Setahun Menanti, Kini Shayna-Shazia Bisa Berbaring Terpisah, Kembar Siam Asal Jepara Berhasil Dipisahkan

Ida Fadilah • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 19:55 WIB
Kondisi dua bayi kembar siam asal Jepara yang berhasil dipisahkan melalui operasi di RSUP Dr Kariadi, Jumat (21/8/2026). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Kondisi dua bayi kembar siam asal Jepara yang berhasil dipisahkan melalui operasi di RSUP Dr Kariadi, Jumat (21/8/2026). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Dua bayi kembar siam asal Jepara mendapat berkah. Yang semula kedua badan menyatu, kini telah terpisah. Hal itu berkat operasi yang berhasil dilakukan di RSUP Dr. Kariadi.

Kedua anak tersebut Shayna Yumna Arcilla dan Shazia Yumna Arasely. Saat di temui di rumah sakit, anak usia 1,5 tahun itu tengah bersiap kembali ke Jepara.

Kedua putri dari Solihul Huda dan Rubianti itu tiduran di masing-masing bangsal mengenakan selimut biru. Bak pinang dibelah dua, baik baju hingga gaya rambut kucirnya juga sama.

Mereka juga membawa boneka serupa yang diberikan oleh Direktur Utama RSUP Dr Kariadi, Agus Akhmadi. Sesekali mereka tertawa, terkadang menangis.

Baca Juga: Kesaksian Dua Ajudan Fadia Arafiq Berbeda: Robby Bantah, Aji Ungkap Setoran 17 OPD

Penanganan bayi kembar siam di RSUP Dr Kariadi Semarang dilakukan melalui proses panjang sebelum akhirnya kedua bayi berhasil dipisahkan dalam operasi yang berlangsung sekitar 12 jam.

Ketua Tim Operasi Spesialis Bedah Anak RSUP Dr Kariadi, Agoes Wibisono, mengatakan keputusan untuk melakukan pemisahan tidak diambil secara langsung.

Tim terlebih dahulu melakukan sejumlah tindakan dan pemeriksaan untuk memetakan kondisi kedua bayi.

Salah satu tindakan awal yang dilakukan adalah membuat saluran pembuangan feses atau lubang BAB di bagian perut masing-masing bayi. Langkah tersebut dilakukan karena saluran pencernaan bagian bawah kedua bayi diketahui menyatu.

"Kemudian setelah itu, kita lakukan pemasangan namanya alat tissue expander untuk melebarkan kulit supaya nanti kulit tersebut bisa ditutup," ujar Agoes.

Tim juga melakukan pemeriksaan dengan endoskopi untuk mengetahui kondisi organ reproduksi dan saluran kemih. Pemeriksaan itu menemukan bahwa kandung kemih kedua bayi menyatu sehingga diperlukan pemetaan khusus sebelum operasi pemisahan.

Kondisi tersebut membuat tim harus mempertimbangkan secara matang bagaimana kandung kemih yang menyatu dapat dibagi menjadi dua.

Pemisahan akhirnya dilakukan ketika kedua bayi berusia 1 tahun 6 bulan. Menurut Agoes, usia tersebut dipilih karena kandung kemih membutuhkan waktu untuk berkembang sehingga ukurannya dinilai lebih memungkinkan untuk dipisahkan.

Baca Juga: Harga Mirip Tapi Pengalamannya Beda, Santa Fe 2024 atau Fortuner 2024?

Ia menyebut operasi melibatkan tim multidisiplin. Selain dokter bedah anak, dokter obgyn, dokter anestesi, urologi, bedah plastik, ortopedi, dokter anak, hingga dokter spesialis obstetri dan ginekologi juga terjun. Sejumlah tenaga kesehatan lain seperti farmasi klinik dan ahli gizi juga terlibat dalam proses perawatan.

"Ini adalah suatu kerja sama tim dan tim yang kompak dan solid sehingga bisa kita memisahkan itu dengan baik," katanya.

Agoes mengatakan bagian tubuh yang menyatu bukan hanya kandung kemih. Pada bagian genital, kedua bayi memiliki saluran yang mengarah ke sisi kanan dan kiri. Sementara bagian anus juga bergabung dalam satu saluran karena usus kedua bayi menyatu.

Karena kondisi tersebut, lubang BAB yang dibuat sebelum operasi pemisahan masih dipertahankan. Dengan begitu, kedua bayi tetap dapat menerima asupan makanan dan minuman sekaligus memperoleh nutrisi yang cukup.

