Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Dirintis saat Pandemi, Woodcraft Produksi Mahasiswa S2 Undip Tembus Pasar Malaysia

Agus AP • Jumat, 29 Oktober 2021 | 17:15 WIB
Toni Yogo Pamungkas saat membuat lamput hias dari pipa paralon. (NUR CHAMIM/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
Toni Yogo Pamungkas saat membuat lamput hias dari pipa paralon. (NUR CHAMIM/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID - Pandemi Covid-19 tidak menyurutkan semangat Misbachul Munir menekuni bisnis. Ia membut produk kreatif woodcraft dari bahan kayu.

Di depan rumah bercat kuning banyak dihiasi produk woodcraft. Inilah yang dilakukan oleh Misbachul Munir, pemilik usaha Mimu Wood Craft yang didirikan di saat pandemi. Meski serbasulit, produk woodcraft karyanya semakin dikenal luas.

Berawal saat pandemi, ia ingin merenovasi kamarnya. Kemudian Misbach membuat woodcraft untuk menghiasi dinding kamar. Setelah jadi, iseng-iseng memposting woodcraft di akun Instagram. Setelah diunggah, banyak yang tertarik untuk membeli. Ini merupakan peluang yang cukup besar dalam awal usaha woodcraft.

“Saya iseng-iseng uploud di story Instagram. Eh banyak yang tanya-tanya, dari situ dapat ide untuk membuka usaha woodcraft,” ungkap pria 23 tahun yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa S2 Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Usaha woodcraft ini bernama Mimu woodcraft. Asal usul nama usaha ini cukup unik jika diulik. Berawal dari kata ‘Mi’ yang diambil dari huruf depan kata ‘mie ayam’.

Sedangkan ‘Mu’ berasal dari kata sirup parijoto alammu yang diambil huruf belakang. Kata ‘Mu’ ini diambil karena dulunya dia pernah bekerja sebagai penjual sirup parijoto alammu. Setelah itu kata Mi dan Mu digabungkan menjadi Mimu.

Lewat tangan kreatifnya, menyulap kayu menjadi woodcraft.  Ia mampu memproduksi hingga 30 pcs. Bahan yang dibutuhkan adalah kayu mahoni dan kayu jati belanda (kayu palet). Ia mengaku,  kayu tersebut mempunyai karakter yang mudah dibentuk dan warna yang cantik.

Produk Mimu woodcraft, di antaranya, cangkir, mangkok, sendok, piring, garpu, cawan, hiasan dinding, dan lainnya. Sekarang sudah berinovasi dalam hiasan bentuk hexagonal, pot kayu minimalis, dan rak kayu minimalis.

Untuk harganya, mulai Rp 15 ribu hingga ratusan ribu. Konsumen woodcraft ini sudah sampai luar negeri, yakni Malaysia.

Diakui, pada awal usahanya, Mimu woodcraft baru meraih keuntungan Rp 1 juta- Rp 2 juta per bulan. Dengan modal ketelitian dalam pengerjaannya, kini Mimu woodcraft dapat meraih omzet berkali lipat.

Salah satu kesulitan dalam memproduksi woodcraft yaitu membuat woodcraft yang belum pernah dibuat, dan tidak ada contoh dari customer. Misbach mengaku pernah mendapatkan customer dengan pemesanan yang belum pernah dibuat, seperti gelas madu dan sendok madu (dipper honey).

“Pernah ada customer yang permintaannya aneh, customer itu pesan gelas madu dan dipper honey untuk suvenir acara penikahan,” jelasnya.

Selain memposting di media sosial, Misbach juga kerap menerapkan strategi penjualan dengan memberikan diskon dalam setiap pembelian. Tak hanya itu, ia juga selalu berinovasi produk baru agar penjualannya semakin meningkat, dan tidak membosankan.  “Selain variasi produk, bisa saja inovasi warna, tergantung pemesanan customer juga,” ungkapnya. (Nur Afifah Asfiyati/aro) Editor : Agus AP
#Mimu Wood Craft #woodcraft