Mengharap Ridha Allah dari Sapu dan Pel, Begini Kisah Komunitas Resik-Resik Masjid Semarang

Ida Fadilah • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 13:31 WIB

 

Komunitas Resik-Resik Masjid saat beraksi di Masjid Phapros Semarang Al-Ikhlas, Jumat (4/9/2026). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Komunitas Resik-Resik Masjid saat beraksi di Masjid Phapros Semarang Al-Ikhlas, Jumat (4/9/2026). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Hari Jumat pagi, bagi sebagian orang mungkin menjadi waktu untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas selama sepekan.

Namun, bagi komunitas Resik Resik Masjid (RRM), pagi justru menjadi momentum untuk kembali menghidupkan masjid.

Kali ini giliran Masjid Phapros Al Ikhlas Semarang, Simongan, Semarang Barat yang menjadi lokasi bersih masjid.

Dengan membawa peralatan kebersihan, mereka mendatangi masjid. 17 orang hadir bersiap resik-resik. Mereka sudah di bagi tugas.

Ada yang membersihkan karpet, mengelap kaca, merapikan kipas dan pendingin ruangan, menyapu halaman, mengepel lantai, hingga membersihkan toilet dan tempat wudu.

Baca Juga: Anak Pintar Tapi Malas Belajar? Jangan Langsung Dimarahi, Ini yang Perlu Dipahami Orang Tua

Bagi komunitas yang telah berjalan selama sembilan tahun itu, aktivitas tersebut bukan sekadar pekerjaan bersih-bersih.

RRM menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Ketua RRM Jawa Tengah, Idris Julianto, mengatakan komunitas tersebut kini telah berkembang di 27 kota/kabupaten di Jawa Tengah. RRM juga berencana membuka jaringan baru di wilayah Cilacap Barat pada akhir September mendatang.

“Kami berangkat dari bagaimana mencari ridha Allah, membersihkan diri, mendekatkan diri kepada Allah. Kami ingin memberikan sesuatu yang manfaat langsung kepada jamaah, baik muslim maupun nonmuslim yang hadir di kawasan masjid,” kata Idris.

Menariknya, anggota RRM tidak seluruhnya merupakan marbot masjid. Komunitas itu juga diisi para pensiunan, pengusaha, hingga masyarakat dari berbagai latar belakang.

Saat ini, sekitar 800 anggota tercatat aktif mengikuti kegiatan RRM di Jawa Tengah. Jumlah tersebut dapat bertambah menjadi lebih dari 1.000 orang ketika komunitas menggelar kegiatan tahunan RRM Akbar.

Semangat berbagi tersebut juga menjadi napas utama RRM. Setiap Jumat, kegiatan bersih-bersih dilakukan di berbagai wilayah. Dalam satu bulan, kegiatan dapat berlangsung sedikitnya empat kali, dengan lokasi yang berganti-ganti.

Baca Juga: Honda City Hatchback 2021 vs Suzuki Baleno 2021, Performa Beda, Harga Bekas Mulai Segini

Sebelum kegiatan, tim survei lebih dulu mendatangi masjid dan berkoordinasi dengan takmir. Jadwal biasanya disusun hingga tiga bulan ke depan sehingga setiap tim mengetahui masjid yang akan menjadi lokasi aksi.

Anggota Komunitas Resik-Resik Masjid saat membersihkan Masjid Phapros Semarang Al-Ikhlas, Jumat (4/9/2026). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Anggota Komunitas Resik-Resik Masjid saat membersihkan Masjid Phapros Semarang Al-Ikhlas, Jumat (4/9/2026). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sekitar pukul 07.00 WIB, anggota mulai bekerja. Dua-tiga jam kemudian, pekerjaan utama biasanya telah selesai. Setelah itu dilakukan evaluasi untuk melihat bagian yang masih perlu dibersihkan atau diperbaiki.

Selain membersihkan masjid, RRM juga memiliki aksi sosial lain. Salah satunya melalui kegiatan donor darah yang dikemas dengan nama OBABA, Aksi Cepat Donor Darah.

Donor darah dilakukan dengan menggandeng takmir masjid, masyarakat sekitar, serta unit transfusi darah dan PMI. Jamaah yang datang ke masjid sekaligus diajak berpartisipasi membantu memenuhi kebutuhan darah. Biasanya juga bekerjasama dengan RSUP Dr Kariadi.

Bagi RRM, masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga dapat menjadi pusat kegiatan sosial yang memberikan manfaat lebih luas bagi lingkungan sekitar.

