Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Dewan Soroti Anggaran Rp5 Miliar untuk Pengadaan Seragam Batik SD Negeri di Kendal

Budi Setiyawan • Jumat, 5 September 2025 | 00:11 WIB
Photo
Photo

RADARSEMARANG.ID, Kendal – Program pengadaan seragam batik senilai Rp5 miliar untuk siswa SD negeri di Kendal menuai sorotan tajam.

Komisi D DPRD Kendal bahkan sudah mengingatkan Pemkab agar menunda program ini, mengingat kondisi daerah sedang melakukan efisiensi anggaran.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Kendal, Sulistyo Ari Bowo, mengaku pihaknya sudah memberi masukan kepada Dinas Pendidikan. Namun, jawaban yang diterima justru menyebut program ini merupakan permintaan langsung Bupati Kendal.

“Kami sudah ingatkan, tapi Disdikbud menyampaikan bahwa ini permintaan Bupati. Prinsipnya sudah kami klarifikasi, seragam ini untuk identitas siswa Kendal. Tapi dengan efisiensi, tetap harus ada skala prioritas,” katanya.

Menurut Sulistyo, efisiensi anggaran memang mendahulukan kesehatan dan pendidikan. Namun di bidang pendidikan, program juga harus dipilih sesuai kebutuhan utama.

Soal hanya negeri yang mendapat, ia menyebut karena anggaran baru memungkinkan di sekolah negeri. Jika ingin melibatkan swasta, perlu regulasi yang jelas.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kendal, Ferinando Rad Bonay, menyebut ada 25 ribu siswa SD negeri yang akan menerima seragam.

Setiap anak mendapat satu setel senilai Rp200 ribu. Seragam sudah dalam bentuk jadi sehingga orang tua tidak perlu menanggung biaya jahit.

Seragam batik ini memiliki motif khas Kendal yang dirancang langsung oleh Bupati Dyah Kartika Permanasari.

Tahap pertama akan dibagikan kepada siswa kelas 2, 3, dan 4 mulai tahun ajaran baru 2025–2026.

“Kami ingin anak-anak menerima seragam yang bagus, nyaman, dan tahan lama,” kata Ferinando.

Namun, kebijakan ini langsung menuai pro dan kontra dari masyarakat.

Agus Fathudin, wali murid asal Kendal, kecewa karena anaknya yang bersekolah di MI tidak mendapat seragam.

“Kalau mau kasih seragam ya semua, jangan hanya negeri,” tegasnya.

Sementara Abdul Munir, warga Kaliwungu, menilai seragam batik bukan kebutuhan mendesak.

“Lebih baik anggaran dipakai membantu warga miskin. Selama ini tanpa batik pun tidak masalah,” ujarnya. (bud)

Editor : Baskoro Septiadi
#kendal #pengadaan #SD #seragam batik