RADARSEMARANG.ID, JEDDAH-Proses haji seluruh Jemaah haji Indonesia ditetapkan pemerintah dengan haji tamatu’. Yakni haji yang mendahulukan umrah wajib, baru melaksanakan ibadah haji. Bagi pelaksana haji tamatu’ ini, maka wajib membayar dam (denda) dengan menyembelih satu ekor kambing di tanah suci Makkah.
Selama ini, proses pembayaran dam dikelola secara personal oleh beberapa Lembaga di Makkah Arab Saudi. Namun mulai tahun ini, Kementerian Agama (Kemenag) RI bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) melakukan inovasi mengelola sendiri pembayaran dam. Namun uji coba dulu di tingkat Petugas Pelaksana Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.
Selain mengelola dam, juga menerima kambing untuk kurban pada saat perayaan Hari raya Idul Adha 1444 H/2023 M di tanah suci. Bersyukur, uji coba tersebut berjalan sukses.
Pada pelaksanaan haji 2023 ini, berhasil terkumpul 3.166 ekor kambing. Bahkan ada 443 jemaah haji yang turut serta, meski belum dianjurkan. Jenis kambingnya yang dipilih yang paling mahal Tuyus Barbari, sehingga dagingnya tanpa lemak.
Kambing sebanyak itu sudah dalam proses penyembelihan, kini dalam proses pengemasan ke dalam kardus berukuran 3,5 kg. “Diprediksi mencapai 60 ribu kardus lebih,” kata kata Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah Petugas Pelaksana Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi kepada Tim Media Centre Haji (MCH) Arab Saudi.
Setelah itu dimasukkan ke dalam freezer lagi agar aman dari bakteri. Butuh 3 hari masa penyimpanan. “Setelahnya akan langsung diambil eksportir untuk dikirim ke Indonesia. Proses pengiriman dari Jeddah ke Indonesia butuh waktu selama 12 hari,” katanya.
Rencananya, daging tersebut akan didistribusikan kepada fuqoro dan masakin di Indonesia, terutamma di daerah tertinggal dan terluar. “Ini merupakan inovasi terbaru dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Inovasi terbaru ini dalam rangka memberikan nilai manfaat sosial,” jelanya.
Selama ini, daging-daging dam dan kurban Hari Raya Idul Adha manfaatnya untuk individu, personal, spiritual. Tapi tahun ini yang berhaji bisa memberikan manfaat sosial horizontal yang manfaatnya dirasakan fakir miskin. Juga dalam rangka menyukseskan program pemerintah penuntasan stunting.
Dokumen-dokumen udah disiapkan. Termasuk sertifikat yang diminta pihak eksportir. Terkait karantina, pihak KHTI memantau dan memastikan dagingnya sehat dan layak untuk dikirim ke Indonesia. Dengan begitu, izin bisa dikeluarkan.
Distribusi di Indonesia dalam bentuk makanan siap saji. Karena itu, dari RPH Alokishia akan diterima PT Hati Barokah Investama kemudian diberikan kepada PT Halal Globalindo Utama lalu diberikan ke PT Halalan Thoyiban untuk diolah. Kemudian di-packing ke dalam bentuk kantung-kantung vakum, berupa makanan jadi, selanjutnya dikirim ke fakir miskin.
Rencananya langsung dikirim setelah beres pemotongan dan pendinginan kembali. Ditargetkan akhir Agustus sudah beres pengolahan semua di Indonesia. Sehingga awal September sudah bisa didistribusikan.
Pihaknya optimistis inovasi ini bermanfaat bagi kemasalahatan masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dukungan dari semua pihak. Tahun depan akan membuat kebijakan baru, bagaimana agar jemaah haji Indonesia bisa berpartisipasi ikut program bayar dam secara resmi dan dikelola oleh Baznas dan dibagikan ke mustahiq. “Berdasarkan hitungan kami saat ini saja, mencapai 60 ribu kantung. Baznas juga sudah punya data mustahiq,” jelasnya.
Presdir PT Halalan Globalindo Utama, Fitriani Mamonto menambahkan, daging dam tersebut akan pihaknya bawa ke pabrik di Solo, ukurannya 150 gram per kantung. Nanti setelah matang dan dikemas dalam kantung, akan dilihat apa benar jumlahnya segitu. “Mudah-mudahan bisa lebih, karena pengolahannya daging saja tanpa tulang,” katanya.
Menurutnya, tulangnya memang tidak ikut diproduksi. Hanya dagingnya saja. Satu ekor kambing, diprediksi 3-4 kg daging saja. Rencananya akan dimasak rendang, maka 1 ekor kambing bisa dijadikan 20 kantung. “Satu porsi daging siap santap ini, untuk satu orang. Akan dibagikan ke mustahiq dan untuk pengentasan kemiskinan ekstrim,” jelanya.
Dalam 1 rumah akan dilihat datanya. Kalau jumlah anggota keluarganya 2-6 orang, akan dibagikan 2-3 karton. Mudah-mudahan mencukupi untuk beberapa kota di Indonesia. “Alhamdulillah kambingnya tidak ada lemaknya. Dalam pengemasan pouch (kantong), kami punya teknologi yang tidak memakai pengawet. Bisa divakum, sehingga dalam satu tahun harus dihabiskan,” katanya.
Pihaknya berencana melakukan launching awal September dengan menghadirkan Presiden Joko Widodo. “Makanan siap saji ini juga bisa menjadi inovasi untuk bantuan darurat, misal saat bencana alam. Bisa jadi pengentasan stunting tanpa membebankan APBN lebih berat,” jelasnya.
Baginya inovasi tersebut sangat sangat luar biasa. Selama ini, pihaknya hanya mereka-reka apa bisa jalan atau tidak. “Alhamdulillah dengan adanya kerja sama dan berkordinasi dengan pihak Baznas, bisa saling bersinergi. Baznas juga selalu berkooordinasi dengan pihak Dirjen Kemenag,” jelasnya. (ida)
Editor : Ida Nor LaylaSumber : Kemenag