RADARSEMARANG.ID, Tradisi nyadran di bulan Suro masih terjaga di Kelurahan Wonolopo, Mijen. Sebagai bentuk rasa syukur, warga makan bersama di lokasi pemakaman.
Ratusan warga Kuripan RW 1 Kelurahan Wonolopo mengikuti Nyadran Sentono Kanjeng Mas Bupati RM. Haryo Sumantri, Jumat (28/7) siang.
Rangkaian nyadran Sentono Kanjeng Mas Bupati RM. Haryo Sumantri dimulai dari malam satu Suro. Masyarakat RW 1 mengadakan pengajian, yasin dan tahlil.
Ketua RW 1 Wonolopo Senan Widiyanto menjelaskan, nyadran ini merupakan tradisi budaya yang terus dilestarikan secara turun-temurun. Puncak nyadran dilakukan pada Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon bulan Muharram atau yang disebut dengan Methoan.
Methoan berasal dari kata ngetokne atau syukuran. Ratusan warga membawa makanan seperti nasi, lauk pauk, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Makanan tersebut dimasukkan ke dalam wadah.
Makanan tersebut dikumpulkan setelah salat zuhur atau Salat Jumat di makam Sentono Kanjeng Mas Bupati RM. Haryo Sumantri.
Pada kesempatan yang sama, warga juga memberikan santunan pada anak yatim piatu, pengajian dan berdoa bersama.
Sebelumnya, warga juga menyembelih kambing untuk dimasak secara swadaya. "Saat ini kita menyembelih tiga kambing," katanya.
Yang unik, warga juga menyediakan bubur suro yang diolah dari daging kerbau. "Bubur suro ini banyak dioles ke pohon-pohon atau sawah agar hasil panen lebih melimpah dan berkah," tandasnya.
Makanan yang dibawa oleh warga lantas dikumpulkan dan dicampur, kemudian berdoa bersama lalu makan bersama. Dibagikan juga daging kambing dan bubur suro. (fgr/ton)
Editor : Agus AP