RADARSEMARANG.ID – Fajar mulai menyingsing. Menandakan hari sudah pagi. Di saat itulah orang-orang mulai berkegiatan. Tak terkecuali di rumah Khoiriyah. Karyawannya, satu per satu mulai berdatangan. Tanpa di suruh, mereka langsung mengerjakan pekerjaan masing-masing. Ada yang menjahit, menyetrika, memotong kain, ada pula yang bertugas menjadi QC (quality control) untuk mengecek kelayakan produk.
Saat reporter dari Jawa Pos Radar Semarang berkunjung, Rabu (25/10) lalu. Khoir sapaan akrabnya, sedang duduk sembari memainkan pensil di atas kertas. Iya, benar ia sedang sibuk membuat desain juga pola untuk pesanan terbarunya. Kala itu, pukul 09.00 WIB. Di salah satu ruangan tempat kerjanya itu Khoir mengaplikasikan ide dalam pikirannya. Yang kemudian dituangkan di atas kertas. Di tengah-tengah gulungan kain itulah ia bisa fokus. Berfikir untuk terus mengembangkan usahanya yang telah dirintis selama 10 tahun terakhir.
Sebelum berbisnis di bidang fesyen, Khoriyah pernah menjadi buruh pabrik selama delapan tahun. Beragam departemen telah dirasakan. Mulai dari operator, administrasi, hingga Human Resource Departemen (HRD). Namun ia tak pernah merasa nyaman. Wanita 43 tahun ini tak mau terus-terusan menjadi budak corporate. Ia ingin bermanfaat bagi orang lain dengan menciptakan lapangan kerja baru. Keputusan besar pun diambil. Ia resign kerja.
Siapa sangka, keputusannya untuk resign nyatanya banyak bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Punya pengalaman kerja di pabrik garmen membuat Khoir memiliki keterampilan menjahit. Hal ini dimanfaatkannya. Dengan modal awal Rp 3 juta. Dibelilah alat dan bahan seadanya. Tak menyangka, banyak yang tertarik untuk belajar menjahit darinya. Ia pun membuka pelatihan menjahit bagi masyarakat sekitar. Sebagai praktiknya mereka membuat celemek yang didesain dengan beragam motif dan pernak-pernik menarik.
“Saya bikin pelatihan karena nggak semua orang bisa menjahit dengan jahitan yang halus. Saya ajari supaya produk saya juga bagus,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Setelah itu, Khoir mulai menerima jahitan seragam sekolah juga pesanan baju. Seperti kemeja, gamis, atau rok juga celana. Karena dulu rumahnya masih ngontrak, geraknya pun terbatas. Tidak ada space untuk menambah alat jahit. Semuanya dikerjakan sendiri hingga lembur.
“Dulu masih merangkak. Terima jahitan seragam, bikin desain. Lalu saya jahit dan di posting di facebook. Alhamdulillah banyak yang minat,” akunya.
Usaha yang dirintisnya mulai berkembang. Waktu itu, ibu dari empat orang anak ini juga membuat brand sendiri. Namanya Griya Busana Khoir. Berada di Desa Tengaran RT 24 RW 5, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Selain memproduksi untuk brand miliknya. Ia juga memproduksi untuk brand lain. Harga satu set pakaian bervariasi. Kisaran Rp150 ribu sampai Rp 300 ribu tergantung dari sulitnya pengerjaan.
Pelatihan UMKM Naik Kelas dari Pemprov Membawa Bisnisnya Semakin Melejit
Berawal dari tawaran Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupetan Semarang. Pada tahun 2019, Khoir mulai bergabung dengan UMKM Center. Dari sini pertumbuhan usahanya mengalami peningkatan signifikan. Wanita kelahiran 1980 ini juga rajin mengikuti pelatihan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengan melalui Dinas Koperasi dan UKM.
“Waktu itu diajak untuk bergabung dan ikut pelatihan di UMKM Center. Awal-awal ikut pelatihan menjahit, pelatihan e-commerce, manajemen, juga public speaking,” kenangnya.
Khoir serasa mendapat angin segar setelah bergabung dengan UMKM Center. Kata dia, program pemerintah ini banyak manfaatnya. Sehingga bisa menjadikan UMKM yang dirintisnya dari kecil bisa naik kelas. Sekaligus juga bisa mewadahi pelaku usaha yang mau belajar upgrade diri untuk bisnisnya.
“Masuk ke organisasi UMKM itu banyak manfaatnya. Salah satunya menambah relasi, ketemu orang baru. Bukan untuk saingan karena punya usaha yang sama. Tapi malah lebih ke menemukan orang-orang yang sepemikiran,” tegasnya.
“Jadi ketika ada teman yang kelebihan orderan, nggak bisa handle. Kita ikut kecipratan, bisa dilempar, kita yang buat orderannya,” imbuhnya.
Orderannya semakin lama terus berkembang. Begitu pula dengan peningkatan lain seperti aset, omset, hingga tenaga kerja. Dari yang awalnya tiga karyawan. Kini bertambah menjadi 10 kali lipatnya. Dari rumah kontrakan, kini ia bisa memiliki rumah sendiri juga tempat konveksi yang digunakan karyawan untuk bekerja.
