RADARSEMARANG.ID - Jagat pahlawan super kembali bergetar, namun kali ini bukan oleh tameng, jubah, atau dewi perang.
Marvel Studios melangkah ke jalur tak biasa dengan menghadirkan Wonder Man, seri spin-off MCU yang dijadwalkan tayang perdana 27 Januari 2026 di platform streaming.
Judulnya memang terdengar seperti “saudara jauh” Wonder Woman, tetapi isinya justru bergerak ke arah yang jauh lebih absurd, meta, dan jenaka.
Wonder Man bukan kisah superhero konvensional. Ia adalah cerita tentang Simon Williams, seorang aktor Hollywood sekaligus stuntman, yang secara ironis mendapatkan kekuatan super justru saat hidupnya berkutat pada dunia audisi dan kamera.
Ketika industri film mencoba menciptakan ulang sosok pahlawan super bernama Wonder Man, Simon malah menyadari satu fakta ganjil: dialah Wonder Man yang sesungguhnya.
Peran Simon Williams diperankan oleh Yahya Abdul-Mateen II, aktor pemenang Emmy yang sebelumnya dikenal lewat Aquaman dan Watchmen.
Dalam seri ini, Yahya tampil sebagai sosok yang terjepit di dua dunia—realitas aktor yang mencari peran, dan kenyataan baru sebagai manusia berkekuatan super. Konfliknya bukan hanya melawan musuh, tetapi juga egonya sendiri.
Seri ini dikembangkan oleh Destin Daniel Cretton, sutradara Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings, yang kali ini memilih pendekatan berbeda: superhero sebagai satire industri film.
Wonder Man digambarkan sebagai cermin retak Marvel—menertawakan mitos kepahlawanan, proses casting, dan obsesi Hollywood terhadap reboot.
Yang membuat seri ini semakin menarik adalah kembalinya Ben Kingsley sebagai Trevor Slattery, aktor palsu Mandarin dari Iron Man 3. Kehadirannya mempertebal nuansa meta—tentang aktor, peran, dan kebohongan yang justru terasa jujur.
Deretan pemain lain seperti Lauren Glazier, Demetrius Grosse, Byron Bowers, hingga Zlatko Burić sebagai sutradara eksentrik Von Kovak, menambah lapisan komedi absurd dalam cerita.
Baca Juga: Bangun Tidur Dunia Sudah Tenggelam, Film The Great Flood Bikin Merinding
Trailer terbaru menampilkan suasana yang tak biasa untuk standar MCU: ringan, aneh, nyeleneh, bahkan terasa seperti parodi yang sadar diri. Pertanyaan-pertanyaan dibiarkan menggantung—apa sebenarnya kekuatan Wonder Man? Mengapa dunia tak menyadarinya sejak awal? Dan apa yang terjadi jika seorang superhero justru sibuk mengejar peran utama di serial tentang dirinya sendiri?
Berbeda dari DC yang mengandalkan mitologi dan keseriusan Wonder Woman, Marvel melalui Wonder Man memilih tertawa pada dirinya sendiri. Ini bukan kisah penyelamatan dunia semata, melainkan perjalanan identitas, absurditas ketenaran, dan kelelahan menjadi “ikon”.
Wonder Man tampak seperti eksperimen berani Marvel—tidak terlalu gelap, tidak terlalu heroik, tapi cukup cerdas untuk membuat penonton bertanya: apakah ini superhero, atau sindiran paling jujur tentang industri superhero itu sendiri?
Jawabannya akan terungkap Januari 2026. Dan mungkin, justru di balik kelucuannya, Wonder Man menyimpan kejutan paling manusiawi yang pernah dimiliki MCU.(han)
Editor : Baskoro Septiadi