RADARSEMARANG.ID, Tegal - Komitmen Saeful Muslimin dalam menurunkan angka stunting di Desa Tuwel, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal sudah mengakar kuat. Komitmen itu ia buktikan dengan melanjutkan pembiayaan Rumah Anak SIGAP melalui dana desa. Rumah Anak SIGAP ini merupakan program pengasuhan yang diinisiasi dari Tanoto Foundation.
Saat ditemui di ruang kerjanya, Kepala Desa yang mengenakan kemeja putih itu secara detail menceritakan dengan bangga peran Rumah Anak SIGAP dalam menurunkan angka stunting di desanya.
Saeful sapaan akrabnya menjelaskan, kerja sama dengan Tanoto Foundation sebenarnya resmi berakhir pada akhir 2024. Namun ia tak ingin “rumah” bagi anak-anak dan para ibu di desanya itu berhenti berdenyut. Baginya, kesehatan masyarakat menjadi prioritas.
“Kalau sudah berjalan baik, sayang kalau berhenti. Ini bukan sekadar program, tapi masa depan anak-anak,” kata Saeful.
Buktinya nyata, Desa Tuwel dulu dikenal sebagai lokus stunting. Tahun 2021, angka stunting di sini sempat menyentuh 28 persen. Namun berkat adanya Rumah Anak SIGAP, kini angka itu menurun drastis menjadi 13,3 persen per September 2025, di bawah rata-rata nasional.
Dari total 673 balita di desanya, sebanyak 90 teridentifikasi stunting pada September 2025. Jumlah ini menurun, sebelumnya Agustus 2025 kasus stunting di Desa Tuwel ada 91 anak.
"Penurunan stunting dari 13,5 persen menjadi 13,3 persen (per September 2025). Sebelum ada Tanoto Foundation tinggi, 28 persen makanya (Desa Tuwel) jadi lokus stunting tahun 2021. Jadi sekarang kita di bawah nasional," jelas Saeful dengan bangga.
Karena itulah, melalui musyawarah desa (musdes), Saeful mengalokasikan Rp108 juta dari Dana Desa 2025 untuk program kesehatan. Anggaran itu digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk operasional Rumah Anak SIGAP, Pemberian Makanan Tambahan (PMT), Bina Keluarga Balita (BKB), hingga Kafetaria Sehat (Kafeta) yakni tempat anak-anak gizi kurang mendapat tambahan nutrisi setiap hari. Bahkan Kafeta milik Desa Tuwel ini sudah memiliki sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS).
“Anak-anak yang masuk kategori gizi kurang, kita kirim makanan sehat setiap hari. Kita pantau, habis dimakan atau tidak. Kalau tidak, kita cari tahu alasannya. Ada konseling juga untuk orang tuanya,” jelasnya.
Saeful menyebut, program ini fokus pada balita di bawah dua tahun. Sebab kata dia, fase itu paling menentukan keberhasilan pemulihan gizi. Apalagi anak-anak ini juga masuk dalam kategori risiko stunting, Khawatirnya ketika tak ditangani dengan baik, akan menambah angka stunting di Desa Tuwel. Kini ada 26 balita penerima manfaat Kafeta. Mereka mendapat pemantauan rutin bersama Puskesmas Bojong.
"Kita pilih anak yang gizi kurang, karena gizi kurang berpotensi stunting. Fokus kita adalah pemulihan," imbuhnya.
Kini ada 51 anak yang aktif di Rumah Anak SIGAP. Mereka terbagi menjadi lima kelas. Di sini, anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga distimulasi kemampuan bahasanya, motorik halus dan kasar, serta kognisinya. Orang tua juga mendapat edukasi tentang pola pengasuhan yang baik.
"Rata-rata anak-anak yang ikut Rumah Anak SIGAP kemampuan bahasanya lebih lancar dibandingkan yang tidak ikut. Dulu saat pertama datang banyak yang menangis dan tidak mau bergaul, sekarang mereka sudah berani maju dan bermain dengan teman-temannya," ungkapnya.
Kegiatan "Kuliah Umum" untuk orang tua yang diadakan setiap tiga bulan sekali juga selalu ramai dihadiri. Narasumber dari berbagai dinas terkait, seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, hingga Puskesmas memberikan ilmu tentang kesehatan dan gizi anak.
"Kalau melihat anak dulu digendong ibunya sekarang bisa jalan sendiri (saya senang). Kalau kuliah umum pasti ramai, orang tua dapat ilmu tentang pengasuhan," akunya.
Ia menceritakan ada kisah seorang anak yang lahir prematur. Berat badannya tak kunjung naik. Setelah didampingi dan dianjurkan tes Mantoux, anak tersebut ternyata positif terpapar TBC.
"Akhirnya dapat pengobatan selama 6 bulan. Kita suruh ikut di sini (Rumah Anak SIGAP) dan alhamdulillah berat badannya naik. Ternyata sumber penularannya dari neneknya yang serumah," ujarnya.
Cerita lain datang dari orang tua yang awalnya menolak saat dikunjungi. Namun setelah melihat perubahan pada tumbuh kembang anaknya, kini orang tua selalu menanti kunjungan bahkan mereka melakukan konsultasi.
"Tapi sekarang mereka senang sekali saat kita datang. Mereka mau diajak konsultasi ke puskesmas dan antusias mengikuti Rumah Anak SIGAP. Anaknya yang dulu gizi buruk, sekarang sudah sehat," bebernya.
Di usianya yang ke-61 tahun, Saeful Muslimin telah memimpin Desa Tuwel selama tiga periode. Motivasi utamanya bukanlah materi, melainkan pengabdian dan kebanggaan untuk melayani masyarakat.
"Yang jelas, saya ingin ngabdi ke masyarakat, terutama pelayanan. Dua periode pertama ini bahkan tidak ada bayaran, semuanya pengabdian," kenang pria yang menjabat sejak 1998 ini.
Komitmennya terhadap prioritas kesehatan di Desa Tuwel ini tak main-main. Saeful sadar betul, anak-anak adalah cikal bakal kemajuan desa. Ia pun selalu mengedepankan musyawarah desa dalam menentukan prioritas anggaran, di mana sektor kesehatan selalu menjadi perhatian utama. Kendati demikian Saeful tak melupakan pembangunan infrastruktur juga pemberdayaan masyarakat. Sehingga semua sektor tetap berjalan beriringan.
"Tidak semua kepala desa peduli akan stunting. Bagi saya, ini adalah program pemerintah dan masa depan anak-anak yang harus kita jaga," tegasnya. (kap/web)
Editor : Baskoro Septiadi