Untuk mendukung kegiatan, anggota juga memiliki mekanisme pengumpulan dana secara mandiri. Saat berkumpul, mereka menyisihkan sebagian rezeki melalui kotak amal. Dana tersebut digunakan untuk membeli peralatan kebersihan, selain berasal dari donatur.

RRM juga menjalin kerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia serta sejumlah instansi dan organisasi lainnya.

Ke depan, Idris mengatakan tantangan komunitas bukan hanya memperluas jaringan, tetapi juga memberikan edukasi kepada para marbot.

Menurutnya, masih banyak masjid yang hanya memiliki satu marbot, sementara tanggung jawab yang harus dipikul sangat besar dan imbalan yang diterima tidak selalu sebanding.

Karena itu, RRM ingin mendorong takmir agar tidak menyerahkan seluruh persoalan kebersihan kepada marbot.

“Ke depannya bagaimana takmir masjid mengoptimalkan remaja masjid, jamaah masjid, marbot masjid dan masyarakat sekitarnya untuk bisa bersih-bersih,” kata Idris.

Salah satu anggota yang merasakan langsung manfaat bergabung dengan RRM adalah Edi Purwanto. Setelah pensiun dari pekerjaan swasta di Pelabuhan Tanjung Mas, pria 63 tahun itu sempat merasa hari-harinya akan banyak dihabiskan di rumah tanpa aktivitas.

Awalnya, ia bahkan tidak langsung tertarik ketika diajak bergabung. Namun, setelah akhirnya memutuskan ikut, pandangannya berubah.

“Awalnya saya diajak RRM, tapi saya belum begitu tertarik. Suatu saat hati saya terketuk, kok saya harus ikut. Ternyata setelah masuk di dalamnya menyenangkan bagi saya, ada berkah,” ujar Edi.

Hampir dua tahun bergabung, Edi justru merasa menemukan aktivitas yang cocok dengan dirinya. Kebiasaannya menjaga kebersihan di rumah ternyata menemukan ruang yang lebih luas ketika ia bergabung dengan RRM.

Sebagai pensiunan, ia tidak ingin waktunya habis tanpa kegiatan. Bersama RRM, ia bisa tetap aktif sekaligus menjalankan aktivitas yang menurutnya memberikan ketenangan batin.

“Merasa nyaman, semakin mendekatkan diri kepada Allah. Di usia yang sudah senja ini, saya bisa mengisi waktu dengan kegiatan yang mendapatkan pahala,” tuturnya.

Edi juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan lainnya. Ia menjadi takmir di Masjid Nurul Ulum, Pucang Gading, dan mengikuti sejumlah kegiatan positif lain.

Dari satu masjid ke masjid lainnya, Edi pun mendapatkan pengalaman yang lebih dari sekadar aktivitas kebersihan. Ia bertemu dengan orang-orang baru dan merasakan kehangatan sebuah keluarga dalam komunitas.

Banyumanik, Watu Gong, Mranggen, Plogosari hingga sejumlah wilayah lain pernah menjadi lokasi yang didatanginya bersama RRM.

“Kalau sudah kumpul dengan teman-teman, walaupun usia semakin senja, kesenangan itu selalu ada. Selalu timbul dari teman-teman, semoga mendapat pahala juga,” katanya.

Bagi Edi, keberadaan RRM juga menjadi ruang untuk berbagi dan berbuat sesuatu yang bermanfaat. Ia meyakini kebaikan yang dilakukan tidak selalu langsung terlihat hasilnya.

Menurut dia, berbagai kemudahan yang datang dalam kehidupan terkadang terasa sebagai berkah yang sulit dijelaskan.

“Kalau saya pribadi merasakan, misalnya pekerjaan anak saya lancar itu menurut saya berkah. Meski tidak diterima saya langsung tapi bisa dirasakan orang sekitar saya,” ujarnya.

Bagi Edi, setiap Jumat yang dihabiskan bersama komunitas bukan lagi sekadar mengisi waktu setelah pensiun. Ada ketenangan, persaudaraan, dan kesempatan untuk terus bermanfaat.

“Saya akan berusaha mencari yang bisa bermanfaat untuk diri saya, keluarga saya. Itu yang terbaik untuk semua,” ujarnya.

Dari sapu, pel dan masjid yang kembali bersih, ia menuturkan RRM ingin menanamkan pesan sederhana yakni merawat rumah ibadah adalah tanggung jawab bersama. Mereka juga mengusu

ng tagline "RRM, Khusyuk Salate, Mulyo Uripe, Alhamdulillah". (ifa)

Editor : Baskoro Septiadi
Komunitas Resik-Resik Masjid masjid Semarang kegiatan sosial masjid Jumat Berkah Bersih-Bersih Masjid