Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Seri Sejarah Semarang! S Soediarto Dikenang sebagai Pembuka Lahan Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal

Pratono • Senin, 22 April 2024 | 15:00 WIB
Sejumlah siswa berziarah di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Kota Semarang (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)
Sejumlah siswa berziarah di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Kota Semarang (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)

Nama S Soediarto tidak bisa lepas dari Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Kota Semarang.

Walaupun tidak dimakamkan di tempat ini, nama Soediarto tetap akan dikenang.

Sebuah prasasti terpasang di tembok gapura depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Tunggal Semarang.

Warna hitam di bagian tulisan sebagian sudah memudar. Tapi masih bisa terbaca jelas.

“Pembukaan tanah dilakukan pada Hari Peringatan Brigade S.S Tanggal 9 Mei 1950 Djam : 16.30 oleh Overste S. Sudiarto dengan disaksikan oleh Kolonel Gatot Subroto dan Mr Kusubijono Wali Kota Semarang.”

Prasasti ini menunjukkan waktu pembukaan lahan yang akan digunakan untuk pembangunan TMP Giri Tunggal. Secara jelas disebutkan nama Soediarto di sini.

Saat ini, masyarakat Semarang mengenal nama Brigjen Soediarto lewat nama jalan di traffic light dekat RS Bhayangkara Semarang hingga batas kota di Mranggen Kabupaten Demak.

Sebelumnya, ruas jalan ini dikenal sebagai Jalan Majapahit. Hingga saat ini, sebagian papan nama alamat rumah di ruas jalan ini masih mencantumkan nama Jalan Majapahit.

Sebelum menggantikan nama Jalan Majapahit, sebetulnya Soediarto sudah pernah diabadikan sebagai nama jalan lain oleh Pemerintah Kota Semarang.

Surat kabar De Locomotief edisi 9 November 1951 memberitakan, nama Letkol S Soediarto mulai 10 November 1951 secara resmi menggantikan nama Jalan Siranda.

Jalan menanjak yang saat ini menghubungkan traffic light Jalan Pahlawan sampai Taman Diponegoro.

Pergantian nama Jalan Siranda menjadi Jalan Letkol Soediarto ini berlangsung pada hari yang sama dengan peletakan batu pertama pembangunan Tugu Muda.

Buku Semarang yang ditulis Acting Kepala Djawatan Penerangan Kota Besar Semarang pada 1956 menjelaskan, perubahan nama tersebut merupakan bentuk penghargaan terhadap perjuangan S Soediarto.

Jalan utama di kawasan Candi tersebut dipilih karena sebelum berangkat ke Ambon dan gugur dalam tugas, kediaman terakhir Soediarto berada di ruas jalan tersebut.

Peta Kota Semarang buatan tahun 1956 masih mencantumkan nama Jalan Letkol Soediarto sebagai pengganti nama Siranda.

Tapi entah mulai kapan nama ini ditinggalkan. Di era 1990-an, Jalan Siranda sudah dikenal sebagai Jalan Diponegoro sampai saat ini.

KENANG SOEDIARTO : Prasasti yang menerangkan pembukaan lahan pembangunan TMP Giri Tunggal oleh Overste (Letkol) S Soediarto.
KENANG SOEDIARTO : Prasasti yang menerangkan pembukaan lahan pembangunan TMP Giri Tunggal oleh Overste (Letkol) S Soediarto.

Seperti diketahui, S Soediarto lahir di Demak pada 25 November 1925. Ia merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara.

Ayahnya bernama Tasripan Siswosoelastro dan ibu Sapariyah. Kakak Soediarto berturut-turut adalah Soeparto yang lahir pada 1917, Soemarto (1918), Soeparti (1921), Soediarti (1923). Kemudian adiknya adalah Soenarto (1927) dan Sugiarto (1933). Tasripan merupakan guru yang tugasnya berpindah-pindah kota.

