Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Usai Dirilis, Film Dokumenter Dirty Vote Ramai Disorot Publik, Ternyata Begini Isinya

Aris Hariyanto • Senin, 12 Februari 2024 | 12:17 WIB
Film dokumenter Dirty Vote ramai disorot publik setelah dirilis pada Minggu (11/2).
Film dokumenter Dirty Vote ramai disorot publik setelah dirilis pada Minggu (11/2).

RADARSEMARANG.ID - Film dokumenter Dirty Vote saat ini ramai menjadi perbincangan publik di berbagai media sosial usai dirilis pada Minggu (11/2).

Melalui akun YouTube Dirty Vote, film dokumenter ini disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono, seorang jurnalis dan aktivis yang dikenal kritis terhadap pemerintahan saat ini.

Terdapat tiga ahli hukum tata negara dalam pembuatan film dokumenter Dirty Vote, yakni Bivitri Susanti, Feri Amsari, dan Zainal Arifin Mochtar.

Mereka diketahui juga aktif terlibat dalam gerakan antikorupsi dan advokasi hak asasi manusia selama ini.

Film Dirty Vote merupakan sebuah film dokumenter eksplanatori, yang berisi penjelasan dan argumentasi dari ketiga ahli hukum tersebut berdasarkan fakta dan data yang ada.

Meski demikian, film Dirty Vote juga dilengkapi dengan berbagai rekaman visual, audio, dan dokumen yang mendukung terkait berbagai klaim yang disampaikan.

Tujuan film Dirty Vote dikabarkan untuk mengedukasi publik tentang betapa rusaknya demokrasi yang sudah terjadi di Indonesia.

Selain itu, film ini menjelaskan tentang politisi yang mempermainkan publik hanya untuk memenangkan kepentingan mereka.

Menurut Bivitri, film dokumenter Dirty Vote berisi tentang sebuah rekaman sejarah terkait rusaknya demokrasi negara ini.

Kerusakan tersebut atas kekuasaan yang disalahgunakan secara terbuka oleh orang-orang terpilih melalui demokrasi itu sendiri.

Selanjutnya, terdapat dua hal yang diceritakan dalam film dokumenter Dirty Vote ini.

Pertama, film dokumenter ini membahas tentang pentingnya memahami demokrasi bukan hanya sebatas pelaksanaan pemilu, tetapi juga bagaimana pemilu itu sendiri dilakukan.

Tidak hanya hasil penghitungan suara yang penting, tetapi juga penting untuk memastikan bahwa seluruh proses pemilu dilakukan dengan adil dan sesuai dengan nilai-nilai konstitusi.

"Kedua, tentang kekuasaan yang disalahgunakan karena nepotisme yang haram hukumnya dalam negara hukum yang demokratis,” ungkap Bivitri.

Hal tersebut menurut mereka dapat merusak sistem check and balance yang seharusnya terjaga, agar tidak ada penyalahgunaan kekuasaan oleh penguasa.

Dalam film Dirty Vote, Feri Amsari menyatakan bahwa manipulasi data dari hasil pemilu merupakan tindakan kriminal yang merampas hak konstitusional rakyat untuk memilih pemimpin mereka.

Sedangkan menurut Zainal Arifin Mochtar, film Dirty Vote menjelaskan tentang pelanggaran hukum dan hak asasi manusia

Menurutnya, hal tersebut adalah sebuah tindakan yang tidak bermoral dan tidak beradab.

Selanjutnya akan menunjukkan betapa rendahnya nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan yang dijunjung oleh para pelaku kecurangan.

Di sisi lain menyebutkan, film Dirty Vote adalah sebuah film dokumenter yang mengungkap dugaan kecurangan Pemilu 2024 di Indonesia.

Film dokumenter Dirty Vote diketahui telah menimbulkan berbagai tanggapan dari warganet di media sosial.

Editor : Baskoro Septiadi
#film dokumenter #Pemilu 2024 #Dirty Vote #VIRAL