RADARSEMARANG.ID, Semarang, 21 Mei 2026 — Politeknik LPP bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menyelenggarakan Workshop Produk UMKM Berbahan Komoditas Perkebunan pada 20–21 Mei 2026. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Kampus II Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) dan diikuti oleh 100 peserta, terdiri atas 47 mahasiswa Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian UNWAHAS serta 53 pegiat UMKM Kota Semarang.
Kegiatan diawali sambutan dari Direktur Politeknik LPP, M. Mustangin. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting sebagai bagian dari upaya memperkuat hilirisasi produk perkebunan, khususnya melalui pengembangan UMKM. ‘Komoditas perkebunan tidak hanya memiliki nilai pada sektor budidaya dan industri besar, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi produk kreatif yang mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat’, ujarnya.
Sambutan kedua disampaikan oleh Direktur Utama BPDP yang diwakili oleh Anwar Sadad, selaku Tim Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UKM. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan mengenai peran BPDP dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia, termasuk penguatan UMKM berbasis komoditas perkebunan. ‘BPDP terus mendorong agar sektor perkebunan tidak hanya berorientasi pada produksi bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk turunan yang bernilai ekonomi tinggi’, ujarnya.
Sambutan ketiga disampaikan oleh Rektor UNWAHAS, Helmy Purwanto, sekaligus secara resmi membuka kegiatan workshop ini. Beliau menyambut baik terselenggaranya kegiatan ini karena sejalan dengan semangat perguruan tinggi dalam mendorong kolaborasi, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat. ‘Sektor UMKM merupakan salah satu sektor yang terbukti paling tahan terhadap goncangan perekonomian. Oleh karena itu, penguatan kapasitas pelaku UMKM melalui pemanfaatan bahan lokal, termasuk komoditas perkebunan, menjadi langkah penting untuk membangun ekonomi masyarakat yang lebih tangguh dan berkelanjutan’, ujarnya.
Pada sesi materi pertama, Edi Gunawan, dosen Agribisnis UNWAHAS, menyampaikan materi tentang peluang pengembangan produk UKM berbahan sawit, kelapa, dan kakao. Beliau menjelaskan bahwa ketiga komoditas tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, baik dalam bentuk pangan, kosmetik, kerajinan, maupun produk kreatif lainnya. ‘Dengan pendekatan agribisnis, pelaku UMKM perlu memahami rantai nilai dari bahan baku hingga pemasaran agar produk yang dihasilkan lebih kompetitif’, ujarnya
Materi kedua disampaikan oleh praktisi promosi digital, Muhammad Anik. Dalam paparannya, beliau menekankan pentingnya promosi digital bagi UKM di era saat ini. Menurutnya, produk yang baik perlu didukung strategi komunikasi yang tepat, mulai dari pengemasan visual, narasi produk, pemanfaatan media sosial, hingga konsistensi membangun identitas merek agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Narasumber ketiga, Azhari Rizal dari Politeknik LPP, menyampaikan materi mengenai produk UKM berbahan limbah sawit. Beliau menjelaskan bahwa limbah perkebunan, khususnya dari komoditas sawit, memiliki peluang untuk diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi. Pendekatan ini tidak hanya membuka peluang usaha baru, tetapi juga mendukung prinsip ekonomi sirkular dan pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Pada hari kedua di sesi praktik pertama, peserta dikenalkan dengan SWIT-Terazzo, yaitu pot bunga berbahan limbah padat cangkang sawit. Produk ini memperlihatkan bahwa cangkang sawit dapat diolah menjadi material dekoratif yang menarik menjadi produk bernilai estetis dan berpotensi dipasarkan sebagai dekorasi rumah, suvenir, maupun produk kerajinan.
Praktik kedua dilanjutkan dengan pembuatan SWIT-Parfumed, yakni parfum yang memanfaatkan limbah cair minyak sawit. Produk ini menjadi salah satu daya tarik peserta karena menunjukkan bahwa bahan berbasis sawit tidak hanya dapat dikembangkan untuk produk pangan atau kerajinan, tetapi juga dapat diarahkan menjadi produk gaya hidup yang memiliki nilai komersial.
Sesi berikutnya tidak kalah menarik yaitu membuat SWIT-CoccoaNut, minuman kekinian berbahan dasar cokelat, krimer sawit, dan kelapa. Produk ini mencuri perhatian karena memadukan komoditas perkebunan dalam bentuk minuman modern yang dekat dengan pasar anak muda.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan pendampingan dari Tim UMKM Politeknik LPP. Para peserta berdiskusi mengenai berbagai potensi bahan perkebunan, mulai dari hasil utama hingga limbah yang dapat diolah kembali menjadi produk bernilai jual. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan gagasan usaha yang muncul, menunjukkan bahwa sektor perkebunan masih menyimpan ruang inovasi yang sangat luas bagi generasi muda dan pelaku UMKM.
‘Selama ini kami mengenal sawit, kelapa, dan kakao sebagai komoditas pertanian biasa. Setelah mengikuti workshop ini, kami jadi paham bahwa bahan-bahan tersebut bisa dikembangkan menjadi produk UKM yang kreatif dan bernilai ekonomi tinggi, terimakasih untuk BPDP telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini’ ujar peserta mahasiswa UNWAHAS.
‘Materinya sangat aplikatif, kami mendapatkan inspirasi baru, terutama tentang pemanfaatan bahan dan limbah perkebunan menjadi produk yang bisa dikembangkan untuk usaha. Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan oleh pelaku UKM, terimakasih untuk BPDP, Politeknik LPP dan UNWAHAS atas terselenggaranya kegiatan ini’ ungkap peserta pegiat UKM.
Melalui kegiatan ini, Politeknik LPP, BPDP, dan UNWAHAS berharap pengembangan produk UMKM berbasis komoditas perkebunan dapat terus tumbuh, menjadi sumber inovasi, serta menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Dari perkebunan lahir bahan, dari kreativitas lahir nilai tambah, dan dari kolaborasi lahir masa depan UMKM yang lebih berdaya.
Editor : Tasropi