RADARSEMARANG.ID, Semarang - Berbagai upaya untuk mengurangi sampah botol plastik. Salah satunya diolah menjadi serpihan, bahkan diekspor ke berbagai mancanegara.
Commercial Director Prevented Ocean Plastic Indonesia (POPI), Daniel Lawrence, menjelaskan pengolahan sampah botol air mineral plastik dikumpulkan, disortir, dicacah, dan dibersihkan. "Dari sini kita kirim ke Tangerang dan diekspor," katanya.
Botol air mineral berasal dari pengepul, pemulung dan bank sampah. Sehingga memberikan kesejahteraan warga.
"Karena industri didekatkan ke konsumen, kami menyiapkan aplikasi untuk meringankan warga untuk mengumpulkan botol," tuturnya.
Ia menambahkan, botol yang sudah dilepaskan dari tutup dan label diolah menjadi biji plastik. Pihaknya bisa memproses 800 ton per bulan.
"Kami juga memiliki lapak untuk mengumpulkan botol bekas, seperti di Demak, Bantul, dan beberapa daerah yang sedang disiapkan. Mereka menyuplai 150 ton per bulan," katanya.
Pihaknya menghindari sampah plastik agar tidak sampai ke laut. Karena sampah yang sudah di laut, kualitasnya berkurang apalagi terkena sinar matahari dan air laut. "Secara ekonomis kurang, dan secara kualitasnya menurun," jelasnya.
Dengan kerja sama ini, pihaknya secara tidak langsung membuka lapangan kerja kepada ibu-ibu yang kurang memiliki latar pendidikan.
"Kita training dulu agar memproses produksinya bayarannya UMR, sehingga kita mengurangi sampah plastik di negara ini dan membantu warga," tuturnya.
Pengolahan sampah botol plastik menjadi biji plastik sudah diekspor ke beberapa manca negara, seperti Jerman, Prancis, Portugal, Inggris, dan Amerika. "Di sana didaur ulang menjadi barang yang digunakan sehari-hari," jelasnya.
Perwakilan Direktorat Perumahan dan Kawasan Pemukiman Bappenas, Nur Aisyah Nasution, sangat mengapresiasi PT Prevented Ocean Plastic yang sudah menunjukkan hasil nyata sebagai upaya pengurangan sampah plastik.
Selain itu, kerja sama terus dilakukan karena rantai pembangunan daur ulang dapat terkoneksi dengan luar negeri.
Ia berharap, pada 2030 tidak ada lagi sampah yang bocor ke lingkungan sekitar. Karena terdapat timbunan sampah sebanyak 0,7 kilogram per hari per orang. "Sampah plastiknya ada 15 persen, harusnya masuk ke daur ulang," tuturnya. (fgr/web/bas)
Editor : Baskoro Septiadi