RADARSEMARANG.ID, Semarang - Sebanyak 1.565 kegiatan Gerakan Pangan Murah (GMP) telah digelar oleh Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan yang telah berjalan dari Januari-September 2025 tersebut menghasilkan omzet mencapai Rp37miliar.
Kegiatan GPM tersebut terselenggara melalui kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan Pemerintah Kabupaten/Kota, Bank Indonesia, BUMD seperti PT Jateng Agro Berdikari (JTAB) dan Bank Jateng, serta Bulog. Sebaran kegiatan itu sudah menjangkau di semua daerah di Jawa Tengah.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan, gerakan pangan murah dan fasilitasi distribusi pangan merupakan bentuk kehadiran negara dalam rangka mendukung keterjangkauan daya beli masyarakat. Ke depan, ia menyiapkan langkah jangka panjang untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.
Langkah tersebut ia sampaikan saat rapat koordinasi bidang pertanian, peternakan, dan ketahanan pangan pada Kamis, 18 September 2025. Di antaranya adalah menciptakan konektivitas produk-produk unggulan kabupaten/kota di Jawa Tengah. Ia ingin sebisa mungkin Jawa Tengah memenuhi kebutuhan bahan pokok penting dari hasil produksi sendiri.
"Terima kasih kepada dinas ketahanan pangan dan lainnya yang sudah membuat terobosan gerakan pangan murah," ungkapnya
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Dyah Lukisari mengatakan komiditas yang dijual pada kegiatan tersebut di antaranya beras, jagung, minyak, daging, dan bahan pokok lainnya yang harganya di atas harga acuan pembelian (HAP).
"ini adalah upaya kami dalam menjaga stabilisasi pasokan dan harga pangan,” jelasnya.
Sementara itu, Plt Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Sri Brotorini, menambahkan, GPM dilaksanakan di sejumlah tempat, termasuk dilaksanakan di pabrik-pabrik dengan sasaran para pekerja.
Selain GPM, lanjut dia, upaya Pemprov Jateng untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan adalah fasilitasi distribusi pangan. Program ini untuk mendukung kios pangan murah serta intervensi terhadap bahan pokok penting yang defisit di Jawa Tengah.
"Untuk kios pangan murah ada 428 unit, terdiri atas kios pangan masyarakat dan usulan dari Koperasi Desa/kelurahan (Kopdes) Merah Putih," jelasnya.
Khusus Kopdes Merah Putih, dari total 8.523 koperasi yang ada di Jawa Tengah, baru sekitar 64 koperasi yang sudah mengusulkan. Dari jumlah itu yang sudah terealisasi menggunakan dana fasilitasi distribusi pangan ada 46 koperasi.
"Kopdes masih sangat sedikit. Kami akan terus dorong agar Koperasi Merah Putih bisa eksis, nantinya didukung dana fasilitasi distribusi yang ada di Dinas Ketahanan Pangan," lanjutnya.(*)
Editor : Baskoro Septiadi