RADARSEMARANG.ID - Penyalahgunaan narkoba di Jawa Tengah (Jateng) masih marak. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah mencatat ada 195 ribu orang yang pernah menjadi penyalahguna narkoba pada 2019. Di sisi lain, tren penyalahgunaan pada anak dan remaja kini mengalami peningkatan.
"Jadi penyalahgunaan di Jawa Tengah itu kurang lebih ada 195.000 orang penyalahguna, jadi angka yang cukup lumayan," kata Kepala BNNP Jateng Agus Rohmat.
Ia menambahkan berdasarkan hasil penelitian, prevalensi penyalahgunaan narkoba pada kelompok anak dan remaja meningkat hingga dua persen secara nasional, termasuk di Jawa Tengah. Menurutnya usia 12 - 25 tahun menjadi kelompok paling rentan.
Menurutnya, di usia mereka merupakan fase pencarian jati diri, sehingga mudah dipengaruhi lingkungan dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Kondisi ini menjadi perhatian, sebab generasi muda merupakan calon pemimpin bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Baca Juga: Polisi Jaga Ketat Sidang Mantan Bupati Pati Sudewo di Pengadilan Tipikor Semarang
"Anak-anak usia 12 sampai 25 tahun ini adalah remaja yang sedang tumbuh, sedang mencari jati diri dan eksistensi diri. Mereka mudah terpengaruh lingkungan, selalu ingin tahu dan ingin coba-coba. Ini yang berbahaya," imbuhnya.
Menurutnya media sosial turut menjadi pintu masuk para remaja mengenal narkoba. Sebab, mereka bebas mengakses platform media sosial, hingga akhirnya mulai coba-coba menjadi pengguna.
"Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga sangat mempengaruhi anak-anak kita. Ada media sosial, ada platform digital, ada marketplace. Anak-anak bisa mempelajari, bisa terpengaruh dengan yang ada di media sosial tersebut," bebernya.
Sebab itu, BNN gencar memberikan literasi digital pada anak-anak. Selain itu orang tua juga turut mendapat edukasi agar bisa mengawasi anak-anaknya.
Lebih lanjut kata dia, selain pengaruh lingkungan digital, kondisi keluarga juga menjadi faktor penting. Agus menilai keluarga yang harmonis mampu menjadi benteng utama mencegah anak terjerumus penyalahgunaan narkoba.
"Keluarga merupakan fondasi utama pencegahan narkoba. Kalau keluarganya itu harmonis, ada keterbukaan, ada rasa kasih sayang kepada anaknya, anaknya kepada orang tuanya, dan tidak broken home, ini akan membuat anak menjadi ketahanan dirinya kuat," tuturnya.
Sebaliknya, konflik dalam keluarga dapat memengaruhi kondisi psikologis anak hingga membuat mereka mencari pelarian yang berujung pada penyalahgunaan narkoba.
"Kalau sudah orang tuanya sering cek-cok bahkan di depan anaknya, bahkan sampai broken home, ini akan mempengaruhi psikis anaknya sehingga anak ini nanti bisa lari untuk melakukan hal-hal tidak diinginkan bahkan sampai nanti dia memakai narkoba karena terpengaruh lingkungan, temannya dan lain-lain," imbuhnya.
Ia menambahkan modus peredaran narkoba kini berubah sangat cepat. Tidak hanya memanfaatkan media sosial dan pergaulan daring, tetapi juga pendekatan psikologis yang membuat anak muda merasa aman padahal sedang dijebak.
Transaksi banyak dilakukan melalui platform digital dengan sistem pembayaran digital dan metode tempel, sehingga sulit dideteksi. Karena itu, Agus menekankan pentingnya literasi digital.
"Perlu kita berikan edukasi kepada anak-anak dan juga orang tua supaya mengawasi anaknya, kemudian ada komunikasi terbuka dengan anaknya," tegasnya.
Pihaknya pun menjelaskan BNN telah mengungkap berbagai kasus dengan mengamankan 40 tersangka, menerbitkan 26 Laporan Kasus Narkotika (LKN), serta menyita barang bukti berupa 1.845,52 gram sabu, 8.227,81 gram ganja, 683 butir ekstasi, 89.794 butir obat-obatan terlarang, hingga tembakau sintetis dan liquid ganja sintetis. Data ini menunjukkan bahwa jaringan narkotika masih aktif menjadikan Jawa Tengah sebagai wilayah distribusi.
"Yang perlu kita waspadai saat ini adalah perubahan pola peredaran. Jika dulu transaksi banyak dilakukan secara tatap muka, sekarang pelaku memanfaatkan media sosial, aplikasi pesan instan, hingga sistem pembayaran digital dan metode tempel sehingga transaksi menjadi lebih sulit dideteksi," akunya.
Karena itu, pendekatan BNN tidak hanya mengedepankan penindakan, tetapi juga memperkuat pencegahan, pemberdayaan masyarakat, rehabilitasi, dan kolaborasi lintas sektor. Inilah semangat War on Drugs for Humanity, yaitu melindungi masyarakat sekaligus menyelamatkan generasi muda. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi