Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Yoyok Barokallah, Lukis Wajah Hanya 20 Menit Tarik Perhatian Wisatawan Kota Lama

Radar Semarang • Senin, 15 April 2024 | 16:49 WIB
PELUKIS CEPAT : Pelukis jalanan Yoyok Barokallah saat melukis wisatawan di Kota Lama saat momen liburan Idul Fitri 1445 Hijriah.
PELUKIS CEPAT : Pelukis jalanan Yoyok Barokallah saat melukis wisatawan di Kota Lama saat momen liburan Idul Fitri 1445 Hijriah.

 

RADARSEMARANG.ID, SEORANG pelukis jalanan menarik perhatian wisatawan di Kota Lama Semarang.

Membuka lapak di depan Indomaret, seberang Kotta Hotel, menjadikan Yoyok Barokallah salah satu objek yang menonjol.

Lapaknya sederhana saja. Hanya bertuliskan "Lukis Wajah & Karikatur", kemudian di bawahnya ditempel beragam contoh lukisan. 

Baca Juga: Penulis Novel Dilan Pamerkan Enam Lukisan di Semarang Contemporary Art Gallery

Tertarik dengan contoh hasil lukisan, seorang pengunjung yang menggendong anaknya meminta untuk dilukis.

Menanggapi permintaan itu, Yoyok yang mengenakan topi khas pelukis segera mempersiapkan pena dan kertas. Ia meminta pelanggan asal Medan, Omar Fachry, menempatkan diri.

Pertama, pelukis jalanan ini melukis wajah sang anak berbaju merah. Tatapannya fokus tertuju pada wajah balita tersebut.

Tangannya terus bergerak mengikuti setiap detail wajah bocah lelaki itu. Objek lukisan kali ini menjadi salah satu yang tersulit, dimana sikap anak-anak yang tidak bisa diam membuatnya mengubah-ubah setiap coretan.

Apalagi bocah tersebut sempat rewel dan menangis karena banyak pengunjung yang berhenti untuk melihat penampilan Yoyok, sehingga membuat suasana cukup sesak. Kendati demikian, pria paruh baya ini tetap fokus menggambar sang anak. 

"Yang sulit adalah melukis anak kecil karena mereka tidak bisa diam. Makanya ketika melukis anak kecil, saya ya mengikuti gerak geriknya. Karena saat melukis saya fokus tidak mendengar, tidak lihat apa-apa kecuali objek itu," akunya. 

Dalam waktu kurang lebih 12 menit, lukisan itu jadi. Bergantian, kini giliran Omar Fachry yang menjadi objek. Menurut Yoyok, membuat sketsa wajah orang dewasa tidak begitu sulit.

Terlebih ia sudah terlatih sejak duduk di bangku SMK. Berkat pengalamannya itu, segala rintangan dapat diatasi.

Adapun kelebihan dari karya warga asal Kecamatan Tembalang ini adalah kecepatan dan ketepatan dalam menghasilkan karya.

Sehingga hasilnya mirip dengan aslinya meski hanya dikerjakan dalam waktu singkat. 

"Yang terpenting bisa menguasai tentang dasar melukis termasuk memahami anatomi. Jadi melukis secara langsung biasanya sekitar 10-12 menit per wajah," tuturnya didampingi istri, Retno. 

Untuk tarifnya cukup terjangkau, per wajah hanya Rp 50 ribu saja. Ia menuturkan, jika ramai sehari bisa melayani 10 pelanggan.

Namun terkadang juga sepi, bahkan pernah tidak mendapat pesanan sama sekali.

Setiap harinya selama Lebaran, ia buka mulai pukul 15.00 hingga malam, fluktuatif tergantung pengunjung.

Ia memilih membuka lapak di Kota Lama karena punya potensi besar laku dimana setiap harinya selalu dipenuhi wisatawan lokal maupun turis asing. Sehingga banyak peluang jasanya diminati pelancong. 

Yoyok menceritakan, kemampuannya melukis ia asah dari pelukis ternama Indonesia. Yakni Dullah yang merupakan salah satu pelukis aliran realisme ternama Indonesia.

Ia adalah salah satu pelukis dan kurator seni rupa istana semasa kepemimpinan Presiden Soekarno.

Yoyok juga belajar dari rekannya bernama Kok Poo yang juga merupakan salah satu anak didik Dullah.

"Jadi saya generasi terakhir yang bisa belajar langsung sama Dullah. Belajar di sana disiplin efektif dan terus menerus selama empat tahun," ucapnya. 

Kegiatan sehari-harinya sebelum menjadi pelukis jalanan adalah mengajar di beberapa sekolah dasar di Kota Semarang.

Di antaranya SD Marsudirini BSB, dan SD Antonius Lamper. Ia mengajar seni rupa. Selain itu, jika ada event pameran, Yoyok juga turut serta bergabung. Terjauh selama ini ia menggelar pameran di Bali. (ifa/ton)

Editor : Tasropi
#Kota Lama Semarang #wisatawan lokal #pelukis jalanan