RADARSEMARANG.ID – Kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dituntut tidak hanya memiliki militansi organisasi, tetapi juga kapasitas intelektual dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Demikian dikatakan Pengasuh Pondok Pesantren Darul Amanah SUkorejo KH Muhammad Fatwa yang juga Wakil Bendahara Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Tengah.
Penyataan itu disampaikan saat rapat koordinasi dengan PC GP Ansor Kabupaten Kendal untuk pelaksanaan Latihan Instruktur (LI) I dan Kursus Pelatih (Suspelat) I yang digelar 20–22 November 2026 di Pondok Pesantren Darul Amanah, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal.
Kiai muda yang akrab disapa Gus Fatwa itu mengatakan tantangan kaderisasi saat ini semakin kompleks seiring perkembangan teknologi digital, perubahan karakter generasi muda, serta dinamika sosial dan keagamaan.
Menurut dia, penguatan kaderisasi tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan jumlah anggota.
Organisasi juga harus memastikan kader memiliki pemahaman ideologi yang kuat, integritas, wawasan kebangsaan, dan kemampuan menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.
"Perkaderan jangan hanya berorientasi pada bagaimana mencetak kader sebanyak-banyaknya. Tetapi bagaimana melahirkan kader yang berkualitas, memiliki pemahaman ideologi yang kuat, berintegritas, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat," ujar Fatwa.
Gus Fatwa itu menilai, pola pendidikan kader perlu terus dikembangkan agar mampu menjawab perubahan zaman.
"Saat ini, pendidikan kader, tidak cukup hanya menyampaikan materi secara teoritis," katanya.
Proses kaderisasi juga harus membangun kesadaran, karakter, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan sosial.
"Kader Ansor dan Banser harus mampu membaca perkembangan zaman. Militansi tetap penting, tetapi harus dibarengi intelektualitas, keterampilan, dan kemampuan menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat," katanya.
Gus Fatwa menyebut, salah satu aspek penting dalam memperkuat kaderisasi adalah ketersediaan instruktur dan pelatih yang kompeten.
Instruktur tidak hanya bertugas menyampaikan materi organisasi, tetapi juga berperan sebagai pendidik yang membentuk karakter dan kepemimpinan kader.
"Mereka bukan hanya bertugas menyampaikan materi. Tetapi juga menjadi pendidik yang menanamkan nilai-nilai perjuangan, membentuk karakter, dan menyiapkan kader agar memiliki kemampuan kepemimpinan," jelasnya.
Ketua PC GP Ansor Kendal, Ali Nurudin, mengatakan, jumlah pendaftar kegiatan tersebut telah melampaui 180 orang dari target 200 peserta.
"Kami menargetkan 200 peserta. Saat ini sudah lebih dari 180 peserta, termasuk dari kader Papua, Kalimantan, dan Pasuruan, Jawa Timur," kata Ali.
Melalui LI I dan Suspelat I, peserta diharapkan mampu merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pendidikan kader di wilayah masing-masing.
Selain penguatan kompetensi instruktur, Gus Fatwa menilai kolaborasi pesantren dengan organisasi kepemudaan juga memiliki peran penting dalam membangun kualitas kader.
Pesantren memiliki tradisi pendidikan yang menekankan keilmuan, akhlak, kedisiplinan, dan pengabdian.
"Pesantren dan Ansor memiliki ruang sinergi yang sangat besar. Pesantren menguatkan tradisi keilmuan dan akhlak, sedangkan Ansor menjadi ruang pengabdian dan aktualisasi kader dalam kehidupan sosial dan kebangsaan," ungkapnya.
Pondok Pesantren Darul Amanah menjadi tuan rumah pelaksanaan LI I dan Suspelat I tersebut.
Gus Fatwa berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan instruktur dan pelatih yang tidak hanya menguasai materi organisasi, tetapi juga memiliki integritas, kapasitas intelektual, dan kemampuan mendidik kader secara berkelanjutan. (bud)
Editor : Baskoro Septiadi