Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Seri Sejarah Semarang ! S Soediarto, Pemimpin Muda Berusia 21 Tahun yang Pimpin Ribuan Pasukan

Pratono • Minggu, 21 April 2024 | 01:00 WIB
SUDAH BERUBAH : Kawasan Pasar Boja Kabupaten Kendal yang dulu sebagai Markas Medan Barat (MMB) Semarang, pusat pasukan Resimen II Divisi IV pimpinan Letkol S Soediarto. (Pratono/Radar Semarang)
SUDAH BERUBAH : Kawasan Pasar Boja Kabupaten Kendal yang dulu sebagai Markas Medan Barat (MMB) Semarang, pusat pasukan Resimen II Divisi IV pimpinan Letkol S Soediarto. (Pratono/Radar Semarang)

S Soediarto tumbuh di masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Saat remaja, Soediarto mulai mengenal dunia tentara setelah bergabung dalam Pembela Tanah Air (PETA) bentukan Jepang.

Seusai kemerdekaan Indonesia, Soediarto bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) selanjutnya Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

S Soediarto lahir di Demak pada 25 November 1925. Ia merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Tasripan Siswosoelastro dan ibu Sapariyah.

Kakak Soediarto berturut-turut adalah Soeparto yang lahir pada 1917, Soemarto (1918), Soeparti (1921), Soediarti (1923). Kemudian adiknya adalah Soenarto (1927) dan Sugiarto (1933).

Tasripan merupakan guru yang tugasnya berpindah-pindah kota.

Pada 1927, Mantri Guru Tasripan dipindahkan ke Kaliwungu Kendal dan memimpin sekolah 2e Inlandse School hingga pensiun pada 1938.

Ketika Perang Pasifik berkobar hingga Jepang menguasai Jawa pada 8 Maret 1942, anak-anak Tasripan mulai beranjak remaja.

Pemerintahan sipil yang bebas dari pengaruh Belanda mulai dibentuk.

Anak sulung Tasripan, Soeparto ditawari kedudukan sebagai Asisten Wedana Pageruyung Weleri sedangkan Soediarto menjadi Mantri Polisi.

Tapi keduanya menolak jabatan tersebut. Mereka ingin masuk menjadi tentara.

Anak-anak Tasripan juga membentuk badan keamanan lokal.

Kakak beradik Soeparto, Soediarto dan Soenarto mendapatkan sebuah pistol Bulldog dari seorang pegawai pegadaian.

Senjata api ini dipakai bergantian di pinggang mereka dengan berlagak mirip koboi. Tampak gagah.

Suatu hari, Soediarto dan Soenarto bermain-main dengan pistol tersebut di rumah yang sedang kosong. Keluarga mereka masih mengungsi.

Tiba-tiba, terdengar letusan senjata. Soeparto yang mendengar lantas menemui kedua adiknya.

Ternyata saat itu Soediarto sedang bermain-main dengan pistol dan tak sengaja menarik pelatuknya.

Peluru hampir saja mengenai kening Soenarto. Terang saja Soeparto marah besar. Tapi kedua adiknya hanya tenang-tenang saja.

Soediarto bersama sejumlah pemuda Kaliwungu mulai bergabung dengan Seinendan.

Seinendan merupakan organisasi semimiliter yang dibentuk Jepang untuk melatih pemuda-pemuda menghadapi kemungkinan datangnya tentara Sekutu yang ingin kembali merebut Jawa dan Hindia Belanda.

Selanjutnya Soediarto menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA) hingga Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.

Begitu Indonesia Merdeka, dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan selanjutnya menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di daerah-daerah.

Di Kendal dibentuk Resimen II Divisi IV BKR/TKR dengan komandan Letnan Kolonel (Letkol) Hendroprawoto.

Soediarto menjadi salah satu komandan kompi dengan pangkat Letnan.

Tak lama berselang, pangkat Soediarto naik menjadi Kapten dengan jabatan tetap komandan kompi.

Pada 16 Mei 1946, Soediarto diangkat menjadi komandan batalyon dengan pangkat Mayor.

Selama menjadi komandan kompi dan batalyon, Soediarto banyak terlibat pertempuran melawan musuh di wilayah Medan Barat Semarang.

