Warih mengaku ide tersebut awalnya sekadar iseng. Karena kebetulan ia dan suami memiliki ketertarikan pada kupu-kupu. Sehingga muncul ide untuk membuat penangkarannya. Apalagi di wilayah Borobudur jumlah kupu-kupu tidak lagi banyak. Mengingat populasi ulat semakin sedikit. Karena lahan pertanian banyak yang disemprot pestisida, serta beberapa lahan digunakan untuk bangunan.
"Karena kupu-kupu semakin sedikit, maka akhirnya kami mencoba membuat penangkaran kupu-kupu," kata wanita 49 tahun ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Bersama sang suami, Warih kemudian membuat penangkaran kupu-kupu di kebun berukuran 12 x 15 meter. Di kebun tersebut, ia menanam berbagai tanaman yang dapat menunjang berkembangbiaknya kupu-kupu. Mulai tanaman untuk penyedia nektare, serta tanaman makanan larva.
Saat wartawan koran ini berkunjung ke kebun milik Warih, berbagai ulat menempel di tanaman. Wanita yang berprofesi sebagai guru ini mengaku sama sekali tidak takut. Karena baginya ulat yang dianggap menjijikkan dan membikin gatal tersebut nantinya akan menjadi kupu-kupu yang indah.
"Kalau di tetangga banyak ulat sering saya ambil untuk dikasih ke kebun, nantinya bisa menjadi kupu-kupu yang cantik. Karena banyak tetangga yang takut dengan ulat," kelakar Warih sambil tersenyum.
Berbagai jenis kupu-kupu pun ada di Borobudur Butterfly. Mulai jenis Ascalapus, Hypolimnas, Agamemnon, dan jenis lainnya. Sejak berdiri pada 2020, menurut Warih, banyak pengunjung yang datang. Terutama yang berasal dari luar daerah, seperti Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur, bahkan tidak sedikit yang berasal dari luar Jawa.
"Kita bekerja sama dengan sewa mobil VW di Borobudur. Biasanya pengunjung akan diarahkan untuk mampir ke Borobudur Butterfly," jelasnya.
Di Borobudur Butterfly, selain dapat melihat kupu-kupu cantik beterbangan, pengunjung juga bisa belajar cara penangkarannya. Warih dan suami pun tidak memasang tarif masuk alias gratis. "Kami tidak memasang tarif, karena kami merasa Borobudur Butterfly belum besar," jelasnya.
Warih bersama sangat suami juga memiliki galeri yang menjual aksesori kupu-kupu.
Berisi hiasan dari kupu-kupu yang diawetkan. "Karena kupu-kupu bertahan hidupnya hanya 4 sampai 6 minggu, maka kupu-kupu yang mati kami awetkan," jelasnya.
Kupu-kupu yang diawetkan tersebut dibingkai dengan figura, dan dijadikan hiasan dinding. Selain itu juga dibuat gantungan kunci. Di galeri Borobudur Butterfly, pengunjung bisa melihat beragam jenis kupu-kupu yang diawetkan. Suvenir kupu-kupu tersebut dijual mulai dari harga Rp 200 ribu sampai Rp 900 ribu, tergantung coraknya.
Warih menambahkan, saat ini ia bersama sang suami juga masih terus mengembangkan Borobudur Butterfly. Dari sisi penangkaran maupun galeri, mengingat masih baru.
"Dalam waktu dekat ini kami juga akan bekerja sama dengan dosen Unnes terkait penangkaran kupu-kupu agar bisa maksimal," katanya. (man/aro) Editor : Agus AP