Di masa kanak-kanak ini, seharusnya ia bisa bermain bola di tanah lapang. Atau mengejar layangan putus di pematang sawah. Namun, sakit jantung bocor yang diderita sejak bayi, membuatnya kehilangan masa-masa itu.
Diceritakan sang ayah, Darman, 54, untuk sekolah pun, dulu sebelum pandemi, Aji tidak bisa seperti teman-temannya. Bocah yang kini duduk di bangku kelas 2 SD itu tidak bisa ikut pelajaran praktik olahraga. Paling hanya ikut gerak jalan. Itu pun didampingi sang ibu. Bahkan, tak jarang ketika lelah, sang guru yang menyediakan punggung untuk menggendong Aji.
Ketika Jawa Pos Radar Semarang berkunjung ke rumahnya di Dusun Citran, Desa Donorejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang pada Jumat (13/11) siang, polah bocah itu begitu manja. Sesekali ia merengek menanyakan ponsel sembari memegang jemari ayahnya itu.
Tidak bertepuk sebelah tangan, Darman pun begitu mengasihinya. Dari sorot matanya, terlihat jelas jika Darman tidak ingin kehilangan putranya. Terlebih, pada Oktober kemarin ia baru kehilangan anak keduanya yang masih bayi karena sakit yang sama.
Kata Darman, Aji baru saja kontrol di Rumah Sakit Dr Sardjito Jogjakarta pada Senin (9/11) lalu. Ia lantas menunjukkan segulung obat dalam plastik. Jumlahnya banyak sekali.
Darman bukan orang berada. Meskipun rumahnya sudah berdinding tembok dan berlantai keramik, hidup keluarganya begitu pas-pasan. Sehari-hari, Darman bekerja serabutan. Menjadi kuli bangunan hingga menjadi buruh tani ia lakoni. Sementara soal rumah, itu adalah peninggalan orang tua Darman.
Perjuangan Darman untuk pengobatan anaknya pun cukup berliku. Ia pernah mengalami suatu masa di mana dalam seminggu harus menyisihkan uang sekitar Rp 250 ribu dari bekerja untuk membeli obat Aji. Itu pun hanya obat herbal. Pasalnya, ia tidak punya cukup uang untuk melanjutkan pengobatan di rumah sakit.
“Saya orang kurang pengalaman, Mbak. Lulusan SD. Waktu itu mau ngurus apa-apa ke desa ya nggak berani. Akhirnya ya nggak sambat ke siapa-siapa. Hanya berusaha semampu saya,” kata Darman.
Beruntung, sekitar lima bulan lalu ia bertemu orang baik. Dialah Aipda Donny Sugiarto, Bhabinkamtibmas Polsek Mertoyudan. Berawal dari pembahasan kisah keluarga Darman dari mulut adiknya yang merupakan perangkat desa setempat. Donny tergugah untuk hadir di tengah-tengah keluarga Darman. Donny bak superhero bagi Aji. Ia menjadi penyambung donatur untuk biaya pengobatannya. Bahkan, ia juga meminjamkan fasilitas kendaraan ketika Aji harus kontrol. Termasuk membimbing pengurusan administrasi.
“Soal donasi, saya nggak berani ngulah-ngulah, Mbak. Pak Donny yang pegang,” ujar Darman. “Pokoknya buat biaya pengobatan Aji. Untuk hidup sehari-hari, saya tetap kerja sebisa saya,” imbuhnya.
Darman bersyukur kini biaya pengobatan Aji gratis. Bahkan, Aji tengah menunggu panggilan dari salah satu rumah sakit di Jakarta untuk operasi. Harapan Darman agar Aji bisa sembuh pun terus disemai. Segala doa dipanjatkan agar anaknya bisa sehat. Sembari berusaha memberi anaknya penjelasan, sesederhana mengatakan: “obate diminum yo, le. Ben cepet sehat,”. (cr3/aro) Editor : Agus AP