RADARSEMARANG.ID - Pecinan merupakan kawasan atau wilayah administratif yang dihuni oleh masyarakat keturunan Tionghoa, biasanya kawasan ini merupakan situs bersejarah yang sudah ada sejak jaman dahulu.
Salah satunya di Kawasan Pecinan Semawis Semarang, kawasan dengan nuansa China, dengan perumahan, bangunan dan toko yang mengindikasikan bahwa daerah tersebut menjadi tempat tinggal bagi warga keturunan Tionghoa yang bermukim di Semarang.
Tak jauh dari Semarang, tepatnya di Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang juga terdapat sebuah wilayah yang dahulu merupakan Chineesche Kamp atau Pecinan.
Seorang content creator bernama @tandjoengsari, seorang konten kreator sejarah dan kebudayaan mengatakan bahwa dahulu di sebuah desa bernama Grabag, masyarakat Tionghoa, Belanda dan Jawa hidup berdampingan serta membuat desa tersebut cukup maju.
Desa Grabag menjadi salah satu wilayah yang kerap dikunjungi oleh para pelancong, terbukti dengan sebuah peta kuno yang menyebutkan bahwa dulunya daerah ini terdapat klenteng, restoran hingga bar dan tempat billiard.
Di desa ini disebutkan masyarakat keturunan Tionghoa kebanyakan hidup dengan bergantung pada sektor penjualan tembakau, untuk keperluan sigaret atau rokok.
Dilansir Website Kota Toea Magelang, konon pengkotak-kotakan wilayah yang diisi ras tertentu merupakan inisiasi pemerintahan Hindia-Belanda untuk gampang mengawasi kegiatan komunal suatu ras tanpa meleburkannya.
Dari pemisahan wilayah ini lahirlah beberapa kawasan yang memang khusus ditinggali oleh suatu ras tertentu, salah satunya Pecinan Grabag yang bisa ditelusuri lebih jauh lagi sekarang.
Bahkan terbukti dari berbagai usaha milik pengusaha Tionghoa Grabag yang tercatat di catatan sipil milik Pemerintahan Hindia-Belanda.
Beberapa diantaranya sebuah perusahaan bis Adam Grabag milik Tan Shing Djiang juga Pabrik Tembakau dengan nama Oei Tjing Lin.
Sayangnya, kini hanya sedikit bukti fisik yang dapat ditemukan dari kawasan Pecinan di Grabag, Kabupaten Magelang ini.
Di salah satu rumah, terdapat sebuah bangunan tua yang konon milik seorang baba-nyonya kaya raya yang entah ada dimana rimbanya sekarang.
Bangunan yang tersisa tersebut memang memiliki arsitektur pecinan kolonial yang masih melekat dibeberapa sudut bangunan, entah dulu bangunan ini difungsikan sebagai apa, tapi @tandjoengsari berpendapat bahwa bangunan ini adalah tempat untuk pabrik cerutu atau lodgee penyimpanan kopi.
Dari sisi kebudayaan lokal, asimilasi yang terjadi antara suku Jawa dan Tionghoa melahirkan sebuah kuliner khas yang hanya bisa ditemui di Grabag.
Namanya adalah 'Gendolo Tauco' adalah sebuah makanan yang terdiri dari lontong atau gendolo yang berasal dari kebudayaan Jawa dipadukan dengan Tahu Tauco, makanan yang memang berasal dari Negeri Tirai Bambu.
Editor : Baskoro Septiadi