Kurangi Ketergantungan Kimia, DPP Kendal Ajari Petani Bawang Merah Bikin PGPR

Budi Setiyawan • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 12:43 WIB
DILATIH: 30 Petani bawang di merah di Kecamatan Gemuh mengikuti praktik pembuatan PGPR dalam pelatihan pembenihan dan budidaya bawang merah yang digelar Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kendal melalui program DBHCHT 2026 untuk mendukung kemandirian petani. (BUDI SETIAWAN/RADARSEMARANG.ID)
DILATIH: 30 Petani bawang di merah di Kecamatan Gemuh mengikuti praktik pembuatan PGPR dalam pelatihan pembenihan dan budidaya bawang merah yang digelar Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kendal melalui program DBHCHT 2026 untuk mendukung kemandirian petani. (BUDI SETIAWAN/RADARSEMARANG.ID)

 

RADARSEMARANG.ID, KENDAL – Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kendal membekali petani bawang merah dengan keterampilan membuat PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) sebagai salah satu upaya mendukung budidaya yang lebih mandiri dan mengurangi ketergantungan pada bahan kimia pertanian.

Kegiatan edukasi dan praktik bagi petani bawang merah pemula di Kecamatan Gemuh dilakukan dengan membuat dan memanfaatkan kelompok bakteri menguntungkan yang hidup di sekitar akar tanaman. 

PGPR sendiri merupakan kelompok bakteri menguntungkan yang hidup dan berkoloni di sekitar zona perakaran (rizosfer) tanaman. 

Bakteri ini berfungsi secara alami untuk mendukung kesuburan tanah serta memacu pertumbuhan dan kesehatan tanaman.

Pelatihan pembenihan bawang merah yang didanai melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) 2026 ini melibatkan 60 petani dari Kecamatan Gemuh dan Ringinarum.

Kepala UPTD Perbenihan Pertanian DPP Kabupaten Kendal Budi Heru Santoso, SP, mengatakan, praktik pembuatan PGPR diberikan agar petani memiliki keterampilan yang bisa diterapkan secara mandiri, baik di rumah maupun bersama kelompok tani.

“Harapannya, petani tidak terlalu bergantung pada pestisida atau obat-obatan kimia, tetapi bisa belajar membuat PGPR secara mandiri,” ujarnya.

Pelatihan selama dua hari tersebut diikuti masing-masing 30 petani dari Gemuh dan Ringinarum, dengan prioritas peserta petani pemula atau yang belum tergabung dalam asosiasi bawang merah.

Selain praktik pembuatan PGPR, peserta mendapatkan materi pembenihan dan teknik budidaya bawang merah untuk memperkuat pemahaman dari tahap persiapan hingga pemeliharaan tanaman.

Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kabupaten Kendal juga memberikan materi mengenai pengenalan hama dan penyakit tanaman serta pemahaman tentang penanganannya.

Budi berharap, materi yang diberikan dapat membantu petani mengenali gangguan tanaman lebih dini dan menentukan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan.

“Petani perlu memahami teknik budidaya sekaligus mengenali hama dan penyakit tanaman agar penanganannya lebih tepat,” paparnya.

Melalui pelatihan yang didukung DBHCHT Kabupaten Kendal 2026 ini, DPP Kendal mendorong peningkatan kapasitas petani sekaligus memperluas pengetahuan tentang alternatif pendukung budidaya bawang merah.

PGPR menjadi salah satu materi yang dikenalkan karena kelompok bakteri tersebut berpotensi mendukung pertumbuhan tanaman, meskipun efektivitasnya bergantung pada jenis mikroorganisme, cara aplikasi, dan kondisi budidaya.

DPP Kendal menegaskan, penggunaan PGPR bukan berarti menghilangkan seluruh kebutuhan pestisida maupun sarana pengendalian penyakit tanaman, sehingga penerapannya tetap harus mempertimbangkan kondisi tanaman dan rekomendasi teknis. (bud)

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
Pelatihan PGPR DHBCHT Kendal 2026 petani bawang merah DPP Kendal