Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

90 Persen Dikoleksi Warga Asing, Terjual hingga Rp 100 Juta

Agus AP • Sabtu, 20 Februari 2021 | 17:26 WIB
LUKISAN UNIK: Wawan Geni saat melukis dengan teknik bakar obat nyamuk. (kanan) Lukisan Candi Borobudur karyanya. (FOTO-FOTO: RIRI RAHAYUNINGSIH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LUKISAN UNIK: Wawan Geni saat melukis dengan teknik bakar obat nyamuk. (kanan) Lukisan Candi Borobudur karyanya. (FOTO-FOTO: RIRI RAHAYUNINGSIH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID - Umumnya orang melukis di kanvas menggunakan cat akrilik. Namun Untung Yuli Prastiawan alias Wawan Geni memilih menggunakan teknik unik. Dia melukis dengan membakar kanvas menggunakan obat nyamuk.

Wawan Geni tengah mengerjakan lukisan ketika Jawa Pos Radar Semarang mengunjungi kediamannya, Jumat (19/2/2021) sekitar pukul 13.00. Dia melukis ditemani suara bising kendaraan bermotor yang melintas di depan rumahnya di Jalan Magelang-Jogjakarta, Desa Blondo, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.

Pria berambut gondrong itu menghadap kanvas berukuran 1,5 meter x 2 meter. Dia tidak memegang kuas maupun palet berisi warna-warni cat akrilik. Di tangannya justu ada obat nyamuk dan korek api. Dia membakar obat nyamuk itu lantas menempelkannya pada kanvas. Membakarnya pada sketsa yang sudah dibikin sebelumnya. Hasil bakaran itulah yang berfungsi sebagai pewarna.

Gerakan tangan Wawan Geni begitu halus dan tenang. Satu per satu sketsa dia bakar dengan saksama. Setelah pembakaran objek rampung, dia menyemprotnya dengan varnish. Tujuannya agar warna menempel sempurna. Tidak luntur ketika disentuh.
Untuk menghasilkan degradasi warna, Wawan Geni membakar kanvas dengan api menyala. Sementara untuk menghasilkan warna gelap, dia menggunakan bara obat nyamuk saja. Namun, intensitas pembakarannya sedikit lebih lama.

“Selain menggunakan obat nyamuk, saya juga mengombinasikan dengan rokok,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hasilnya luar biasa. Lukisan aktivitas manusia berbelanja itu tampak hidup. Dengan latar belakang masa lampau, dia menggambarkannya dari pakaian yang dikenakan tokoh perempuan. Kebaya model lama dengan kain jarik batik.

Photo
Photo

Wawan Geni saat melukis dengan teknik bakar obat nyamuk. (RIRI RAHAYUNINGSIH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Wawan Geni mengaku melukis menggunakan obat nyamuk butuh kesabaran dan ketelitian. Ia juga harus pintar berimprovisasi. Mengubah objek ketika terjadi kesalahan.

“Misalnya mau melukis daun tapi nggak mirip, nanti saya ubah jadi cobek,” ujar Wawan Geni sambil tersenyum.

Selama ini, Wawan Geni gemar melukiskan kehidupan sosial. Latar yang diambil pun tak jauh dari kehidupan sosial-budaya Magelang. Salah satu objek yang menjadi kiblatnya adalah Candi Borobudur.“Sekarang kan zaman terus berubah. Budaya banyak yang bergeser. Nah, saya ingin mengabadikan budaya-budaya itu dalam karya saya. Biar orang nggak lupa dengan budaya lama,” tandasnya.

Lukisan terbarunya itu sudah 90 persen jadi. Sudah menghabiskan sekitar 18 pak obat nyamuk, dan beberapa slop rokok. Katanya juga sudah laku. Sudah dipesan orang Jakarta. Harganya di atas Rp 100 juta. Oleh karena itu, dia meminta koran ini untuk tidak mempublikasikan gambar lukisan tersebut.

Wawan Geni gemar melukis sejak kecil. Namun baru menekuni ketika lulus STM pada 2000. Saat itu, dia masih melukis menggunakan cat akrilik. Harga karyanya juga belum sefantastis sekarang.

Pria yang pernah menempuh pendidikan di Institus Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta itu baru melukis dengan teknik bakar obat nyamuk pada 2003. Berawal dari ide coba-coba, tapi lantas berjalan sampai sekarang. Dia seniman pertama di Indonesia yang melukis dengan teknik unik. Namanya bahkan diabadikan di Museum Rekor Indonesia (MURI) pada 2006 silam.

Selama 17-an tahun ini, Wawan Geni mengaku karyanya belum sampai 100 buah. Namun sudah terjual hingga mancanegara. 90 persen pembeli lukisannya dari luar negeri. Mulai dari Singapura, Perancis, India, hingga Amerika.

Wawan Geni mendapat pasar itu karena sering mengikuti pameran. Selain itu juga berkat Candi Borobudur yang banyak menarik wisatawan asing. Dia biasa menitipkan karyanya di Limanjawi Art House, galeri milik seniman Umar Chusaeni di Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur.

“Lukisan dengan obat nyamuk ini harganya empat kali lipat dari lukisan cat akrilik. Dulu pernah ada yang beli lukisan saya seharga USD 7.500 (hampir Rp 100 juta, Red),” katanya. (rhy/aro) Editor : Agus AP
#KARYA SENI #Lukisan