Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Dari Teknologi Pangan ke Dunia Perbankan, Perjalanan Archela Bersama Beasiswa TELADAN

Khafifah Arini Putri • Selasa, 27 Januari 2026 | 20:29 WIB

Penerima Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation, Archela Hartikva Tjahjono.
Penerima Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation, Archela Hartikva Tjahjono.


RADARSEMARANG.ID, Semarang - Jalan hidup Archela Hartikva Tjahjono ibarat puzzle yang disusun pelan-pelan. Siapa sangka, keputusannya mendaftar Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation bukan cuma mengubah nasibnya sendiri, tapi juga menjadi awal dari sebaran manfaat yang luas bagi masyarakat di sekitarnya.

Awal masa kuliah, Archel sapaan akrabnya mengaku tidak pernah merancang mimpi besar. Ia hanya ingin satu hal, bertahan dan menyelesaikan kuliah dengan baik. Sebab perjalanan kuliahnya tidaklah mulus.

Sempat gagal masuk lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), ia akhirnya lolos dengan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Archel pun diterima di Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Saat itu, Archel tak berkeinginan mencari beasiswa. Ia bahkan tidak berpikir untuk mendaftar apapun selain fokus kuliah. Hingga suatu hari, unggahan tentang Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation berseliweran di layar gawainya. Awalnya ia acuh. Namun mendekati penutupan pendaftaran, rasa penasaran justru muncul.

"Cobalah saya daftar mencari peruntungan, enggak bilang orang tua dulu. Sharing dengan teman, kebetulan ketat (persaingannya). Banyak banget yang daftar dari angkatanku, (dari) 11 ribu (pendaftar) yang keterima cuma 170, termasuk aku,” kata Archel.

Tahapan seleksinya ketat mulai dari administrasi, psikotes, wawancara, hingga asesmen online. Banyak temannya yang sudah mempersiapkan diri sejak awal justru gagal lolos, sementara Archel yang awalnya tidak berpikir panjang malah diterima. 

"Siapa sangka Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation ini full cover UKT (uang kuliah tunggal) dari semester dua sampai delapan. Bonusnya ada pengembangan kepemimpinan, programnya banyak bisa mendukung soft skill dan hard skill," bebernya.

Perempuan 22 tahun ini mengaku Beasiswa TELADAN tidak hanya memberinya dukungan finansial, tetapi juga membawanya ke proses pengembangan diri yang mendalam. Tahap awal, Archel mengikuti program Lead Self, yang mengajarkannya untuk mengenal diri sendiri.

“Dari situ aku tahu kalau aku kurang percaya diri saat bicara di depan umum. Jadi aku belajar latihan, dari hal kecil seperti latihan di depan kaca,” akunya.

Melalui proses itu, ia mulai memahami cara berpikir, berkomunikasi, serta potensi yang selama ini tidak disadari. 

“Saya disadarkan bahwa passion saya tidak terbatas di lab teknologi pangan. Saya ternyata punya ketertarikan kuat pada analisis data, strategi, dan punya keinginan besar untuk menciptakan dampak sosial,” ujarnya.

Memasuki tahap Lead Others, Archel mulai belajar memberi dampak bagi orang lain. Bersama sesama penerima Beasiswa TELADAN Undip, ia terlibat dalam berbagai proyek sosial. Salah satunya adalah program kesehatan mental bertajuk Heal Inside Out.

Melihat banyak mahasiswa rentan melakukan self-diagnose akibat paparan media sosial, Sela dan tim menggandeng mahasiswa psikologi untuk memberikan edukasi yang tepat. Program ini dikemas dalam bentuk webinar, talkshow, dan kampanye terbuka.

“Tujuannya supaya teman-teman tahu kalau mencari solusi itu bukan dengan mengakhiri hidup, tapi mencari bantuan,” tuturnya.

Selain di lingkungan kampus, perempuan asal Semarang ini juga terjun langsung ke masyarakat. Ia terlibat dalam program penanaman mangrove di Pantai Tirang Kota Semarang bersama Dinas Lingkungan Hidup, Dompet Dhuafa, dan DPRD. Ia juga ikut dalam program bank sampah di kawasan Bandarharjo yang membantu warga mengelola sampah rumah tangga menjadi sumber penghasilan.

Kemudian pada tahap Professional Preparation, Archel mulai dipersiapkan untuk masuk ke dunia kerja. Ia mendapatkan pembekalan tentang literasi keuangan, investasi, penyusunan CV dan cover letter, hingga membangun profil profesional di LinkedIn.

Kesempatan belajar pun semakin terbuka. Ia menjalani internship di salah satu perusahaan di Riau. Tak lama berselang, pada Juli 2025 lalu, ia mengikuti Global Experience Program di Singapura. Melalui kegiatan itu, ia terlibat dalam konferensi internasional dan diskusi bersama Smile Asia terkait isu bibir sumbing. 

Pengalaman-pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya tentang masa depan. Setelah lulus dalam waktu 3 tahun 7 bulan, Archel mulai melamar pekerjaan. Ia sempat mencoba berbagai perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) yang sejalan dengan jurusannya. Namun, hasilnya masih nihil.

Pernah belajar tentang Program Lead Self lewat Beasiswa TELADAN, Archel tak patah arang. Program ini lagi-lagi membuka matanya. Ia ingat pernah belajar menggali potensi diri, kekuatan, kelemahan, dan passion sejatinya. Pemahaman inilah yang menjadi kompasnya. Ia tak lagi ragu untuk keluar dari jalur linear. Berbekal ilmu analisis data sejak bangku kuliah, ia memberanikan diri melamar ke dunia perbankan hingga akhirnya bekerja di salah satu bank swasta terbesar di Indonesia. Keberanian “keluar jalur” ini lahir dari kepercayaan diri yang dibangun selama program beasiswa.

Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan. Ia berdiskusi dengan keluarga, dan mendapatkan dukungan penuh. Proses seleksi berjalan ketat, bahkan sempat membuatnya pesimistis.

“Di sini aku merasa tetap nyambung, karena aku memang orang yang detail dan by data,” ungkapnya.

Bagi Archel, Beasiswa TELADAN bukan sekadar bantuan pendidikan. Program ini menjadi ruang aman untuk bertumbuh, gagal, dan berani mencoba hal baru.

Archel kini tetap menata potongan-potongan hidupnya. Ia masih memiliki impian besar untuk membuka bisnis di bidang makanan sehat dan menjadi relawan yang berdampak lebih luas. Semua itu ia rangkai dari bekal pelatihan kepemimpinan, pengalaman profesional, serta jaringan luas yang dibentuk sejak menjadi Tanoto Scholar, sebutan bagi para peserta program Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation. Ia pun berpesan pada generasi muda yang sedang berjuang agar tak takut mencoba hal baru.
“Jangan takut mencoba, karena gagal bukan tanda berhenti. Itu hanya bagian dari proses belajar sampai kamu menemukan titik di mana kamu cocok dan siap bersinar," pungkasnya. (kap)

Editor : Baskoro Septiadi
#uang kuliah tunggal #Beasiswa Teladan #Pantai Tirang #penanaman mangrove #Fakultas Peternakan dan Pertanian #Universitas Diponegoro #mahasiswa psikologi #KOTA SEMARANG #tanoto foundation