Monitoring Bersama Perkuat Inovasi Pendidikan, SIPENA dan SMART Disiapkan Jadi Embrio TKAD Tegal

Khafifah Arini Putri • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 16:02 WIB
Pelatihan Penguatan Sistem Literasi dan Numerasi Adaptif di Kabupaten Tegal.
Pelatihan Penguatan Sistem Literasi dan Numerasi Adaptif di Kabupaten Tegal.

 

RADARSEMARANG.ID, Tegal - Inovasi pendidikan tidak cukup hanya melahirkan ide atau kegiatan baru. Praktik baik itu harus diterapkan di sekolah. Sehingga bisa memberi manfaat bagi peserta didik dan bisa berkelanjutan.

Hal itu menjadi fokus Monitoring Bersama Program Fasda Perubahan 2026 di Kabupaten Tegal, 9-10 September 2026. Kegiatan ini melibatkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, BBGTK Jawa Tengah, serta Tanoto Foundation.

Monitoring dilakukan dengan melihat langsung inovasi yang dikembangkan Tim ELIT dan Tim SMART. Kedua tim ini mendapat perhatian karena inovasinya selaras dengan program tes kemampuan akademik daerah (TKAD) yang tengah dikembangkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal.

Pemantauan tidak hanya untuk melihat kesesuaian kegiatan dengan rencana. Namun, juga memastikan inovasi memiliki manfaat nyata dan berpeluang dikembangkan dalam lingkup yang lebih luas.

Pada hari pertama, tim monitoring mengikuti In Service Training (IST) II Tim ELIT. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengembangan Sistem Penguatan Literasi dan Numerasi Adaptif (SIPENA), yang terdiri atas In Service Training I, On the Job Training I, In Service Training II, On the Job Training II, dan In Service Training III.

Ketua Tim ELIT Ahmad Jazuli menyampaikan SIPENA ini dirancang berdasarkan kebutuhan peserta didik. Kebutuhan tersebut diketahui melalui pengukuran menggunakan instrumen berbasis TKA secara berkala dan terprogram.

"Hasil pengukuran kemudian dianalisis untuk membantu guru menyusun pembelajaran dan program remedial yang sesuai. Data juga disampaikan kepada orang tua agar dapat digunakan untuk mendampingi anak belajar di rumah. Sementara kepala sekolah juga turut memperkuat program melalui pembiasaan yang mengasah kemampuan literasi dan numerasi siswa," jelas Ahmad.

Selanjutnya, IST II menjadi ruang bagi peserta untuk mengevaluasi penerapan SIPENA selama tahap On the Job Training I (OJT I). Peserta secara bergantian mempresentasikan praktik yang telah dilakukan di sekolah.

Mereka membahas praktik yang sudah berjalan, tantangan yang ditemui, serta bagian yang masih perlu diperbaiki. Hasil refleksi tersebut kemudian menjadi bahan untuk menentukan penguatan pada tahap OJT II.

"Proses tersebut penting untuk memastikan SIPENA terus berkembang berdasarkan pengalaman nyata di sekolah," imbuhnya.

Pada hari kedua, giliran Tim SMART yang menjadi perhatian. Tim monitoring mengunjungi SMPN 1 Kramat dan SMPN 3 Pangkah untuk melihat penerapan SMART dalam pengelolaan asesmen dan rapor.

Tim monitoring melihat proses asesmen bersama peserta didik. Mereka juga mengamati pengelolaan data melalui sistem SMART serta mendengarkan pengalaman sekolah selama menggunakan sistem tersebut.

Ketua Tim SMART Sudiyanti menyampaikan pemanfaatan data menjadi salah satu hal yang diperhatikan. Data asesmen diharapkan tidak sekadar menjadi angka atau laporan, tetapi dapat membantu sekolah memahami kondisi peserta didik dan menentukan tindak lanjut pembelajaran.

Pihaknya pun menunjukkan langsung proses implementasi inovasi di sekolah. Pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi untuk melihat bagian yang sudah berjalan baik dan aspek yang masih perlu diperkuat.

"Rangkaian SMART terdiri atas Lokakarya I, Lokakarya II, Pendampingan, dan Lokakarya III. Tahap terakhir berfokus pada refleksi dan rencana tindak lanjut," kata Sudiyanti.

Sementara Widyaiswara BBGTK Jawa Tengah dr. Waryono melihat langsung proses implementasi, memberikan kesempatan untuk memahami bagaimana inovasi diterapkan dalam konteks nyata sekolah. Kolaborasi dalam monitoring juga menjadi ruang bagi berbagai pihak untuk memberikan penguatan berdasarkan pengalaman di lapangan. 

"Melihat langsung implementasi memberikan gambaran mengenai penerapan inovasi dalam kondisi nyata di sekolah," ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal Winarto, menilai inovasi melalui Fasda Perubahan perlu terus diarahkan pada kebutuhan pendidikan di daerah.

"SIPENA dan SMART direncanakan menjadi embrio TKAD Kabupaten Tegal. Pengalaman selama pengembangan dan penerapan inovasi dapat menjadi bahan untuk melihat peluang pengembangannya dalam skala lebih luas," ungkapnya.

Regional Lead Tanoto Foundation Jawa Anang Ainur Roziqin mengatakan, Fasda Perubahan tidak hanya berfokus menghasilkan inovasi. Program tersebut juga mendorong proses agar inovasi terus berkembang berdasarkan praktik di lapangan.

"Monitoring selama dua hari menunjukkan perjalanan setiap inovasi tidak selalu sama. SIPENA memperkuat penerapan berdasarkan pengalaman sekolah. Sementara SMART melihat langsung bagaimana sistem digunakan dan dimanfaatkan sekolah," kata Anang.

Menurutnya, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan inovasi memberikan manfaat bagi sekolah dan peserta didik.

"Proses tersebut sekaligus menunjukkan bahwa keberlanjutan inovasi membutuhkan kolaborasi. Fasda mengembangkan dan memperbaiki inovasi, sekolah memberikan ruang untuk mencoba dan memberikan umpan balik, sementara pemerintah daerah dan mitra mendukung agar praktik baik memiliki peluang untuk berkembang lebih luas," bebernya.

Sebab itu, dengan SIPENA dan SMART sebagai embrio TKAD Kabupaten Tegal, inovasi yang dikembangkan melalui Fasda Perubahan diharapkan tidak berhenti pada rangkaian kegiatan. Praktik yang sudah dibangun dapat menjadi pijakan untuk menghadirkan solusi pendidikan yang sesuai kebutuhan daerah dan teruji di sekolah. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
praktik baik Kabupaten Tegal JAWA TENGAH Inovasi Pendidikan tanoto foundation