Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pandemi Ubah Arah Hidup Erlina dari Pemburu Karier Kantoran Jadi Pendiri Kelas Matematika Online

Khafifah Arini Putri • Rabu, 3 Juni 2026 | 13:39 WIB
Erlina, penerima beasiswa National Championship Scholarship (NCS) Tanoto Foundation.
Erlina, penerima beasiswa National Championship Scholarship (NCS) Tanoto Foundation.

RADARSEMARANG.ID - Sosok Erlina, perempuan kelahiran Tegal yang kini menetap di Jogja, punya cerita menarik tentang perjuangan meraih mimpi. Lulusan Magister Teknik Industri Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan IPK 3,94 ini ternyata tidak memilih jalur karier konvensional sebagai karyawan kantoran. Ia justru memilih merintis karier untuk menjadi guru les matematika secara online.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia pada 2020 lalu tak hanya membawa duka. Bagi Erlina, virus corona justru menjadi titik balik yang mengubah seluruh arah hidupnya.

Saat itu, perempuan lulusan UGM ini sudah diterima bekerja di perusahaan. Namun satu per satu tawaran itu mundur. Para perusahaan memilih menunda rekrutmen akibat ketidakpastian ekonomi.

"Pendaftarannya di-postpone semua. Bahkan ada yang sudah sampai tahap akhir tapi enggak jadi karena Pandemi Covid-19," kata Erlina.

Namun di balik kegagalan itu, ia justru menemukan jalan baru. Di saat banyak orang kehilangan arah, Erlina justru dipaksa memikirkan ulang masa depannya.“Waktu itu bingung juga. Cari kerja susah, semua serba tidak pasti,” ujarnya.

Berbekal kemampuan matematika yang sejak kecil paling ia kuasai, Erlina mulai membuat konten pembelajaran sederhana di YouTube dan Instagram. Awalnya hanya untuk mengisi waktu sambil menunggu keadaan membaik.

Tak disangka, perlahan mulai ada siswa yang meminta diajar secara online. Dari situlah Math-ier lahir. Sebuah layanan les matematika online yang kini menangani sekitar 40 siswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Mulai anak SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa mengikuti kelas yang dipegang langsung olehnya. Bahkan ada siswa yang belajar khusus menjelang olimpiade maupun ujian sekolah.“Karena saya memang cuma bisanya matematika,” katanya sambil tertawa kecil.

Namun perjalanan Erlina hingga berada di titik sekarang tidak terjadi secara instan. Ada proses panjang yang membentuk cara berpikir dan mentalnya. Salah satunya ketika ia menjadi penerima beasiswa National Championship Scholarship (NCS).

Saat itu, program beasiswa itu dikenal luas di kalangan mahasiswa. Bukan hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga mendampingi penerimanya berkembang lewat pelatihan dan proyek sosial.

 

“Tanoto Foundation itu beda. Mereka bukan cuma memberikan dana, tapi benar-benar mendampingi mahasiswa supaya berkembang,” ujarnya.

Selama menjadi penerima beasiswa hingga 2020, Erlina mendapat banyak pelatihan kepemimpinan, manajemen waktu, hingga pengembangan diri. Misalnya ia diberikan pemahaman tentang cara mengatur waktu kuliah, namun tetap aktif berorganisasi, dan melanjutkan prestasi. 

"Kita diberikan pembelajaran, tentang bagaimana kita bisa manage kuliah, organisasi, lomba juga tetap jalan. Itu semua butuh mengatur waktu dan disiplin. Bukan motivasi sesaat, tapi harus terus jalan, dan di Tanoto Foundation, kita diajari semuanya," bebernya.

Ia juga aktif dalam terlibat dalam Tanoto Scholar Association (TSA). Dari sana, Erlina belajar manajemen proyek secara langsung, mulai dari cara scheduling, mengatur budget, membuat proposal, hingga menjalankan program sosial di masyarakat.

Salah satu yang paling membekas ialah ketika ia ikut program pengembangan masyarakat dan literasi di wilayah Yogyakarta. Bersama timnya, Erlina terlibat dalam kegiatan pojok baca dan pendampingan masyarakat.

"Paling berkesan itu. Kita bikin proyek sosial, misalnya bantu produksi susu kambing etawa di Jogja, juga bikin pojok bacaan buat literasi. Benar-benar diajari cara mengelola proyek," tegasnya.

Meski sederhana, pengalaman tersebut membuatnya sadar bahwa pendidikan bisa memberi dampak besar ketika dijalankan secara konsisten.“Yang paling terasa itu lingkungannya sangat mendukung. Kita dipertemukan dengan orang-orang yang terus mendorong untuk berkembang,” katanya.

Lingkungan itu pula yang membuat Erlina berani aktif mengikuti berbagai kompetisi. Prestasinya pun beragam, ia pernah mendapatkan Juara 2 Project Management Competition tingkat Asia Tenggara tahun 2025. Ia juga menjadi finalis SDGs Design International Awards di Kyushu University Jepang pada 2024.

Menariknya berkat beasiswa NCS ini, Erlina juga mendapat kesempatan magang di perusahaan. Ia pun bisa merasakan langsung pengalaman bekerja di dunia industri.

 

Di tengah berbagai pencapaian akademik dan pengalaman tersebut, Erlina justru merasa dampak paling nyata yang ia lakukan sekarang hadir lewat ruang kelas kecilnya secara online. 

Wanita 28 tahun ini banyak bertemu anak-anak yang kehilangan dasar pembelajaran akibat pandemi. Beberapa siswa bahkan belum benar-benar menguasai kemampuan dasar berhitung ketika sudah masuk jenjang lebih tinggi.

“Banyak anak yang waktu SD sekolahnya online terus. Jadi basic matematikanya tidak memadai,” ujarnya.

Karena itu, Erlina tidak sekadar mengajar rumus. Ia mencoba membangun kembali kepercayaan diri siswa terhadap matematika. Menurutnya, banyak anak sebenarnya mampu, tetapi sudah lebih dulu takut dengan pelajaran tersebut.

Sistemnya pun unik. Erlina menyesuaikan waktu belajar dengan karakter anak. Anak SD biasanya les sore, sementara anak SMA lebih senang di malam hari.

"Ada anak yang lebih tenang kalau belajar malam banget. Ya sudah, saya taruh yang malam. Lesnya fleksibel. Ada yang seminggu sekali, dua kali, bahkan lima kali. Hitungannya per pertemuan," jelasnya.

Yang paling membuatnya bertahan hingga sekarang justru respons anak-anak saat belajar. Founder Math-ier ini bercerita, banyak siswa SD yang sudah bersiap rapi sebelum kelas dimulai. Ada yang mandi lebih awal, memakai jepit rambut, bahkan membawa papan tulis kecil untuk menjelaskan jawaban mereka sendiri lewat kamera.

“Nanti mereka malah gantian ngajarin saya. Lucu banget,” katanya.

Di balik suasana santai itu, Erlina melihat ada perubahan nyata. Anak-anak yang awalnya takut Matematika mulai berani mencoba. Nilai mereka perlahan membaik, bahkan beberapa mulai percaya diri mengikuti lomba.

 

Baginya, itu lebih dari sekadar pekerjaan. Pandemi memang sempat mengubah jalan hidupnya. Namun dari situ, Erlina justru menemukan ruang baru untuk bertumbuh sekaligus membantu orang lain.

Kini, setelah menyelesaikan Magister Teknik Industri UGM, ia masih terus mengajar sambil terlibat dalam berbagai proyek penelitian kampus dan mempersiapkan studi S3.

Ke depan, Erlina ingin membangun usaha sendiri yang tidak hanya berkembang secara bisnis, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

“Saya belajar kalau hidup itu enggak selalu harus sesuai rencana awal. Kadang jalan yang awalnya dianggap kecil ternyata justru membawa kita ke tempat yang lebih baik,” pungkasnya. (kap)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#penerima beasiswa #National Championship Scholarship (NCS) #tanoto foundation