RADARSEMARANG.ID – Mahasiswa furnitur dituntut menguasai teknologi digital dan sistem produksi otomatis karena industri kayu kini bergerak jauh melampaui pekerjaan manual.
Pesan itu disampaikan Direktur PT Felder Group Indonesia Ligorius Wijaya dalam Talent Camp Asia 2026 yang digelar di Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu (Polifurneka) Kendal, Senin (7/9).
Menurut Ligorius, perkembangan teknologi telah mengubah cara industri furnitur bekerja, mulai dari desain berbasis perangkat lunak hingga penggunaan mesin produksi yang semakin otomatis.
Ia menilai mahasiswa vokasi harus mulai mempersiapkan diri agar tidak hanya memiliki keterampilan mengolah material secara manual, tetapi juga mampu memahami teknologi yang digunakan industri modern.
“Kalau anda menjadi pekerja yang selamanya hanya memegang alat kerja manual, anda akan ketinggalan,” ujar Ligorius.
Ia kemudian mendorong mahasiswa untuk membayangkan perubahan peran tenaga kerja furnitur di masa depan yang semakin banyak berinteraksi dengan komputer dan sistem digital.
“Anda harus berpikir bagaimana menjadi carpenter di depan PC atau laptop,” tegasnya.
Ligorius menjelaskan, dalam sistem produksi modern, operator tidak selalu harus bersentuhan langsung dengan seluruh tahapan pengerjaan karena material dan mesin dapat bekerja berdasarkan sistem yang telah diprogram.
Perubahan tersebut membuat kemampuan mengoperasikan perangkat lunak, memahami sistem produksi, dan beradaptasi dengan teknologi menjadi kompetensi penting bagi tenaga kerja furnitur.
Talent Camp Asia 2026 pun menjadi salah satu wadah untuk memperkenalkan perubahan tersebut kepada generasi muda, khususnya mahasiswa pendidikan vokasi bidang furnitur dan pengolahan kayu.
Kegiatan yang digelar di Polifurneka Kendal itu diikuti 40 peserta yang terdiri atas 29 peserta internal dari dosen dan mahasiswa Polifurneka serta 11 peserta eksternal.
Direktur Polifurneka Kendal, Peni Shoffiyati, mengatakan, Talent Camp Asia tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang pembelajaran dan kolaborasi antara insan akademik dengan pihak eksternal.
“Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran bagi insan akademik Politeknik, tetapi juga menjadi wadah kolaborasi dan pertukaran pengetahuan dengan pihak eksternal,” kata Peni.
Menurut Peni, kegiatan tersebut juga menghadirkan perspektif internasional melalui keterlibatan tenaga ahli dan peserta dari sejumlah negara Asia.
Negara yang diproyeksikan terlibat antara lain Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Brunei Darussalam, dan India.
Regional Director CAD+T Austria Pty/Ltd William Dedella juga dijadwalkan memberikan pemahaman mengenai penggunaan software CAD+T dalam teknologi desain furnitur modern.
Peni menjelaskan, Polifurneka dipilih sebagai lokasi Talent Camp Asia karena memiliki sarana dan prasarana yang dinilai memadai untuk mengaplikasikan langsung program serta desain yang dibuat selama pelatihan.
Talent Camp Asia sebelumnya digelar pada 2023 dan 2024 di Pradita University Tangerang sebelum kemudian dilaksanakan di Polifurneka mulai 2025.
SDM Furnitur Harus Naik Kelas
Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Vokasi Industri BPSDMI Kementerian Perindustrian Wulan Aprilianti Permatasari mengatakan Talent Camp Asia 2026 menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas SDM industri furnitur agar lebih adaptif terhadap perubahan teknologi dan persaingan global.
Ia menegaskan teknologi harus berjalan beriringan dengan kreativitas dan kemampuan peserta dalam menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.
“Teknologi terbaru harus bersinergi dengan pikiran, ide, dan gagasan peserta untuk membuat suatu produk yang baru dan berbeda,” kata Wulan.
Menurutnya, kebutuhan industri furnitur saat ini tidak lagi sebatas keterampilan produksi karena tenaga kerja juga harus memahami desain, manufaktur berkelanjutan, teknologi, dan dinamika pasar global.
Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi industri furnitur di pasar internasional, tetapi peluang tersebut membutuhkan penguatan desain dan merek serta peningkatan efisiensi dan produktivitas melalui teknologi.
“Kita perlu menyiapkan SDM yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga adaptif, kreatif, mampu memanfaatkan teknologi serta memiliki wawasan terhadap perkembangan industri di tingkat global,” tegasnya.
Ligorius berharap Talent Camp Asia dapat menjadi salah satu sarana bagi generasi muda untuk memahami arah perubahan industri kayu sekaligus mempersiapkan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.
Menurutnya, penguasaan teknologi akan menjadi bagian penting dari perjalanan tenaga kerja furnitur ketika industri semakin mengandalkan otomatisasi dan sistem digital.
Talent Camp Asia 2026 juga mendapat dukungan dari berbagai mitra industri sebagai bentuk sinergi dalam pengembangan talenta dan industri furnitur.
Sebagai Gold Partner, kegiatan tersebut didukung PT BLUM Furniture Hardware Indonesia, PT Mowilex Indonesia, dan PT Hafele Indotama.
Dukungan juga diberikan PT Tangkas Cipta Optimal (TACO), PT Polychemie Asia Pacific Permai (PRESTO), PT Felder Group Indonesia, PT Sampoerna Kayoe, dan Hasston.
Keterlibatan berbagai mitra industri tersebut memperkuat kolaborasi antara pendidikan vokasi dan dunia industri dalam menyiapkan SDM furnitur yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri masa depan. (bud)
Editor : Baskoro Septiadi