RADARSEMARANG.ID, Harga Bitcoin BTC $63.794 nyaris nggak bergerak pada hari Selasa. Selama 5 minggu terakhir, BTC terjebak di "zona stagnasi".
Harga cuma naik-turun di area $62.000 - $66.000 dan belum bisa kemana-mana.
Penyebabnya? Ada perang tarik-menarik: Arus masuk ETF Bitcoin Spot ketemu aksi jual penambang dan perusahaan.
Baca Juga: Bitcoin Pulih Paska Perdagangan ETF Hongkong dan Penetapan Suku Bunga oleh The Fed
Lalu akankah data inflasi AS hari Rabu jadi pemicunya?
Kondisi Harga Bitcoin Hari Ini
Harga Sekarang: $63.794 atau sekitar Rp1,13 miliar
24 Jam Terakhir: Turun 0,6% ke area $63.500
5 Minggu Terakhir: Stuck di range $62.000 - $66.000
Volume perdagangan kripto juga turun ke level terendah dalam 3 tahun.
Artinya pasar lagi sepi dan nggak ada tenaga buat dorong harga naik atau turun signifikan.
Penyebab Stagnasi: ETF vs Aksi Jual Korporasi
Menurut Paul Howard, direktur senior Wincent, ada 2 kekuatan yang saling tarik:
1. Sisi Pembeli: ETF Bitcoin Spot
Dana ETF Bitcoin Spot terus dapat arus masuk stabil. Ini jadi sumber permintaan baru yang "nggak sensitif harga".
Artinya mau harga berapapun, mereka tetap beli.
Baca Juga: Harga Telur Anjlok di Bawah HPP, 5.500 Ayam Dibagikan Gratis di Temanggung
2. Sisi Penjual: Penambang + Perusahaan
Di sisi lain, para penambang dan perusahaan besar seperti Strategy / MSTR lagi jualan lewat OTC untuk butuh kas.
Aktivitas perbendaharaan perusahaan ini memberikan tekanan jual yang besar.
Hasilnya? Saling mengimbangi. Makanya BTC minggu lalu cuma naik 2% padahal arus masuk ETF kuat dan pasar saham juga hijau.
Analis Bitfinex menyebut ETF dan perusahaan perbendaharaan bitcoin sekarang jadi 2 sumber permintaan utama. Tapi karena sama-sama besar, jadinya imbang.
Katalis Berikutnya: Data CPI AS Hari Rabu
Pasar sekarang nunggu 1 hal: Data inflasi CPI AS hari Rabu."Keyakinan tipis di kedua sisi karena likuiditas rendah musim panas," kata Jeff Anderson dari STS Digital.
Volatilitas juga anjlok karena pedagang nunggu kejelasan kebijakan moneter Fed dan nasib Digital Asset Market Clarity Act.
Artinya: Pasar siap meledak ke atas atau ke bawah kalau BTC berhasil keluar dari range $62.000 - $66.000.
Baca Juga: Inflasi Medis Capai 17,8 Persen, Allianz Edukasi Pentingnya Asuransi Kesehatan Berkelanjutan
Data CPI ini penting karena ini bacaan inflasi pertama setelah konferensi pers Ketua Fed Juli kemarin.
Kalau inflasi tinggi = kemungkinan suku bunga tetap tinggi = Bitcoin bisa koreksi.
Kalau inflasi turun = harapan suku bunga turun = Bitcoin bisa rally.
Prediksi Analis: Konsolidasi Sampai September?
Paul Howard memperkirakan konsolidasi ini akan lanjut sampai pertengahan September kalau nggak ada katalis fundamental baru.
Katalis yang ditunggu: Data CPI & Suku Bunga Fed
Kemajuan Regulasi Digital Asset Market Clarity Act - ini bisa jadi pemicu lonjakan signifikan berikutnya.
Posisi di pasar derivatif juga menunjukkan investor masih "bertahan". Mereka pasang proteksi dan belum berani bertaruh besar untuk lonjakan segera.
3 Faktor yang Masih Pengaruhi Harga Bitcoin
Tekanan Jual: Aksi jual dari whale, penambang, dan perusahaan yang butuh likuiditas
Sentimen Makro: Data inflasi CPI, keputusan suku bunga bank sentral AS
Volatilitas: Memang sudah lumrah di siklus kripto. Koreksi bisa datang sewaktu-waktu karena sentimen global
Baca Juga: Kemuakan Masyarakat Barcelona Kepada Turis Asing Sehingga Menciptakan Sentimen Anti Turis
Tahan Napas Dulu
Bitcoin saat ini lagi "tidur". Kekuatan beli dari ETF ketemu kekuatan jual dari korporasi.
Hasilnya: harga jalan di tempat.Para trader sekarang tahan napas nunggu data CPI hari Rabu. Data itu bisa jadi pemicu BTC keluar dari kisaran $62.000 - $66.000 dan memulai tren baru.
Buat investor: ini waktu yang bagus buat DCA atau sekadar pantau. Jangan FOMO dulu sebelum ada arah yang jelas.(tas)
Editor : Tasropi