Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Serikat Pekerja Starbucks Tolak Tawaran Kenaikan Gaji 2 Persen, Ternyata Ini Alasan Mereka

Aris Hariyanto • Kamis, 1 Mei 2025 | 01:25 WIB
Ilustrasi pekerja Starbucks.
Ilustrasi pekerja Starbucks.

RADARSEMARANG.ID - Serikat pekerja Starbucks, baru-baru ini telah membuat keputusan yang cukup mengejutkan.

Melalui delegasi Workers United, mereka menolak tawaran kenaikan gaji tahunan sebesar 2 persen dari perusahaan.

Mungkin kita akan berpikir, "Kenapa sih mereka nolak tawaran yang di atas kertas terlihat cukup oke?" Ternyata, alasannya lebih rumit daripada sekadar persentase.

Menurut laporan Bloomberg pada 28 April 2025, Workers United mengungkapkan sekitar 500 barista dari lebih dari 550 gerai Starbucks di AS ikut memberikan pendapat.

Hasilnya? 81 persen delegasi menolak usulan tersebut, sementara 14 persen menerimanya, dan sisanya memilih abstain.

Situasinya jelas lebih kompleks dari yang terlihat. Jadi, apa alasan sebenarnya di balik langkah berani serikat pekerja ini?

Jam Kerja yang Tak Pasti

Alasan pertama, tawaran kenaikan gaji 2 persen dianggap jauh dari cukup karena tidak memberikan jaminan jam kerja minimum.

Para pekerja merasa tidak ada kepastian jumlah jam kerja yang bisa mereka andalkan setiap minggu. Bagi mereka yang hidup dari pendapatan tetap, hal ini adalah masalah besar.

Tunjangan Kesehatan yang Dinilai Kurang

Selain itu, tunjangan kesehatan menjadi sorotan utama. Bagi para pekerja, fasilitas kesehatan adalah kebutuhan dasar, bukan sekadar fasilitas tambahan.

Namun, tawaran kenaikan ini seolah mengabaikan pentingnya jaminan kesehatan bagi karyawan.

Tuntutan Kesejahteraan pekerja Starbucks

Tidak berhenti di situ, kenaikan gaji itu sendiri dianggap tidak mencerminkan dukungan perusahaan terhadap kesejahteraan karyawan.

Salah satu perwakilan serikat pekerja bahkan mengibaratkan tawaran ini sebagai “setetes air di padang pasir”, mengacu pada tekanan inflasi dan kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Serikat pekerja juga mengkritik minimnya komitmen perusahaan dalam proses negosiasi.

Menurut mereka, perusahaan belum menunjukkan itikad baik untuk mencapai kesepakatan yang adil bagi kedua belah pihak.

Walau beberapa isu seperti keselamatan kerja, ketentuan berpakaian, dan kebijakan kehadiran sudah berhasil disepakati, masalah jam kerja, tunjangan kesehatan, dan kenaikan gaji tetap menjadi kendala besar.

Michelle Eisen, salah satu anggota serikat pekerja, menyatakan dengan tegas bahwa tuntutan mereka bukan sekadar permintaan.

“Barista yang tergabung dalam serikat pekerja meminta Starbucks untuk meningkatkan upah dan tunjangan kami. Ini bisa dilakukan dengan menambah alokasi dana dalam kontrak,” ujarnya.

Editor : Baskoro Septiadi
#serikat pekerja #Pekerja Starbucks #Workers United #tunjangan kesehatan #kesejahteraan pekerja #starbucks #Kenaikan Gaji