisik.
Maka dari itu, masyarakat perlu lebih bijak dalam memilih sumber informasi dan membatasi diri serta menentukan kapan harus berhenti membaca berita buruk.
Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia bukan hanya ajakan untuk peduli saja, melainkan juga penggilan nyata bagi pemerintah, lembaga kesehatan, komunitas, hingga media untuk menyediakan akses dan ruang layanan psikologis yang memadai.
Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengkampanyekan literasi digital mental sehat, serta menciptakan ruang aman untuk membicarakan kesehatan mental tanpa stigma yang aneh.
Di Indonesia, isu kesehatan mental semakin mendapatkan perhatian karena di media sosial banyak yang mulai peduli dengan kesehatan mental.
Namun, hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa Indonesia masih banyak penderita dengan gangguan jiwa yang kesulitan mendapatkan layanan tepat, bahkan sering kali menghadapi diskriminasi di lingkungan masyarakat.
Penting untuk diingat, bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Keduanya saling berhubungan dan berkontribusi terhadap kesejahteraan diri sendiri maupun produktivitas masyarakat.
Stigma yang masih melekat pada isu kesehatan mental menjadi tantangan besar bagi kita semua.
Hal ini terjadi karena banyak orang enggan untuk mencari pertolongan dengan alasan takut dianggap lemah ataupun tidak normal oleh lingkungan sekitarnya.
Dengan adanya Hari Kesehatan Mental Sedunia, diharapkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan jiwa untuk terus tumbuh.
Diharapkan pula akses layanan kesehatan mental semakin mudah dijangkau, dan masyarakat mampu membangun lingkungan yang memberikan energi positif, suportif, serta bebas dari stigma demi terciptanya kehidupan yang lebih sehat lahir dan batin.
Editor : Baskoro Septiadi