Termasuk kesuksesan menghancurkan tentara Sekutu dari korps Gurkha dalam pertempuran di Sumur Jurang.

Meski terluka, Soediarto menolak dievakuasi dan tetap memimpin pertempuran hingga pasukan musuh hancur.
Meski terluka, Soediarto menolak dievakuasi dan tetap memimpin pertempuran hingga pasukan musuh hancur.

Di pertengahan 1946, karir Soediarto kembali melesat.

Ia dipercaya menjadi komandan Resimen II Divisi IV dengan pangkat Letkol menggantikan Letkol Hendroprawoto yang ditarik ke markas tertinggi tentara.

Hanya dalam jangka waktu sekitar setahun, pangkat Soediarto sudah naik tiga tingkat. Dari Letnan menjadi Letkol.

Di usia 21 tahun, Soediarto sudah memimpin sebuah resimen dengan anggota sekitar 3.200-4.000 prajurit.

Saat pertama kali dibentuk, persenjataan BKR sangat minim. Setiap regu yang beranggotakan sekitar 12 orang, senapan yang dimiliki hanya 3-5 pucuk.

Selebihnya, para tentara menggunakan senjata seadanya seperti bambu runcing, keris, tombak, sabit, golok dan lainnya.

Sebuah resimen yang beranggotakan sekitar 4.000 prajurit, hanya memiliki sekitar 1.200 senjata api.

Tapi di bawah kepemimpinan Soediarto, senjata pasukannya selalu bertambah.

Rampasan senjata dari pasukan musuh yang berhasil dikalahkan menjadi inventaris tambahan untuk prajurit yang belum memegang senapan.

Seperti saat pertempuran Sumur Jurang, Kompi Soediarto mendapat tambahan 2 bren, 3 owen, 6 stengun, 57 senapan karabin, dan granat.

Kemudian pada pertempuran di wilayah Sambirejo-Gambilangu pada Februari 1946, batalyon Soediarto mendapat tambahan 63 senapan dari BKR Pekalongan dan Banyumas yang dikalahkan musuh.

Batalyon Soediarto yang kemudian menghadang pasukan Sekutu, berhasil memukul mundur musuh hingga kembali masuk Kota Semarang.

Selain itu, pasukan Soediarto mendapat rampasan 2 stengun, 3 owen, 2 launcer, 1 mortir dan 14 senapan.

Resimen Soediarto berkedudukan di wilayah Markas Medan Barat (MMB) yang meliputi daerah Gunungpati, Ngaliyan, Jrakah hingga ke Kendal.

Di samping BKR/TKR, juga ada laskar-laskar perjuangan yang ikut melawan pasukan Sekutu.

Salah satu laskar perjuangan yang terkenal di Kendal adalah Pasukan Kyai Mbiru bentukan Bupati Kendal Sukarmo.

Salah satu pelaku sejarah yang juga anggota Pasukan Kyai Mbiru adalah Soewandi.

Warga Kampung Gentan Kidul Desa Boja Kabupaten Kendal ini mengatakan, pusat pasukan MMB saat itu berada di sekitar Kampung Anyar, Gentan Lor, Boja.

“Dulu di sana ada rumah milik Perhutani yang jadi Markas Medan Barat, sekarang sudah dibongkar,” kata Soewandi yang lahir pada 1 Agustus 1927.

Kawasan MMB ini saat ini menjadi kios-kios di dekat Pasar Boja dan permukiman warga.

Pada Agustus 1946, Resimen II Divisi IV dipindahkan ke Markas Medan Timur (MMT) yang bertanggung jawab pada wilayah Purwodadi dan Demak.

Seluruh pasukan Soediarto meninggalkan Kendal menuju tempat penugasan baru. Pertempuran-pertempuran melawan Belanda terus dijalani Soediarto.

Pada Mei 1948, Resimen II Divisi IV digabung dengan resimen lain menjadi Brigade VI Divisi II SPDT (Staf Pertempuran Djawa Tengah). Soediarto diangkat menjadi komandan Brigade masih dengan pangkat Letkol. (*)

 

 

Editor : Pratono
#Sejarah Semarang #tentara keamanan rakyat #Soediarto #kemerdekaan indonesia #Boja #KOTA SEMARANG #Gunungpati