RADARSEMARANG.ID - Bulu babi, atau memiliki nama latin Echinus spp merupakan binatang dari keluarga Echinidae.
Merupakan keluarga binatang bertebrata yang hidup di perairan laut dangkal tropis dan sub-tropis.
Dilansir kehati.jogjaprov.go.id, seringkali Bulu Babi mudah ditemukan di daerah pasang-surut hingga kedalaman 5000 meter dengan subtrat karang maupun pasir.
Keluarga Echinidae adalah kelompok klasifikasi binatang laut berbentuk bundar dan tubuh yang dipenuhi duri yang bisa ia gerakkan ke seluruh permukaan tubuh.
Duri-duri ini jika dilihat dengan seksama akan terlihat bahwa duri binatang ini memiliki sendi pada bagian tuberkelnya, atau bagian yang menonjol.
Binatang ini memiliki duri pada setiap sisi tubuhnya sehingga membuatnya terlihat seperti bola berduri.
Bulu babi sering juga disebut masyarakat Indonesia sebagai landak laut, meskipun di beberapa daerah lebih dominan menggunakan kata penyebutan Bulu Babi.
Spesies ini memiliki beragam jenis sub-spesies berbeda yang cukup banyak, yakni keragaman jenis dari spesies binatang ini mencapai 14 jenis.
Binatang ini menjadi sorotan para warganet usai trending di akun sosial media karena dinilai menyinggung perasaan warganet terkait kesalahpahaman dengan seorang youtuber.
Medy Renaldy, seorang content creator Aplikasi Youtube dan TikTok harus menerima 'ganasnya' hujatan warganet Indonesia.
Hal tersebut lantaran ia mengkonsumsi hidangan yang terbuat dari hewan Bulu Babi, netizen yang salah kaprah mengira bahwa ia memakan hidangan dari hewan babi.
Kendati demikian, sebagai seorang pemeluk agama Islam, Medy Renaldy mencoba memberikan pengertian bahwa kudapan yang ia makan berhukum halal.
Baca Juga: Temukan Fosil Binatang Purba di Kudus, Ini Kelakar Arkeolog
Tetapi beberapa netizen yang 'gagal paham' masih berusaha menghujat dan bahkan ada yang mengajak youtuber ini berkelahi.
Bulu Babi sendiri merupakan binatang yang halal untuk dikonsumsi, walaupun terdapat kata 'babi', binatang ini merupakan biota laut dan tidak terdapat kemiripan sama sekali dengan babi yang diharamkan.
Bahkan, beberapa masyarakat asli Gunungkidul, Yogyakarta memanfaatkan hewan ini sebagai bahan konsumsi dan obat-obatan.
Editor : Baskoro Septiadi