RADARSEMARANG.ID — Harga kebutuhan pokok memasuki September 2026 kembali menjadi perhatian masyarakat. Sejumlah komoditas pangan terpantau mengalami kenaikan pada awal bulan, mulai dari beras, cabai, hingga beberapa jenis protein hewani. Kondisi ini membuat masyarakat perlu mencermati pergerakan harga sembako sepanjang September.
Berdasarkan pantauan harga pangan nasional pada Selasa, 1 September 2026, mayoritas komoditas pangan menunjukkan pergerakan naik. Beras, berbagai jenis cabai, daging ayam, hingga daging sapi termasuk komoditas yang mengalami kenaikan secara harian. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa harga kebutuhan pokok pada September masih berpotensi bergerak dinamis.
Namun, kenaikan harga tidak serta-merta terjadi pada seluruh komoditas. Ketersediaan stok, distribusi, kondisi cuaca, serta tingkat permintaan masyarakat turut menentukan pergerakan harga di tingkat konsumen.
Baca Juga: Proyek Geothermal Gunung Ungaran Picu Kekhawatiran, Krisis Air dan Gempa Mengintai
Beras Jadi Komoditas yang Perlu Diwaspadai
Beras menjadi salah satu kebutuhan pokok yang paling banyak diperhatikan karena merupakan makanan utama masyarakat Indonesia. Data harga pangan terbaru menunjukkan harga beras mengalami tekanan kenaikan pada awal September. Sejumlah jenis beras bahkan mencatat kenaikan di tingkat pasar.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena perubahan harga beras dapat memberikan dampak cukup luas terhadap pengeluaran rumah tangga. Meski demikian, pemerintah sebelumnya menyatakan stok beras dalam kondisi aman. Cadangan beras pemerintah yang dikelola Bulog disebut mencapai sekitar 5,2 juta ton per 8 Juli 2026.
Artinya, potensi kenaikan harga beras pada September lebih tepat dilihat sebagai risiko pergerakan harga di pasar, bukan indikasi bahwa Indonesia mengalami kekurangan stok beras secara nasional.
Cabai Masih Berpotensi Mengalami Kenaikan
Komoditas lain yang patut diperhatikan adalah cabai, terutama cabai rawit merah. Harga cabai dikenal sangat sensitif terhadap perubahan pasokan dan kondisi cuaca. Gangguan produksi maupun distribusi dapat dengan cepat mendorong harga di pasar tradisional.
Pada awal September, harga sejumlah jenis cabai kembali menunjukkan kenaikan. Cabai rawit merah juga masih berada pada level yang relatif tinggi. Sebelumnya, Bapanas mencatat harga cabai rawit merah berada di atas harga acuan pemerintah akibat gangguan pasokan yang dipengaruhi kondisi cuaca.
Namun, pemerintah juga menyebut tren harga komoditas tersebut mulai menunjukkan penurunan dan diharapkan semakin stabil. Karena itu, cabai menjadi salah satu komoditas yang berpotensi mengalami fluktuasi paling besar selama September.
Daging Ayam dan Telur Perlu Dipantau
Protein hewani juga masuk dalam daftar kebutuhan pokok yang perlu diperhatikan. Pada awal September, harga daging ayam tercatat mengalami kenaikan. Asosiasi Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) sebelumnya menyebut harga ayam berada di kisaran Rp43.000-Rp44.000 per kilogram menjelang September.
Pergerakan harga ayam dapat dipengaruhi biaya pakan, distribusi, permintaan, serta kondisi pasokan di tingkat peternak dan pedagang. Sementara itu, telur ayam ras juga perlu dicermati karena menjadi salah satu bahan pangan yang cukup sensitif terhadap perubahan harga pakan dan permintaan pasar.
Bagaimana dengan Minyak Goreng?
Minyak goreng juga masih menjadi komoditas yang perlu diperhatikan masyarakat. Bapanas sebelumnya mencatat harga Minyakita di sejumlah wilayah masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), meskipun pemerintah terus melakukan pengawasan dan menjaga distribusi.
