RADARSEMARANG.ID, Semarang - Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, Sabtu (12/9) malam, dipenuhi kemeriahan pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026. Kegiatan bertajuk Menebar Cahaya Al-Qur'an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban ini akan berlangsung hingga 19 September 2026 mendatang.
MTQ resmi dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Pratikno bersama Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti dan sejumlah pimpinan lainnya. Pembukaan pun ditandai dengan pemukulan bedug.
Pembukaan MTQ Nasional XXXI ini terlihat semarak saat defile kafilah dari berbagai provinsi di Indonesia tampil. Mereka dipanggil satu per satu, yang dimulai dari Provinsi Aceh. Para kafilah ini tampil membawa identitas daerah masing-masing. Mereka berjalan menuju depan panggung, ada yang memakai pakaian adat, ada pula yang berseragam rapi.
Setelah itu, Kota Semarang pun menggema. Sebanyak 288 ribu orang secara bersama-sama menyanyikan mars MTQ. Mereka terdiri dari seluruh komponen masyarakat, mulai dari ASN hingga siswa jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK. Dari jumlah itu, 25 ribu orang datang langsung, dan sebagian bergabung secara luring.
Baca Juga: Ribuan Kafilah Padati Semarang, Wali Kota Agustina: Pawai Ta’aruf Jadi Panggung Kebersamaan
Pembukaan MTQ XXXI Tahun 2026 ini juga dihadiri jajaran pimpinan di pemerintah pusat, hingga Pimpinan Daerah di seluruh provinsi di Indonesia, dan bupati/wali kota se-Jateng.
Ketua Umum LPTQ Nasional Abu Rokhmad menyampaikan para peserta akan berlaga dalam delapan cabang lomba. Kompetisi terbagi menjadi 24 golongan dan 48 kategori musabaqah.
Pelaksanaan lomba berlangsung serentak di 12 venue yang tersebar di Kota Semarang. Selain itu, terdapat satu titik registrasi kafilah. Dengan demikian, total terdapat 13 titik operasional yang dikelola secara simultan.
"Malam ini Kota Semarang tampil sebagai titik temu ulama dan qori dan qoriah, hafiz dan hafizah terbaik bangsa yang datang dari seluruh penjuru negeri," katanya.
Kategori yang diperlombakan pada MTQ XXXI ini cukup beragam. Peserta berasal dari berbagai kelompok usia. Cabang yang dilombakan juga mencakup tilawah hingga tafsir dalam tiga bahasa. Selain itu, terdapat kategori hafalan mulai dari satu juz hingga 30 juz.
Sebab itu untuk menjaga kualitas penilaian, sebanyak 155 dewan hakim disiapkan. Mereka telah melalui tahapan penyiapan sesuai standar penyelenggaraan MTQ Nasional.
"Independensi, objektivitas dan profesionalitas dewan hakim menjadi variabel kunci yang kami jaga ketat agar hasil kompetisi tetap kredibel dan diterima oleh seluruh kafilah," ungkapnya.
Baca Juga: Memukau! Begini Kemeriahan Pawai Ta'aruf MTQ Nasional Jateng yang Kaya Keragaman Budaya
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, pelaksanaan MTQ Nasional XXXI menjadi momen bersejarah bagi Jawa Tengah. Sebab, setelah 47 tahun, ajang tersebut kembali digelar di provinsi ini.
Pihaknya berharap pelaksanaan MTQ di Jawa Tengah dapat membawa semangat kedamaian dan kebersamaan. Terlebih, para peserta dan kafilah datang dari berbagai daerah di Indonesia.
“MTQ ke-31 tahun 2026 merupakan momen yang bersejarah bagi Jawa Tengah karena hampir berpuluh-puluh tahun rentang kendali ini tidak pernah sampai di Pulau Jawa,” ujarnya.
Pada kesempatan itu pihaknya juga mengapresiasi Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti yang memimpin pelaksanaan nyanyian Mars MTQ secara bersama-sama. Kegiatan tersebut diikuti 288 ribu orang dan berhasil mencatatkan rekor MURI.
“Semarang menjadi saksi menyanyikan Mars MTQ masuk rekor MURI,” kata Luthfi.
Menurutnya, MTQ tidak sekadar menjadi ajang perlombaan membaca dan menghafal Alquran. Lebih dari itu, MTQ menjadi pesta rakyat yang mampu menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
“MTQ Musabaqah Tilawatil Quran ini tidak hanya merupakan lomba untuk membaca dan menghafal Alquran, tetapi di dalamnya mempunyai makna sebagai pesta rakyat yang menyatukan masyarakat di lintas agama maupun di lintas latar belakang,” kata Luthfi.
Sementara Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menegaskan, MTQ Nasional bukan sekadar ajang membaca dan menghafal Al-Qur'an. Nilai-nilainya harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, MTQ harus menjadi momentum untuk menghubungkan bacaan dengan tindakan dan hafalan dengan pengamalan.
“Musabaqah Tilawatil-Qur'an diharapkan mampu menjadi momentum untuk menyambungkan kembali bacaan dengan tindakan, hafalan dengan pengamalan serta pengetahuan dengan keteladanan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, persaingan hanya berlaku di arena. Di luar arena, seluruh peserta tetap bersaudara.
“Di arena MTQ boleh ada persaingan untuk mencapai prestasi terbaik. Namun, di luar arena kita semua adalah sahabat seperjuangan dalam menjaga Al-Qur'an dan mengabdi kepada Indonesia,” tegasnya.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Pratikno yang mewakili Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan pelaksanaan MTQ Nasional XXXI di Kota Semarang. Ia juga menyampaikan salam dan penghormatan Presiden kepada seluruh peserta MTQ.
“Bapak Presiden menyampaikan salam dan penghormatan kepada Bapak Ibu semua dan seluruh peserta MTQ. Bapak Presiden juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah menyelenggarakan kegiatan ini dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Pratikno mengatakan, MTQ Nasional menjadi ruang silaturahmi bagi seluruh masyarakat Indonesia. Meski datang membawa nama daerah masing-masing, seluruh peserta dinilai tetap berada dalam satu rumah bernama Indonesia.
“Memang Bapak Ibu membawa nama daerah, namun Bapak Ibu dan Saudara-saudara semuanya hadir dalam satu rumah bernama Indonesia. Perbedaan daerah, bahasa, tradisi, di gaya membaca Alquran adalah gaya membaca,” katanya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi