RADARSEMARANG.ID - Soegijapranata Catholic University (SCU) Semarang terus mendorong transformasi sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya mengejar capaian akademik di usianya yang telah menginjak 44 tahun. Penguatan budaya mutu menjadi salah satu pijakan untuk menghadapi perubahan dunia pendidikan yang semakin cepat.
Hal itu tercermin dari berbagai capaian SCU sepanjang Tahun Akademik 2025/2026. Mulai dari akreditasi institusi berpredikat Unggul, penguatan akreditasi program studi, hingga masuk dalam pemeringkatan universitas berkelanjutan tingkat dunia.
SCU saat ini memiliki 27 program studi yang mencakup jenjang sarjana, profesi, magister, dan doktor. Dari jumlah tersebut, 10 program studi telah memperoleh akreditasi Unggul dan delapan lainnya berstatus Baik Sekali. Sementara lima prodi berstatus Baik, tiga prodi dengan status akreditasi lainnya, dan satu prodi masih berstatus akreditasi sementara.
Di tingkat institusi, SCU juga telah memperoleh akreditasi Unggul berdasarkan SK Akreditasi Nomor 263/SK/BAN-PT/AK.KP/PT/IV/2023. Akreditasi tersebut berlaku hingga 27 Januari 2027. Saat ini, SCU mulai mempersiapkan proses reakreditasi.
Tidak berhenti di bidang akademik, SCU juga mencatat capaian dalam aspek keberlanjutan. Berdasarkan data Desember 2025, SCU menempati peringkat ke-1.398 dalam UI GreenMetric World University Rankings sebagai World's Most Sustainable University.
Rektor SCU Robertus Setiawan Aji Nugroho mengatakan, capaian tersebut tidak seharusnya membuat universitas berhenti berbenah. Sebab, tantangan perguruan tinggi saat ini semakin kompleks, mulai perkembangan kecerdasan buatan, krisis ekologis, hingga perubahan karakter generasi muda.
“Namun, pada akhirnya, kualitas sebuah universitas tidak hanya diukur dari banyaknya publikasi, akreditasi, atau pemeringkatan dunia, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan harapan, membangun dialog, melahirkan solusi, serta menumbuhkan manusia-manusia yang mampu membawa perubahan sosial dan inovasi berkelanjutan bagi kehidupan bersama,"
Karena itu, SCU mengembangkan budaya mutu melalui Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Pelaksanaannya dilakukan melalui siklus Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan (PPEPP).
Evaluasi juga dilakukan secara berkala melalui Monitoring dan Evaluasi (Monev), Audit Mutu Internal (AMI), serta Rapat Tinjauan Manajemen (RTM). Hasilnya tidak hanya digunakan untuk menemukan kekurangan, tetapi juga mengidentifikasi praktik baik yang dapat diterapkan di unit lain.
SCU bahkan meluncurkan AMI Excellence Award 2026 untuk pertama kalinya. Penghargaan tersebut diberikan kepada unit dengan capaian AMI terbaik. Fakultas Ekonomi dan Bisnis menjadi pemenang pertama, disusul Program Magister Lingkungan dan Perkotaan sebagai pemenang kedua serta Program Magister Akuntansi sebagai pemenang ketiga.
Berbagai capaian itu menjadi bagian dari refleksi dalam Dies Natalis ke-44 SCU yang berlangsung Rabu (5/8) lalu di Auditorium Agnes Widanti, Kampus 1 SCU Bendan.
Mengusung tema “Berjumpa dan Menyala”, peringatan tersebut menjadi momentum bagi sivitas akademika untuk melihat kembali perjalanan SCU sekaligus menyiapkan langkah menghadapi tantangan ke depan.
Ketua Dies Natalis SCU Fidelis Aggiornamento Saintio, S.Fil., M.I.Kom. mengatakan, tema tersebut berangkat dari refleksi kampus terhadap berbagai ketidakpastian yang turut memengaruhi dunia pendidikan.
Dengan capaian yang telah diraih, SCU kini tidak hanya berupaya mempertahankan predikat yang sudah diperoleh. Kampus juga mendorong agar budaya mutu menjadi bagian dari proses pembelajaran dan pengembangan universitas secara berkelanjutan.
Semangat tersebut sejalan dengan arah Renstra SCU 2025-2029 yang mengusung tema “Collaboration for Joyful Campus and Joyful Futures”. Kampus diarahkan tidak hanya menjadi ruang pendidikan, tetapi juga tempat membangun kolaborasi dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, SCU ingin menegaskan bahwa optimisme dapat tumbuh dan dibangun melalui dialog dan kolaborasi. Kita mesti bersama-sama memikirkan berbagai persoalan bangsa sekaligus mencari solusi sesuai peran masing-masing,” katanya. (kap)
Editor : Baskoro Septiadi