Pemerintah juga terus mendorong pelaku usaha agar menjual komoditas pangan sesuai ketentuan serta memastikan distribusi berjalan lancar. Dengan demikian, pergerakan harga minyak goreng pada September akan sangat bergantung pada distribusi dan kondisi pasokan di masing-masing daerah.
Baca Juga: Honda NS150GX 2027 Desain Motor Kombinasi PCX dan Forza, Ini Spesifikasi Lengkap dan Harganya
Harga Kebutuhan Pokok September Bisa Berbeda Antarwilayah
Masyarakat perlu memahami bahwa harga sembako nasional tidak selalu sama dengan harga di pasar daerah. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia menyediakan pemantauan harga berbagai komoditas, termasuk beras, bawang merah, bawang putih, cabai, daging ayam, daging sapi, gula, minyak goreng, dan telur.
Data tersebut menunjukkan harga dapat berbeda berdasarkan wilayah dan jenis pasar. Karena itu, konsumen sebaiknya tidak hanya melihat harga rata-rata nasional ketika menghitung kebutuhan belanja rumah tangga, tetapi juga memperhatikan harga di pasar atau toko yang menjadi tempat mereka berbelanja.
Inflasi dan Harga Pangan Masih Menjadi Perhatian
Tekanan harga pangan juga perlu dilihat dalam konteks inflasi nasional. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan Indonesia 2026 sebesar 2,88 persen. Pada periode yang sama, Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,14 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan inflasi secara umum masih berada dalam kondisi yang relatif terkendali. Namun, harga komoditas pangan dapat bergerak berbeda-beda dari waktu ke waktu sehingga kondisi inflasi secara umum tidak selalu menggambarkan perubahan harga setiap komoditas di pasar.
BPS juga mencatat Indeks Harga Produsen (IHP) pada triwulan II 2026 meningkat 2,83 persen secara kuartalan. Pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, IHP naik 1,36 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.
Perubahan harga di tingkat produsen tersebut menjadi salah satu faktor yang layak diperhatikan ketika melihat potensi pergerakan harga di tingkat konsumen. Kenaikan biaya pada tingkat produksi dapat memberikan tekanan terhadap harga barang ketika sampai ke rantai distribusi dan pasar.
Daftar Barang yang Berpotensi Naik pada September 2026
Jika melihat perkembangan harga pada awal September dan sejumlah faktor yang memengaruhinya, beberapa komoditas yang patut dipantau masyarakat antara lain beras, cabai rawit merah, cabai merah, daging ayam, telur ayam, dan minyak goreng.
Beras perlu diperhatikan karena harga sejumlah jenis beras mengalami kenaikan pada awal September. Cabai rawit merah juga berpotensi mengalami fluktuasi karena sangat sensitif terhadap kondisi cuaca dan kelancaran pasokan. Sementara cabai merah turut mengalami pergerakan harga di pasar.
Daging ayam juga masuk dalam daftar komoditas yang perlu dipantau karena terpantau mengalami kenaikan pada awal September. Telur ayam dapat dipengaruhi oleh biaya produksi dan permintaan pasar, sedangkan minyak goreng, khususnya Minyakita, perlu diperhatikan apabila terdapat tekanan pada biaya distribusi maupun pasokan.
Namun, daftar tersebut merupakan komoditas yang berpotensi mengalami kenaikan atau fluktuasi, bukan kepastian bahwa seluruh harganya akan naik sepanjang September. Pergerakan harga tetap bergantung pada kondisi pasokan, distribusi, produksi, cuaca, serta permintaan masyarakat.
Apa yang Perlu Dilakukan Masyarakat?
Menghadapi kemungkinan perubahan harga sembako, masyarakat dapat mengatur belanja dengan membuat prioritas kebutuhan. Pembelian kebutuhan pokok yang memang diperlukan dapat dilakukan lebih terencana, sementara konsumen juga dapat membandingkan harga dari beberapa pasar atau toko sebelum berbelanja.
Yang tidak kalah penting, masyarakat perlu mengikuti perkembangan harga pangan dari sumber resmi karena harga komoditas dapat berubah setiap hari. Dengan memantau harga dan menyesuaikan pola belanja, masyarakat dapat mengantisipasi perubahan harga kebutuhan pokok selama September 2026. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi