RADARSEMARANG.ID - Ketidakpastian ekonomi global masih membayangi pasar modal Indonesia. Kondisi tersebut membuat investor cenderung menahan transaksi sambil menunggu arah pergerakan pasar yang lebih jelas.
Dampaknya, nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) turun menjadi sekitar Rp 12 triliun. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu transaksi harian mampu mencapai sekitar Rp 24 triliun.
Kepala Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Tengah Fanny Rifqi El Fuad mengatakan, karakter investor saat ini masih didominasi sikap wait and see.
Baca Juga: Delapan Bulan Mangkrak, Lima Dapur MBG 3T Jateng Belum Beroperasi
Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan penguatan dibanding pekan sebelumnya, pelaku pasar masih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
"Kalau kita lihat dari transaksi yang saat ini berada di satu hari itu sekitar Rp 12 triliun, investor masih wait and see ya. Dibandingkan tahun kemarin yang rata-rata satu hari itu bisa sampai Rp 24 triliun," ujarnya di Kantor BEI Semarang usai sosialisasi dan edukasi pasar modal, Selasa (21/7).
Ia menambahkan saat ini IHSG mulai menunjukkan perbaikan. Menurutnya kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia, aksi buyback saham BUMN, hingga meredanya ketegangan geopolitik setelah adanya kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran turut menopang pergerakan pasar.
Namun, arus dana investor asing masih mencatatkan net sell hingga Rp 75,6 triliun sepanjang Januari-Juli 2026. Kondisi itu turut menekan pergerakan IHSG dibandingkan tahun sebelumnya.
Di tengah perlambatan transaksi tersebut, minat masyarakat berinvestasi di pasar modal justru terus meningkat.
Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Juni 2026, jumlah investor pasar modal di Jawa Tengah mencapai 3,19 juta investor.
Dari data tersebut Kota Semarang mencatatkan jumlah investor terbanyak yakni 198 ribu orang.
"Angka itu menempatkan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan jumlah investor terbesar keempat di Indonesia. Kota Semarang menjadi daerah dengan jumlah investor terbanyak, yakni 198.180 single investor identification (SID)," bebernya.
Melihat kondisi pasar yang masih berfluktuasi, pihaknya pun mengimbau investor, khususnya pemula, agar tidak terburu-buru membeli saham hanya karena harga sedang turun.
Baca Juga: Perpus Jateng Kena Efisiensi, Anggaran Pengadaan Buku Dipangkas Rp115,98 Juta
Menurutnya, keputusan investasi tetap harus didasarkan pada analisis serta disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.
Sementara Kepala Unit Edukasi Layanan Jasa Investor KSEI Abdul Azis Albakkar mengatakan, mayoritas investor di Jawa Tengah justru berasal dari kelompok usia muda.
Kondisi ini sejalan dengan pertumbuhan investor muda di pasar modal Indonesia yang mencapai 78 persen sejak tahun 2026.
Sedangkan dari sisi pekerjaan, investor di Jawa Tengah didominasi oleh profesi karyawan (karyawan swasta, pegawai negeri, guru, TNI/ polisi/ pensiunan) dengan total 48 persen.
"Investor pasar modal di Jawa Tengah didominasi oleh investor muda berusia kurang dari 30 tahun dan 31-40 tahun dengan total 82,97 persen," ungkapnya. Sementara salah satu Gen Z Faiza mengaku saat ini tak bisa berbuat banyak, yang dilakukannya hanya diam memantau pergerakan saham.
"Kondisi ekonomi sulit, pada anjlok pengennya beli banyak tapi nggak ada uang. Iya kalau kalau sahamnya naik, kalau jadi anjlok lagi ya pusing," akunya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi