RADARSEMARANG.ID – Jika di Indonesia, ada kasus misteri kriminal tak terpecahkan seperti kasus dugaan pembunuhan Wayan Mirna Salihin oleh Jessica Kumala Wongso melalui kopi beracun Sianida, maka ada juga kasus yang serupa yaitu di Beijing, Tiongkok.
Korbannya adalah Zhu Ling, yang meninggal dunia di usia ke-50, pada Jumat (22/12/2023), setelah hampir 30 tahun menderita akibat diduga diracun Talium (Thallium).
Seperti diberitakan berbagai platform media berita, termasuk akun X (Twitter), China in Picture, @tongbingxue, memberitakan bahwa Zhu Ling, telah meninggal dunia pada usia ke-50, setelah kasus racun Talium yang menimpanya pada tahun 1994/1995.
Dilansir dari akun YouTube 'HelpZhuLingHuaRen', Zhu Ling adalah seorang mahasiswi tahun kedua di jurusan Kimia Fisika di Universitas Tsinghua, Beijing, Tiongkok pada 1994. Ia digambarkan oleh kawan-kawannya sebagai anak yang cerdas, berbakat, menarik dan juga mahir bermain musik.
Pada akhir 1994, di usianya yang ke-21, Zhu Ling mulai merasakan gejala aneh pada tubuhnya. Perutnya terasa sakit luar biasa, dan diikuti rambutnya mengalami kerontokan parah.
Setelah dirawat di Rumah Sakit di Beijing, ia berangsur membaik. Namun tak lama. Pada Maret 1995, ia kembali merasakan gejala yang sama, namun lebih parah dari sebelumnya.
Kali ini, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Bahkan Zhu Ling mengalami kelumpuhan pada wajah, kaki dan kehilangan kontrol otot mata. Zhu Ling bahkan tidak dapat bernapas sendiri, hingga harus dibantu alat pernapasan.
Li Shun-wei, salah seorang dokter di Rumah Sakit Peking Union Medical College Hospital (PUMCH), telah mendiagnosis kasus keracunan serupa, yang terjadi tahun 1960-an, dan menduga kuat bahwa Zhu Ling terpapar racun Talium.
Akan tetapi, Zhu Ling menyangkal bahwa dirinya pernah kontak dengan Talium di kampusnya, dan hal ini dikonfirmasi oleh pihak Universitas. Oleh karena itu, dokter yang merawat Zhu Ling mengesampingkan keracunan Talium sebagai penyebab potensial. Sebaliknya, Zhu Ling didiagnosis karena sindrom Guillain – Barre (sejenis penyakit autoimun).
Melihat kondisi Zhu Ling memburuk dengan cepat, Bei Zhi-cheng, mahasiswa Universitas Peking yang juga merupakan kawan Zhu Ling semasa SMA, berinisiatif membantu. Ia dan kawan lainnya memosting email “SOS” di sejumlah grup 'Usenet' Internet, pada 10 April 1995, untuk meminta bantuan diagnosis dari seluruh dunia.
Aksi Bei Zhi-cheng dan kawan-kawannya tersebut menjadi tonggak sejarah diagnosis jarak jauh melalui internet, khususnya di Tiongkok. Sekitar sepertiga dari 1.500 tanggapan lebih yang diterima Bei Zhi-cheng dan teman-temannya, menyimpulkan bahwa Zhu Ling keracunan Talium, dan obat penawar yang umum adalah Prussian Blue.
Prussian Blue adalah zat biru prusia yang biasa digunakan dalam industri untuk memproduksi cat dan tinta. Meski tidak benar-benar dapat disebut sebagai obat, namun ini efektif untuk mengeliminasi racun Talium.
Setelah diterapi dengan Prussian Blue, kemampuan bernapas Zhu Ling memang berangsur pulih, namun masih belum dapat berbicara. Zhu Ling mengalami kerusakan saraf permanen yang serius.
Sebagian besar tubuh Zhu Ling lumpuh, dan hampir buta. Bahkan kondisi mentalnya juga menurun drastis. Selain itu, ia juga tertular hepatitis C dari transfusi darah yang tercemar.
Dr. Chen Zhen-yang, ahli toksikologi di Jerman yang biasa menangani penyakit akibat kecelakaan kerja, melakukan tes racun pada Zhu Ling. Ia menyebut bahwa konsentrasi Talium di tubuh Zhu Ling adalah 10.000 kali lebih tinggi dibanding konsentrasi talium di tubuh orang normal.
Tak hanya itu, hasil tes juga menunjukkan bahwa Zhu Ling diracun sebanyak 2 kali! Hal ini disebabkan, ada dua puncak konsentrasi Talium dalam tubuh Zhu Ling, yang mengindikasikan bahwa Zhu ling diracun dua kali.
Menduga putrinya diracun Talium, orangtua Zhu Ling membuat laporan kepolisian. Usai dilakukan penyelidikan, tersangka utama yang berpotensi meracuni Zhu Ling adalah Sun Wei yang merupakan teman sekelas sekaligus teman sekamar Zhu Ling di Universitas Tsinghua.
Universitas Tsinghua juga mengatakan Sun Wei adalah satu-satunya mahasiswa yang memiliki akses resmi ke senyawa Talium di antara siswa yang memiliki hubungan dekat dengan Zhu Ling. Akan tetapi Sun Wei membantah semua itu, dan pada tahun 1998, ia dibebaskan dari tuduhan, sebab tak cukup bukti.
Publik menduga, bebasnya Sun Wei dari tuduhan disebabkan dirinya memiliki kekerabatan dekat dengan tokoh-tokoh politik penting di Tiongkok. Kakek Sun Wei adalah Sun Yue-qi, anggota Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok, dan sepupu pertamanya, Sun Fu-ling adalah wakil walikota Beijing dari tahun 1983 hingga 1993 dan Wakil Ketua Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok dari tahun 1998 hingga 2003.
Zhu Ling tidak pernah pulih sejak saat itu, kemampuan inderanya terdegradasi secara permanen, dan selalu berada dalam pengawasan orang tuanya yang sudah lansia selama 24 jam penuh.
Pada 18 November 2023, Zhu Ling menderita serangan tumor otak, demam dan mengalami koma. Dia meninggal pada 22 Desember 2023, pada usia 50 tahun. Kasusnya tidak pernah terpecahkan hingga akhir hayatnya.
Kisah Zhu Ling ini mendapat atensi dunia, sekaligus mengajarkan kepada kita agar selalu waspada kepada siapapun, di manapun dan kapanpun, dan juga bijaksana atas segala hal yang kita miliki yang sekiranya berpotensi menimbulkan kedengkian orang lain.
Editor : Baskoro Septiadi