RADARSEMARANG.ID - Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah terus mengambil langkah konkret untuk menjaga inflasi dan stabilitas pangan. Upaya itu dilakukan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang mempertemukan 111 produsen dan 99 offtaker (pembeli) bahan pokok penting.
Temu bisnis ini digelar dalam Rapat Koordinasi TPID dan Temu Bisnis Kerja Sama Antardaerah Intra Provinsi Jawa Tengah di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (10/6).
Kepala Perwakilan BI Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Tujuannya memperkuat ketahanan pangan sekaligus efisiensi distribusi.
"Yang kita lakukan hari ini adalah bagian dari efisiensi distribusi itu. Kita coba pertemukan para produsen bahan pangan pokok dengan offtaker," ujarnya.
Ia menjelaskan keberadaan offtaker akan membantu menyerap hasil produksi petani dan menghubungkannya dengan daerah-daerah yang membutuhkan pasokan. Menurutnya dengan distribusi yang lebih efisien, harga pangan diharapkan lebih terkendali.
"Harapannya offtaker ini bisa mengumpulkan bahan-bahan pangan yang diproduksi oleh para produsen dan untuk dipasarkan di wilayah Jawa Tengah. Sehingga harga-harga mudah-mudahan bisa lebih terkendali dan harapannya tidak lebih mahal daripada harga di Jakarta," jelasnya.
BI Jateng juga mulai menyusun basis data pasokan dan kebutuhan komoditas pangan untuk memudahkan pencocokan antara daerah penghasil dan daerah yang membutuhkan. Komoditas yang paling banyak diminati dalam temu bisnis tersebut antara lain beras, cabai, minyak goreng, bawang merah, jagung, dan telur.
"Mudah-mudahan dari pertemuan antara produsen dan offtaker ini dicapai transaksi ataupun komitmen untuk melakukan kerjasama perdagangan. Untuk mendukung itu kami juga buatkan database-nya supaya koordinasi dengan TPID bisa lebih optimal," ungkapnya.
Dari temu bisnis itu komoditas paling diminati offtaker adalah beras cabai, minyak goreng, hingga bawang merah.
Sementara Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai kerja sama antardaerah menjadi kunci menjaga ketersediaan dan keterjangkauan bahan pokok di tengah berbagai tantangan ekonomi.
"Prinsip rakor ini kita gunakan agar terjadi kerja sama di antara para bupati dan stakeholder yang ada sehingga ketersediaan dan keterjangkauan bahan pokok penting bagi masyarakat terkendali," kata Luthfi.
Menurutnya, keberhasilan menjaga pasokan pangan akan berdampak langsung pada stabilitas inflasi Jawa Tengah yang selama ini termasuk terbaik secara nasional.
"Secara tidak langsung maka output-nya adalah bagaimana inflasi di Jawa Tengah bisa terjaga yang ini secara nasional kita sudah bagus dan harus kita pertahankan," tegasnya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi