RADARSEMARANG.ID - Tangan kecil Nadif Al-Farizi lincah mengambil bola warna-warni. Sesekali, bocah berusia 3 tahun itu berlari menghampiri teman-temannya, lalu kembali mendekati sang ibu, Misem. Ketika hendak meminjam mainan, ia berhenti sejenak.
“Permisi,” ucapnya pelan, seperti yang diajarkan ibunya.
Pemandangan itu terlihat dalam kegiatan Main Bareng, Tumbuh Bareng dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026 melalui Penguatan Pengasuhan dan Permainan Tradisional Anak di Rumah Anak SIGAP Kota Semarang, Senin (20/7). Kegiatan yang diinisiasi oleh Tanoto Foundation itu juga melibatkan Forum Anak Kota Semarang dalam pelaksanaan permainan tradisional.
Sulit membayangkan Nadif dahulu merupakan anak yang mudah tantrum. Misem mengaku bahwa saat pertama kali mengikuti kegiatan Rumah Anak SIGAP, putranya kerap menangis dan menolak pulang karena belum mampu mengelola emosinya.
“Dulu, awal-awal ke Rumah Anak SIGAP, dia tantrum. Diajak pulang enggak mau,” kenang Misem.
Kini, kondisinya jauh berbeda. Setelah rutin mengikuti kegiatan selama 25 bulan di Rumah Anak SIGAP, Nadif menjadi lebih mandiri. Ia mulai memahami aturan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
“Anaknya sekarang lebih mandiri,” kata Misem.
Perempuan berusia 32 tahun itu mengaku telah menjadi peserta Rumah Anak SIGAP selama 25 bulan. Ia mulai datang ketika Nadif baru berusia 20 bulan. Awalnya, ia hanya ingin memberikan stimulasi agar anaknya lebih siap bersosialisasi sebelum memasuki usia sekolah.
Namun, hasilnya justru di luar dugaan. Menurutnya, banyak manfaat yang diperoleh selama mengikuti kegiatan di Rumah Anak SIGAP. Bukan hanya anaknya yang belajar, tetapi dirinya sebagai orang tua juga ikut bertumbuh.
“Saya tahu Rumah Anak SIGAP dari teman. Niat awalnya supaya dia tidak takut saat mulai sekolah. Namun, ternyata banyak manfaatnya. Saya juga bisa belajar memberikan stimulasi,” tegasnya.
Misem bercerita bahwa keputusan membawa anaknya ke Rumah Anak SIGAP ternyata membawa perubahan, bukan hanya bagi Nadif, tetapi juga bagi dirinya sebagai orang tua.
Selama mengikuti kegiatan, Misem tidak sekadar mengantar anak bermain. Ia juga belajar mengenai pola pengasuhan, cara memberikan stimulasi sesuai usia anak, hingga pentingnya komunikasi positif di rumah. Pengetahuan itu kemudian ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadi, di rumah Nadif belajar makan sendiri dan belajar disiplin juga,” akunya.
Selain itu, ia membiasakan Nadif terlibat dalam aktivitas sederhana di rumah, seperti mewarnai, mencoret-coret gambar, hingga membantu kegiatan sehari-hari. Baginya, kebiasaan kecil tersebut membantu anak belajar bertanggung jawab dan menjadi lebih mandiri.
Perubahan yang paling terasa adalah kemampuan Nadif dalam mengendalikan emosinya. Jika dahulu mudah marah dan sulit diajak pulang, kini ia lebih tenang serta mampu mengikuti arahan orang tua.
Perubahan lain juga terlihat dalam kebiasaan menggunakan gawai. Misem memilih membatasi penggunaan telepon seluler karena melihat sendiri dampaknya terhadap perilaku anak.
“Kalau habis main HP, anaknya suka marah-marah. Makanya, jarang saya kasih HP. Jadi, lebih baik dia bermain dengan mainannya sendiri,” katanya.
Menurutnya, bermain langsung bersama teman sebaya jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan menghabiskan waktu di depan layar. Melalui kegiatan di Rumah Anak SIGAP, Nadif juga belajar berbagi dan berinteraksi dengan anak-anak lain.
“Anaknya jadi tahu arti berbagi mainan dengan teman,” ujarnya.
Bagi Misem, perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Selama lebih dari dua tahun, ia rutin datang ke Rumah Anak SIGAP setiap pekan. Dari rumahnya di kawasan Panggung Lor, ia harus menempuh perjalanan sekitar 10 hingga 15 menit menggunakan sepeda motor. Jarak tersebut tidak pernah menjadi alasan baginya untuk berhenti datang.
“Kalau adiknya tidak tidur, saya pasti berangkat. Jarang bolos,” tuturnya.
Bahkan, ketika hujan deras mengguyur Semarang, ia pernah tetap bersiap berangkat sebelum akhirnya mendapat kabar bahwa jadwal kelas diundur. Keseriusan itu juga didukung oleh pembagian peran dengan sang suami.
Ia merasakan perbedaan besar dibandingkan dengan saat membesarkan anak pertamanya yang kini berusia 13 tahun. Kala itu, belum ada Rumah Anak SIGAP sehingga pengetahuan mengenai pengasuhan hanya diperoleh dari orang tua.
“Dulu belum menerapkan pola pengasuhan seperti sekarang karena hanya belajar dari orang tua. Sekarang, saya lebih suka mengajak anak bereksplorasi,” katanya.
Baginya, Rumah Anak SIGAP bukan sekadar tempat bermain. Tempat itu menjadi ruang belajar bagi orang tua untuk memahami kebutuhan tumbuh kembang anak sejak usia dini.
Hal tersebut sejalan dengan tujuan Rumah Anak SIGAP sebagai ruang belajar bersama bagi anak, orang tua, dan masyarakat dalam membangun lingkungan pengasuhan yang aman, hangat, dan responsif. Orang tua tidak hanya mendampingi anak bermain, tetapi juga mendapatkan pengetahuan mengenai stimulasi perkembangan bahasa, motorik, kognitif, sosial, dan emosional melalui aktivitas sederhana.
Momentum Hari Anak Nasional 2026 menjadi kesempatan yang tepat untuk mengingatkan bahwa pemenuhan hak anak tidak hanya berkaitan dengan kesehatan dan pendidikan, tetapi juga mencakup hak untuk bermain, memperoleh perhatian, merasa aman, serta tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang.
Rumah Anak SIGAP merupakan bagian dari program Siapkan Generasi Anak Berprestasi atau SIGAP yang didirikan oleh organisasi filantropi independen Tanoto Foundation. Program tersebut dijalankan bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang serta berfokus pada penguatan layanan stimulasi dini bagi anak.
Melalui interaksi berkualitas, komunikasi positif, serta kegiatan bermain secara rutin, orang tua dapat memperkuat kedekatan emosional dengan anak sekaligus memberikan stimulasi bagi perkembangan bahasa, kognitif, motorik, sosial, dan emosionalnya.
Misem telah membuktikannya secara langsung. Selama 25 bulan mengikuti kegiatan di Rumah Anak SIGAP, ia tidak hanya menyaksikan Nadif bertumbuh, tetapi juga belajar menjadi orang tua yang lebih baik. **(kap)**
Editor : Baskoro Septiadi