Dari satu mesin jahit, kini Khoir sudah memiliki kurang lebih 15 mesin jahit dengan beragam kegunaan. Dulu pengantaran pesanan menggunakan sepeda motor, kini ia juga sudah punya mobil untuk belanja kain ataupun mengantar orderan.
Total pekerjanya saat ini 30 orang. Sebanyak 20 karyawan bekerja di rumah konveksinya. Sisanya dibawa pulang. Hal ini menjadi poin tersendiri bagi para pekerja. Tak perlu datang ke tempat langsung, mereka masih bisa mengais pundi-pundi rezeki dari rumahnya. Sembari mengerjakan tugas rumah juga mengurus anak dan suami.
Kebanyakan karyawannya adalah jebolan pabrik garmen. Karena bekerja di perusahaan kurang leluasa. Mereka memilih resign dan ikut bergabung di Griya Busana Khori miliknya.
“Tidak memberatkan. Asal punya mesin jahit, jahitannya rapi bisa dibawa pulang ke rumah. Mereka (karyawan) juga enak, bisa dapat penghasilan juga masih bisa mengurus anak di rumah,” ungkapnya.
Pelatihan dari Pemprov benar-benar ia terapkan. Terutama berkaitan dengan manajemen sumber daya manusia (SDM). Khoir bisa belajar mengatur orang dalam jumlah banyak. Membagi rata tugas sesuai kemampuan, mengatur waktu pekerjaan, hingga ke masalah finansial. Yakni pembagian gaji. Semua ia dapatkan berkat bimbingan dari Dinas Koperasi dan UKM.
“Sering ikut pelatihan dua minggu sekali pasti ada. Yang paling banyak diterapkan manajemen SDM. Itu sangat penting karena karyawan banyak jadi harus bisa menghandle mereka dengan baik. Agar bagaimana kita bisa menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, mereka juga betah,” bebernya.
Pelatihan lain yang pernah ia dapatkan adalah e-commerce. Meski belum sepenuhnya dilakukan pada bisnisnya. Namun edukasi yang ia dapatkan tersebut bisa bermanfaat. Ia juga memasarkan produknya melalui media sosial, seperti Instagram, Facebook, WhatsApp Group, dan lainnya. Selain pasar dalam negeri. Produknya juga pernah menembus pasar luar negeri. Seperti Malaysia, Taiwan, dan Hongkong. Kebanyakan pesanan untuk busana muslim.
“Setiap dua minggu sekali, saya pasti mengirim produk ke Hongkong minimal pengiriman 40 pcs,” paparnya.
Usaha Mengalami Kemerosotan, Bangkit dengan Lapak Ganjar
Pandemi Covid-19, bisnis fesyen miliknya mengalami kemerosotan. Lockdown dimana-mana. Ekonomi mandeg, membuat Khoir sulit bergerak. Padahal stok kain masih menumpuk. Modal juga mandeg di reseller. Kendati demikian, putri dari (alm) Masrukhin dan (almh) Muti'atun ini tak patah arang.
Berbagai upaya dilakukan. Sampai akhirnya ia menemukan Lapak Ganjar. Program yang dicetuskan Gubernur Jateng Periode 2013-2023 Ganjar Pranowo untuk membantu UMKM agar terus bergeliat. Melalui lapak ini, para pelaku usaha bisa mempromosikan produknya dengan gratis. Tujuan dari program ini tak lain adalah membangkitkan UMKM di tengah Pandemi.
Nyatanya melalui program ini berhasil meningkatkan semangat pelaku UMKM. Termasuk Khoiriyah. Ia berputar arah berjualan masker. Selain untuk mengembalikan modal juga untuk memulai bisnis fesyennya kembali.
“Awal pandemi, bisnis saya mengalami kemrosotan yang lumayan banyak. Tapi, Alhamdulillahnya waktu itu dapat pesanan masker dari Lapak Ganjar yang merupakan program untuk membantu UKM,” ungkapnya dengan senang.
Tahun 2020 memang menjadi pukulan terberatnya. Namun tahun ini pula usahanya mulai meningkat kembali. Sata itu, lanjut dia, banyak pesanan dari luar untuk membuatkan masker. Maskernya dikirimkan ke toko-toko di daerah salatiga. Kadang ada beberapa anggota Polsek Tengaran yang mampir untuk membeli masker produksinya.
“Ikhlas itu penting, sembari tetap istiqomah dan berusaha. Pasti ada jalannya, bahkan akan lebih baik,” akunya.
Semangat terus membara, Khoir juga masih rutin mengikuti pelatihan dari Dinas Koperasi dan UKM melalui virtual. Apa yang disosialisasikan. Benar-benar ia terapkan. Program untuk UMKM naik kelas seperti pelatihan leveling juga terus diikuti.
Owner dari Griya Busana Khori ini juga rajin berkontribusi pada pameran yang diselenggarakan Pemprov maupun Pemkab/Pemkot. Kata dia, kegiatan festival adalah ajang untu mempromosikan produknya agar dikenal masyarakat luas. Selain mencari pangsa pasar, juga teman sebagai relasi.