Setelah operasi pemisahan, lanjut dia, kondisi kedua bayi disebut stabil. Namun, penanganan belum selesai. Tim masih harus menunggu luka operasi mengering sebelum melanjutkan proses rekonstruksi pada bagian bawah tubuh.

"Jadi, ada tahapan-tahapannya. Harapannya setelah ini baik, nanti akan ada lanjutan-lanjutan," jelas Agoes.

Menurut Agoes, salah satu tantangan terbesar dalam operasi pemisahan kembar siam adalah kemungkinan ditemukannya kondisi organ yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi sebelum tindakan.

Untuk mengantisipasinya, tim melakukan pemeriksaan pencitraan bersama tim radiologi serta pemeriksaan endoskopi oleh tim urologi. Pemeriksaan tersebut membantu dokter mengetahui kondisi organ, termasuk jumlah ginjal dan volume kandung kemih.

Dengan persiapan tersebut, tim dapat memperkirakan berbagai kemungkinan yang muncul selama operasi. Agoes menyebut proses pemisahan akhirnya dapat berlangsung tanpa kendala berarti.

"Alhamdulillah, selama pemisahan kami tidak menemukan kendala yang berarti," ujarnya.

Kasus kembar siam ini menjadi kasus keempat yang ditangani RSUP Dr Kariadi. Agoes mengatakan tidak semua kasus kembar siam dapat dilakukan pemisahan karena bergantung pada organ yang menyatu

Untuk kasus kali ini, estimasi biaya penanganan hingga saat ini mencapai sekitar Rp200 juta untuk masing-masing bayi. Dengan demikian, total biaya untuk kedua bayi berada di kisaran Rp400 juta.

Agoes menegaskan rumah sakit tetap berupaya menangani pasien meski terdapat persoalan pembiayaan. Menurut dia, sebagai rumah sakit tipe A rujukan, RSUP Dr Kariadi akan melakukan penanganan sesuai kemampuan medis yang dimiliki.

"Kalau memang BPJS sanggup, kita tanggung. Kalau BPJS enggak sanggup, ya harus kita tangani. Masa terus kita biarin?" tegasnya.

Dalam menentukan tindakan, keluarga juga dilibatkan sejak awal. Tim dokter berdiskusi dengan ayah, ibu dan anggota keluarga lainnya mengenai kondisi kedua bayi, kemungkinan kesulitan selama operasi, hingga tahapan perawatan setelah pemisahan.

Komunikasi tersebut dilakukan agar keluarga memahami risiko sekaligus memiliki keyakinan terhadap keputusan medis yang diambil.

"Jadi, dari situ keluarga perlahan-lahan yakin bahwa mantap bahwa itu bisa mungkin dipisahkan dan mempercayakan kepada Rumah Sakit Kariadi untuk pemisahannya," pungkas Agoes.

Sementara itu, Direktur Utama RSUP Dr Kariadi, Agus Akhmadi menyatakan kedua bayi itu telah mendapat pendampingan sejak masih dalam kandungan. Keduanya lahir pada 12 Januari 2025 dan selanjutnya menjalani serangkaian perawatan serta persiapan secara bertahap. Setelah melalui berbagai evaluasi dan persiapan selama lebih dari satu tahun, operasi pemisahan akhirnya berhasil dilaksanakan pada 28 Juli 2026 oleh tim multidisiplin RSUP Dr. Kariadi.

"Keberhasilan pemisahan Shayna dan Shazia merupakan buah dari komitmen, kerja keras, kolaborasi, serta doa dan dukungan berbagai pihak," kata Agus.

Setelah operasi, lanjutnya, Shayna dan Shazia menjalani perawatan dan pemulihan secara bertahap hingga kondisinya stabil. Memasuki tahap pemulangan, RSUP Dr. Kariadi juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara dan Puskesmas Nalumsari 1 agar pendampingan terhadap kedua anak dapat terus berlangsung ketika kembali ke rumah.

Pemulangan bukan berarti perjalanan pelayanan telah selesai. Shayna dan Shazia masih membutuhkan pemantauan kesehatan, tumbuh kembang, rehabilitasi, serta tindak lanjut sesuai kebutuhan. RSUP Dr. Kariadi tetap membuka koordinasi dengan fasilitas kesehatan di daerah untuk memastikan kesinambungan pelayanan bagi keduanya. (ifa)

Editor : Baskoro Septiadi
kembar siam Shayna Shazia operasi pemisahan jepara RSUP dr Kariadi