Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

JKN Jadi Penopang Utama di Tengah Meningkatnya Penyakit Degeneratif

Puput Puspitasari • Sabtu, 13 September 2025 | 02:15 WIB

Peserta prolanis mengikuti senam sehat untuk mengelola penyakit DM Tipe 2 maupun hipertensi.
Peserta prolanis mengikuti senam sehat untuk mengelola penyakit DM Tipe 2 maupun hipertensi.

RADARSEMARANG.IDMagelang   Dalam beberapa tahun terakhir, tren penyakit degeneratif di Kabupaten Magelang menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang mencatat jumlah penderita hipertensi naik dari 28.586 jiwa pada tahun 2020 menjadi 79.933 jiwa pada tahun 2022. Sementara itu, kasus diabetes melitus juga melonjak dari 7.642 jiwa pada 2020 menjadi 17.442 jiwa pada 2022.

Lonjakan ini mencerminkan tantangan serius.

Tidak hanya itu, hal ini juga menegaskan pentingnya jaminan kesehatan.

Di sinilah peran program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan menjadi sangat strategis.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Magelang Maya Susanti menjelaskan, penyakit degeneratif kini menjadi salah satu tantangan utama dalam dunia kesehatan.

Menurutnya, penyakit seperti diabetes melitus, hipertensi, jantung, hingga gagal ginjal tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi mulai ditemukan pada kelompok usia produktif.

“Penyakit degeneratif ini umumnya berkembang perlahan dan berlangsung jangka panjang. Sayangnya, banyak yang baru menyadari setelah kondisinya cukup parah. Faktor gaya hidup seperti pola makan tinggi gula, kurang gerak, dan stres menjadi pemicu utamanya,” ungkap Maya, Jumat (12/9/2025).

Ia menekankan bahwa kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan harus dibangun sejak dini.

Perubahan perilaku sederhana, seperti membatasi konsumsi makanan tidak sehat atau meluangkan waktu untuk olahraga, dapat memberikan dampak besar dalam menekan angka kasus penyakit degeneratif di masa depan.

Maya juga mendorong masyarakat untuk menjadikan gaya hidup sehat sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar pilihan sementara.

Maya juga menambahkan, upaya pencegahan memang menjadi langkah utama yang harus digalakkan.

Namun, ketika masyarakat sudah berhadapan dengan penyakit kronis, tetap dibutuhkan jaminan layanan kesehatan agar mereka bisa terus mendapatkan pengobatan yang layak.

“Penyakit degeneratif memang tidak bisa sepenuhnya disembuhkan, tapi bisa dikendalikan. Di sinilah pentingnya JKN, karena menjamin pasien tetap bisa berobat teratur sehingga kualitas hidup mereka tetap terjaga,” jelas Maya.

Ia pun mengingatkan masyarakat untuk selalu memastikan status kepesertaan JKN tetap aktif sebagai bentuk proteksi bersama.

Menurutnya, kepesertaan yang aktif akan menjamin masyarakat dapat langsung memperoleh layanan kesehatan tanpa harus memikirkan biaya ketika sakit datang secara tiba-tiba.

Dengan demikian, tidak ada jeda atau hambatan dalam akses pelayanan yang justru bisa memperburuk kondisi pasien.

“Kita tidak bisa memprediksi kapan sakit datang. Karena itu, sangat penting bagi setiap keluarga untuk memastikan kepesertaan JKN mereka aktif. Dengan begitu, kita bisa merasa lebih tenang karena terlindungi dan fokus pada pemulihan kesehatan,” terang Maya.

Manfaat sebagai peserta JKN dirasakan oleh Aulia, mahasiswa di Magelang.

Ia memiliki orang tua dengan penyakit diabetes melitus sejak beberapa tahun lalu.

Ia menceritakan bagaimana keluarganya merasakan langsung peran JKN dalam meringankan beban pengobatan ayahnya.

“Ayah saya sudah lama mengidap diabetes melitus. Dulu kami sempat bingung bagaimana cara membiayai kontrol rutin dan obat-obatan yang harganya tidak sedikit. Tetapi setelah menjadi peserta JKN, semua terasa lebih ringan. Kami tidak perlu lagi khawatir soal biaya,” ujar Aulia.

Pengalaman itu juga membuka mata Aulia tentang pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.

Ia mengaku, kondisi sang ayah menjadi pengingat agar generasi muda lebih bijak dalam menjalani gaya hidup.

“Saya belajar banyak dari kondisi ayah. Kita harus lebih disiplin menjaga pola makan, rajin olahraga, dan rutin periksa kesehatan. Jangan tunggu sakit dulu baru peduli. Pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan,” tegasnya.

Selain itu, Aulia berpesan agar masyarakat tidak menunda untuk mendaftarkan diri dan keluarganya dalam program JKN.

“Kita tidak pernah tahu kapan sakit datang. JKN itu ibarat payung yang harus kita siapkan sebelum hujan. Saya mengajak teman-teman sebaya dan masyarakat untuk memastikan sudah terdaftar sebagai peserta JKN. Karena saat sakit datang, memiliki JKN benar-benar sangat membantu,” katanya. (put/bis)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#Penyakit Degenatif #BPJS KESEHATAN #Maya Susanti #JKN #jaminan kesehatan nasional