“Pameran sering ikut seperti Salatiga Expo, lalu di Kabupaten Semarang juga ada waktu itu pameran di Semilir. Karena festival seperti ini jadi ajang untuk mengenalkan produk kami,” tambahnya.
Dari bisnisnya ini, Khoir mengaku bisa mengantongi omzet hingga puluhan juta per bulan. Bahkan bisa sampai Rp 40 juta per bulan. Saat ini ia masih berproses membuat brand baru. Namanya Ranaira. Proses legalitas ini juga dibantu oleh Dinas Koperasi dan UKM.
“Sekarang satu bulan rata-rata membuat 3000 pcs baju. Sekarang juga masih proses buat brand baru. Akhir tahun insyaallah akan buka toko (butik), ini masih berproses juga,” kata Khoir.
Yang terpenting dari usahanya adalah kebermanfaatan. Berkat keputusannya ia bisa membantu masyarakat sekitar. Menciptakan lapangan kerja baru. Sehingga pertumbuhan ekonomi di desanya juga terus meningkat.
“Alhamdulillah keinginan dari dulu memang mau usaha sendiri menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat. Sehingga bisa bermanfaat untuk orang lain bisnisnya juga menjadi berkah,” tandasnya.
Program Pemprov Jateng Bantu UMKM Naik Kelas
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Koperasi dan UKM juga Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah getol membina UMKM agar bisa naik kelas. Beragam program dan pelatihan dicanangkan agar UMKM bisa go internasional.
Sekretaris Dinas Koperasi UKM Jateng Hatta Hatnansya Yunus menyebut jumlah pertumbuhan UMKM binaannya di Jawa Tengah terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pihaknya merinci tahun 2020 jumlahnya 167.391, tahun 2021 menjadi 173.431 UMKM, tahun 2022 ada 180.579, dan tahun 2023 mencapai 185.139 UMKM. Dari jumlah tersebut terbagi menjadi empat sektor. Diantaranya sektor produksi/non pertanian 68.346, sektor pertanian 28.449, perdagangan 66.909, dan sektor jasa 21.435.
Menurutnya Dinkop mempunyai program pelatihan leveling selama 10 bulan. Terkait dengan manajemen usaha dan keuangan, pelatihan manajemen operasional dan SDM, manajemen pemasaran, public speaking, dan strategi branding dan negosiasi bisnis.
“Jadi bagaimana temen-temen UMKM ini dididik, didampingi, dan dilatih secara berkelanjutan dan ada coaching selama 10 bulan,” kata Hatta pada Jawa Pos Radar Semarang.
Dinkop UKM Jateng, kata dia juga memiliki program untuk membantu sertfikasi halal. Kuotanya 500 UMKM setiap tahunnya.
Selain itu, pihaknya juga terus mendorong UMKM agar naik kelas. Salah satumya dnegan memberikan wadah bagi pelaku usaha untuk mempromosikan produknya dengan pameran. Dari sini mereka dapat menggaet pembeli lebih luas. Lebih lanjut kata dia, UMKM bisa dikatakan naik kelas ketika ada peningkatan omset, aset, dan tenaga kerja.
Sedangkan pelatihan leveling ini, kata dia sudah ditangkap oleh Kementerian dan menjadi regulasi di juknis DAK tahun 2022. Sementara di Jawa Tengah nantinya setiap daerah akan menerapkan program ini sekaligus memberikan wadah bagi UMKM untuk terus belajar.
“Sudah beberapa kabupaten/kota yang sudah menerapkan pelatihan leveling di Jateng sekitar 13 daerah. Juga nanti setiap kabupaten kota akan ada satu inkubator untuk caoching UMKM,” ungkapnya.
Sementara Kepala Disperindag Jateng Ratna Kawuri mengaku punya program export coaching program untuk UMKM bisa go internasional. Kata dia, program ini hasil kerja sama Disperindag Jateng dengan Kementerian Perdagangan.
“Bentuk kegiatannya pendampingan kepada para UMKM yang berorientasi ekspor, ada sekitar delapan tahapan yang harus dilalui selama satu tahun,” akunya.
Ratna menambahkan para pelaku usaha diberikan sosialisasi juga edukasi tentang bagaimana cara ekpsor yang benar. Disperindag juga telah membantu untuk mencarikan pangsa pasar di luar negeri. Sehingga harapannya ekspor bisa berjalan lancar.
Program ini sudah dimulai sejak 2019. Sampai saat ini sudah ada 140 UMKM binaan Disperindag. Sedangkan yang sudah go internasional 73 pelaku UMKM. Pengiriman kata dia hampir merata baik di Eropa juga Asia. Pihaknya menyebut setiap tahun ada 30 UMKM yang dibantu untuk eskpor ke luar negeri.
“Sampai saat ini sudah ada sekitar 140 orang, 73 diantaranya sudah bisa ekspor. Jadi sudah 50 persen lebih,” tandasnya. (kap/ap)
Editor : Agus AP