Pada 1927, Mantri Guru Tasripan dipindahkan ke Kaliwungu Kendal dan memimpin sekolah 2e Inlandse School hingga pensiun pada 1938.

Ketika Perang Pasifik berkobar hingga Jepang menguasai Jawa pada 8 Maret 1942, anak-anak Tasripan mulai beranjak remaja.

Pemerintahan sipil yang bebas dari pengaruh Belanda mulai dibentuk.

Anak sulung Tasripan, Soeparto ditawari kedudukan sebagai Asisten Wedana Pageruyung Weleri sedangkan Soediarto menjadi Mantri Polisi.

Tapi keduanya menolak jabatan tersebut. Mereka ingin masuk menjadi tentara.

Saat Jepang menjajah Indonesia, Soediarto bersama sejumlah pemuda Kaliwungu mulai bergabung dengan Seinendan.

Seinendan merupakan organisasi semimiliter yang dibentuk Jepang untuk melatih pemuda-pemuda menghadapi kemungkinan datangnya tentara Sekutu yang ingin kembali merebut Jawa dan Hindia Belanda.

Selanjutnya Soediarto menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA) hingga Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.

Begitu Indonesia Merdeka, dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan selanjutnya menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di daerah-daerah.

Di Kendal dibentuk Resimen II Divisi IV BKR/TKR dengan komandan Letnan Kolonel (Letkol) Hendroprawoto.

Soediarto menjadi salah satu komandan kompi dengan pangkat Letnan. Tak lama berselang, pangkat Soediarto naik menjadi Kapten dengan jabatan tetap komandan kompi.

Pada 16 Mei 1946, Soediarto diangkat menjadi komandan batalyon dengan pangkat Mayor.

Selama menjadi komandan kompi dan batalyon, Soediarto banyak terlibat pertempuran melawan musuh di wilayah Medan Barat Semarang.

Termasuk kesuksesan menghancurkan tentara Sekutu dari korps pasukan Gurkha dalam pertempuran di Sumur Jurang, Gunungpati.

Di pertengahan 1946, karir Soediarto kembali melesat. Ia dipercaya menjadi komandan Resimen II Divisi IV dengan pangkat Letkol menggantikan Letkol Hendroprawoto yang ditarik ke markas tertinggi tentara.

Hanya dalam jangka waktu sekitar setahun, pangkat Soediarto sudah naik tiga tingkat. Dari Letnan menjadi Letkol.

Di usia 21 tahun, Soediarto sudah memimpin sebuah resimen dengan anggota sekitar 3.200-4.000 prajurit.

Pada Mei 1948, Resimen II Divisi IV digabung dengan resimen lain menjadi Brigade VI Divisi II SPDT (Staf Pertempuran Djawa Tengah).

Soediarto diangkat menjadi komandan Brigade masih dengan pangkat Letkol.

Pada 25 April 1950, Mr D Christian Robert Soumokil memproklamasikan berdirinya Republik Maluku Selatan (RMS) yang terpisah dari Republik Indonesia.

Pemerintah langsung mengirimkan pasukan untuk memadamkan pemberontakan di bawah komando Panglima Kolonel Alex Kawilarang.

Pasukan Letkol Soediarto termasuk yang dikirim ke Maluku bersama pasukan Letkol Slamet Rijadi dari Solo.

Kedua sahabat ini akhirnya gugur dalam tugas merebut Ambon. Pemerintah memberi penghargaan dengan menaikkan pangkat mereka, dua tingkat lebih tinggi menjadi Brigjen.

Yang berbeda, pemerintah telah menetapkan Slamet Rijadi sebagai pahlawan nasional, gelar yang tidak diterima Soediarto. (*)

 

Editor : Pratono
#Sejarah Semarang #tentara keamanan rakyat #Soediarto #badan keamanan rakyat #Pembela Tanah Air #Gatot Subroto #Brigade SS #KOTA SEMARANG #Gunungpati #Pasukan Gurkha #Brigade Stoottroep Semarang #jepang #TNI #pasukan sekutu #giri tunggal