Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pelabuhan Tanjung Emas Semarang Overload, Ekspor Jawa Tengah Terancam Seret

Budi Setiyawan • Kamis, 30 April 2026 | 19:24 WIB

 

WASWAS: Aktivitas bongkar muat Pelabuhan Tanjung Emas Semarang yang melambat membuat waktu tunggu kapal semakin panjang. Dalam sejumlah kasus, kapal harus mengantre hingga 5-7 hari untuk bisa bersandar. (BudiSetiyawan/RADARSEMARANG.ID)
WASWAS: Aktivitas bongkar muat Pelabuhan Tanjung Emas Semarang yang melambat membuat waktu tunggu kapal semakin panjang. Dalam sejumlah kasus, kapal harus mengantre hingga 5-7 hari untuk bisa bersandar. (BudiSetiyawan/RADARSEMARANG.ID)

 

RADARSEMARANG.ID, KENDAL—Kepadatan di Pelabuhan Tanjung Emas tak lagi sekadar antrean kapal.

Sejumlah pelaku industri di Jawa Tengah mulai melihatnya sebagai hambatan serius bagi arus ekspor nasional yang berpotensi menekan devisa.

Aktivitas bongkar muat yang melambat membuat waktu tunggu kapal semakin panjang. Dalam sejumlah kasus, kapal harus mengantre hingga 5-7 hari untuk bisa bersandar. 

Baca Juga: Modal Ambil Gambar Orang di Facebook, Dua Pemuda Ini Bawa Kabur Rp 235 Juta Milik Warga Semarang 

Kondisi ini dinilai mengganggu kelancaran rantai pasok industri, baik untuk bahan baku maupun distribusi produk jadi.

Presiden Direktur BTR, Wu Lei, mengatakan situasi tersebut sudah jauh berubah dibanding beberapa tahun lalu.

“Dulu kapal bisa bersandar setiap hari. Sekarang harus antre hingga hampir sepekan,” ujarnya, Kamis (29/4).

Keterlambatan ini berdampak langsung pada pasokan bahan baku industri, termasuk grafit untuk baterai litium-ion yang didatangkan dari Sulawesi. 

Akibatnya, jadwal produksi menjadi tidak menentu dan berpotensi mengganggu target output.

Di sisi lain, hambatan juga terjadi pada arus ekspor. Volume pengiriman yang semestinya bisa meningkat justru tertahan akibat keterbatasan kapasitas pelabuhan.

“Kalau proses di pelabuhan lancar, ekspor kami bisa naik dari 600 menjadi 800 kontainer per bulan,” kata Wu Lei.

Baca Juga: Tanggul Sungai Plumbon di Mangkang Kulon Jebol 50 Meter

Keluhan serupa disampaikan pelaku industri manufaktur lainnya. Antrean bongkar muat tidak hanya memperlambat distribusi, tetapi juga menambah biaya logistik yang harus ditanggung perusahaan.

Executive Vice President pabrik ban, Wu Yuejun, menyebut waktu tunggu kapal bisa mencapai lima hari meski bahan baku didatangkan dari berbagai negara.

“Bahan baku kami datang dari Amerika dan Vietnam, jadi keterlambatan ini sangat berpengaruh ke produksi,” ujarnya.

Perusahaan tersebut mencatat pengiriman ekspor sekitar 1.000 kontainer per bulan ke berbagai negara, termasuk Amerika dan Brasil. Namun, kepadatan pelabuhan membuat proses pengiriman keluar ikut tersendat hingga beberapa hari.

Tekanan terhadap sistem logistik diperkirakan akan meningkat pada pertengahan tahun, seiring lonjakan aktivitas industri. Pada periode Juni hingga September, pergerakan kontainer di Jawa Tengah dapat mencapai ratusan unit per hari.

General Manager Polygroup Manufaktur Indonesia, Nicholas Lau, menilai kondisi ini perlu segera diantisipasi.

“Kalau tidak ada penambahan kapasitas, hambatan logistik akan semakin besar ke depan,” katanya.

Selain kapasitas pelabuhan, persoalan juga muncul pada ketersediaan armada truk trailer serta pembatasan operasional angkutan barang di jalur tertentu. Kombinasi faktor ini membuat distribusi logistik semakin tidak efisien.

Para pelaku industri menilai persoalan ini sudah masuk kategori strategis karena berdampak langsung pada daya saing ekspor. 

Target pengiriman yang diproyeksikan mencapai hingga 3.000 kontainer dikhawatirkan sulit tercapai jika tidak ada perbaikan signifikan.

Mereka pun mendesak pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret untuk meningkatkan kapasitas pelabuhan maupun mempercepat pembangunan pelabuhan baru sebagai penopang aktivitas industri di Jawa Tengah.

Sementara itu, pemerintah daerah menyatakan telah memberikan rekomendasi pengembangan pelabuhan untuk mendukung kawasan industri berorientasi ekspor. Namun, realisasi pembangunan tetap menjadi kewenangan pemerintah pusat.

Dengan tren pertumbuhan industri yang terus meningkat, kebutuhan infrastruktur logistik dinilai semakin mendesak. Tanpa percepatan pembangunan, hambatan ekspor berisiko meluas dan berdampak pada kontribusi devisa nasional. (bud)

Editor : Baskoro Septiadi
#kek #industri #EKSPOR #Tanjung Emas #JAWA TENGAH