Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Bangun Tidur Dunia Sudah Tenggelam, Film The Great Flood Bikin Merinding

Lutfi Hanafi • Senin, 22 Desember 2025 | 20:05 WIB

BANJIR BANDANG - Salah satu adegan banjir bandang di Film The Great Flood yang menenggelamkan gedung-gedung tinggi di Soul Korea.
BANJIR BANDANG - Salah satu adegan banjir bandang di Film The Great Flood yang menenggelamkan gedung-gedung tinggi di Soul Korea.


RADARSEMARANG.ID - Bayangkan terbangun dari tidur dan mendapati dunia yang dikenal semalam telah berubah menjadi lautan luas. Itulah pengalaman mencekam yang ditawarkan film The Great Flood, sebuah film fiksi ilmiah bencana asal Korea Selatan yang dirilis secara global di Netflix pada 19 Desember 2025.

Film ini disutradarai Kim Byung-woo dan menjadi salah satu tontonan bencana paling ambisius dari Asia, menggabungkan kehancuran global, drama emosional, dan refleksi mendalam tentang teknologi serta kemanusiaan.

Cerita The Great Flood bermula dari sebuah peristiwa kosmik tak terduga, ketika asteroid menghantam Bumi dan memicu pencairan es Antarktika secara masif. Dampaknya, permukaan air laut naik dengan cepat dan menenggelamkan hampir seluruh wilayah daratan di planet ini.

Kota-kota besar luluh lantak, termasuk Seoul, yang digambarkan perlahan berubah menjadi kubangan air raksasa, menyisakan lantai-lantai atas gedung pencakar langit sebagai satu-satunya tempat berlindung manusia.

Seiring perjalanan mereka menembus lantai-lantai gedung yang terendam, The Great Flood mulai menghadirkan lapisan cerita yang lebih kompleks. Terungkap bahwa sebagian peristiwa yang dialami An-na mungkin bukan sepenuhnya realitas fisik, melainkan bagian dari simulasi kecerdasan buatan yang dirancang untuk menguji kemampuan AI dalam memahami emosi manusia, terutama ikatan antara ibu dan anak. Narasi ini menggeser film dari bencana visual menuju refleksi filosofis tentang realitas, kesadaran, dan batas antara manusia dan mesin.

Pendekatan cerita yang menggunakan simulasi berulang, konflik batin, serta trauma emosional membuat film ini berbeda dari film bencana konvensional. The Great Flood tidak hanya menampilkan air bah dan kehancuran kota, tetapi juga menyoroti rapuhnya psikologis manusia ketika teknologi, yang seharusnya menjadi penyelamat, justru menjadi alat pengujian ekstrem terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Dari sisi produksi, film ini digarap dengan skala besar. Proses syuting berlangsung sejak Juli 2022 hingga Januari 2023, dengan penggunaan set vertikal bertingkat dan kombinasi efek visual CGI serta tangki air raksasa untuk menciptakan kesan realistis kota yang tenggelam. Film ini juga sempat diputar perdana di Busan International Film Festival ke-30 sebelum akhirnya tayang untuk penonton global melalui Netflix.

Dengan durasi sekitar 108 menit, The Great Flood memadukan genre bencana, fiksi ilmiah, drama emosional, serta aksi bertahan hidup. Film ini dibintangi Kim Da-mi, Park Hae-soo, dan Kwon Eun-seong, serta tersedia di Netflix lengkap dengan subtitle Bahasa Indonesia, termasuk bagi penonton di Indonesia.

Lebih dari sekadar film tentang banjir besar, The Great Flood menghadirkan pertanyaan besar tentang masa depan manusia di tengah krisis global. Saat dunia tenggelam dan teknologi diuji, film ini mengajak penonton merenungkan satu hal: apakah yang benar-benar menyelamatkan manusia adalah kecerdasan buatan, atau justru emosi dan ikatan yang tak bisa ditiru oleh mesin.(han)

Editor : Baskoro Septiadi
#banjirbandang #antartika #film the great flood menceritakan tentang apa #Soul #dunia #meteor #Netfliix #film the great flood #korea selatan