"Ora Popo Bapak Adol Lemah, Sing Penting Iso Kuliah”, Kisah Haru Mahasiswa Unnes Bikin Berkaca-kaca

Ida Fadilah • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 16:07 WIB
Pembina DPP Unnes yang juga Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto bersama Rektor Unnes Prof S Martono menyerahkan beasiswa pada mahasiswa di Kampus Unnes, Gunungpati, Semarang, Jumat (9/10/2026). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Pembina DPP Unnes yang juga Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto bersama Rektor Unnes Prof S Martono menyerahkan beasiswa pada mahasiswa di Kampus Unnes, Gunungpati, Semarang, Jumat (9/10/2026). (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang – Perjuangan orang tua agar anaknya bisa mengenyam pendidikan tinggi menjadi motivasi bagi Hardiyan Adinata untuk terus kuliah. Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Semarang (Unnes) angkatan 2023 itu bersyukur mendapat beasiswa yang membantu meringankan beban keluarganya.

Hardiyan mengaku, orang tuanya selalu berusaha memberikan yang terbaik demi pendidikannya. Bahkan, sang ayah pernah menyampaikan kesediaannya menjual tanah agar Hardiyan tetap bisa kuliah.

“Saya tidak bilang orang tua saya tidak mampu, tetapi orang tua pasti mengusahakan yang terbaik untuk saya. Bapak saya pernah bilang, "orapopo bapak adol lemah le, seng penting iso kuliah. Saya sangat bersyukur,” ungkap Hardiyan sembari berkaca-kaca, Jumat (9/10/2026).

Ia mengaku bersyukur mendapat beasiswa dari Dewan Penyantun Pendidikan (DPP) Unnes. Bantuan tersebut membuatnya merasa terbantu dalam melanjutkan pendidikan.

Baca Juga: Resmi Jabat Kepala BPKP Jateng, Ayi Riyanto Fokus Benahi Sistem Pencegahan Korupsi

Kisah serupa dirasakan Magfiroh, mahasiswa Program Studi Geografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unnes. Sebagai anak kedua dari dua bersaudara, ia menjadikan perjuangan ayahnya yang bekerja sebagai petani sebagai motivasi untuk terus berkembang.

“Saya merasa itu menjadi motivasi saya untuk bergerak dan terus berkembang. Saya merasa terbantu dan bangga bisa kuliah di Unnes,” ujarnya.

Magfiroh berharap kesempatan menempuh pendidikan di Unnes dapat membantunya menjadi pribadi yang lebih baik.

Tahun ini, DPP Unnes menyalurkan beasiswa senilai total Rp 3,38 miliar kepada 530 mahasiswa dari kalangan kurang mampu. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 2,8 miliar.

Penyerahan beasiswa dilakukan Pembina DPP Unnes yang juga Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto bersama Rektor Unnes Prof S Martono di Kampus Unnes, Gunungpati, Semarang.

Martono mengatakan, peningkatan nilai beasiswa menunjukkan dukungan DPP Unnes terhadap keberlangsungan pendidikan mahasiswa, khususnya mereka yang membutuhkan bantuan biaya kuliah.

“Untuk tahun ini beasiswa DPP yang disalurkan mencapai Rp 3,38 miliar untuk 530 mahasiswa. Kalau tahun lalu beasiswa yang disalurkan Rp 2,8 miliar, jadi nominalnya selalu naik,” kata Martono.

DPP Unnes beranggotakan 18 orang dari kalangan pengusaha yang menyalurkan bantuan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).

Beasiswa diberikan kepada mahasiswa dengan kategori UKT kelompok 1 sebesar Rp 500.000 per semester dan kelompok 2 sebesar Rp 1 juta per semester. Bantuan tersebut menanggung biaya UKT hingga semester delapan.

Baca Juga: Kebakaran Rumah di Kumudasmoro Semarang, Api Muncul dari Lantai Dua

Airlangga berharap beasiswa tersebut dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk menempuh pendidikan dengan baik dan mempersiapkan masa depan.

Menurutnya, tantangan dunia kerja ke depan akan semakin kompleks seiring perubahan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.

Ia mengingatkan, mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan ijazah setelah menyelesaikan pendidikan. Kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi menjadi bekal penting agar mampu menghadapi perubahan dunia kerja.

“Dunia terus berubah. Maka salah satu kuncinya yakni terus belajar,” kata Airlangga.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), bukan justru menghindarinya. Karena itu, kesiapan menghadapi perkembangan teknologi perlu dibangun sejak di bangku kuliah. (ifa)

Editor : Baskoro Septiadi
UNNES Airlangga Hartarto