Musim Kemarau, ISPA dan Pneumonia Pada Balita Perlu Diwaspadai, 35 Balita Meninggal Karena Radang Paru-Paru

Khafifah Arini Putri • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 18:32 WIB
Kabid P2P Dinkes Jateng Heri Purnomo.
Kabid P2P Dinkes Jateng Heri Purnomo.

 

RADARSEMARANG.ID - Musim kemarau yang melanda Jawa Tengah (Jateng) membawa ancaman serius bagi kesehatan balita. Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan pneumonia perlu diwaspadai. 

Pneumonia ialah peradangan pada jaringan paru-paru. Khususnya kantung udara (alveolus), yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau jamur.

Data Dinas Kesehatan Jawa Tengah mencatat hingga Juli 2026 ada 33.314 kasus pneumonia pada balita. Dari jumlah itu, 35 balita meninggal dunia.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jateng Heri Purnomo mengatakan kasus ISPA cenderung meningkaat saat musim kemarau.

Sebab rentan adanya debu. Selain itu maraknya kebakaran juga memperburuk kualitas udara yang menjadi penyebab gangguan pernapasan.

Baca Juga: MTQ Nasional XXXI Semarang 2026 Digelar, Ternyata Ada 12 Cabang yang Dipertandingkan

"Di musim kemarau karena panas, jadi yang diwaspadai penyakit yang agak meningkat itu ISPA," kata Heri saat dikonfirmasi, Kamis (10/9).

Ia menjelaskan, kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, terutama bayi dan balita. Pneumonia pada kelompok usia tersebut bahkan dapat berujung pada kematian jika terlambat ditangani.

"Kalau balita terutama adalah pneumonianya (perlu diwaspadai). Karena pneumonia untuk balita dan bayi itu bisa menyebabkan kematian," jelasnya.

Data Dinkes Jateng mencatat, hingga Juli 2026 terdapat 33.314 kasus pneumonia pada balita. Kasus tertinggi terjadi pada Februari dengan 5.352 kasus.

Pada Januari tercatat 4.418 kasus. Kemudian Maret 5.122 kasus, April 5.200 kasus, Mei 4.637 kasus, Juni 4.571 kasus, dan Juli 4.014 kasus.

Dari seluruh kasus pneumonia tersebut, tercatat 35 balita meninggal dunia. Secara keseluruhan, kematian akibat pneumonia di Jateng mencapai 551 orang.

Rinciannya, 51 kematian terjadi pada anak, 296 remaja, 135 dewasa, dan 34 lansia. Sementara 35 lainnya merupakan balita.

Heri menegaskan, debu bukan penyebab utama pneumonia. Penyakit tersebut umumnya disebabkan bakteri. Namun, paparan debu dan asap dapat memperburuk kondisi penderita.

Baca Juga: Korban PHK Sulit Cari Kerja, Buruh Desak Batas Usia Kerja DIihapus

“Tapi pneumonia sebenarnya kan (penyebabnya) bakteri, tapi situasi udara dengan debu yang cukup banyak sebenarnya memperburuk situasi. Apalagi ditambah dengan beberapa ini (kasus) kebakaran di mana itu ada asapnya,” tegasnya.

Menurutnya, kasus pneumonia pada balita tahun ini mengalami sedikit peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, kenaikannya belum terlalu tajam. Pihaknya pun mengingatkan masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Terutama ketika berkendara menggunakan sepeda motor.

"Tetap kita waspadai, kita sarankan untuk pakai masker dalam kondisi seperti ini. Kalau keluar pakai motor harus pakai masker baiknya, karena debunya sangat banyak," bebernya.

Selain masker, masyarakat diminta menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Kebiasaan mencuci tangan juga perlu terus dilakukan.

Anak-anak juga harus dijauhkan dari orang yang sedang sakit. Terutama bayi yang memiliki daya tahan tubuh lebih rentan.

"Terus jaga PHBS, perilaku hidup sehar dan cuci tangan. Anak-anak harus dijaga dan tetap bersih. Kalau ada orang sakit maka dilarang mendekati anak-anak, terutama bayi," pungkasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
infeksi saluran pernapasan akut pneumonia MUSIM KEMARAU balita JAWA TENGAH