RADARSEMARANG.ID, UNGARAN- Diabetes Melitus (DM) masih menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat Indonesia.
Penderita DM tidak hanya dituntut untuk menjaga kadar gula darah melalui obat, tetapi juga dengan pola makan yang sehat.
Menjawab kebutuhan ini, tim dosen Universitas Ngudi Waluyo (UNW) melakukan inovasi diversifikasi pangan fungsional berbasis jamur tiram bersama Kelompok Tani “Berkah Tani” di Kabupaten Sragen.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan atas pendanaan dari Kemendiktisaintek Tahun Anggaran 2025, serta dukungan dari LPPM Universitas Ngudi Waluyo yang dilaksanakan dalam empat pertemuan, yaitu tanggal 28–29 Juli 2025 dan 11–12 Agustus 2025, dengan partisipasi 100% anggota kelompok tani “Berkah Tani” Kabupaten Sragen.
Kegiatan dipimpin oleh Dr. Ummu Muntamah, S.Kp., Ns., M.Kes, dengan anggota tim: Riva Mustika Anugrah, S.Gz., M.Gizi, Setya Indah Isnawati, S.I.Kom., M.M, dan Chindya Paramtha Devi, STP., M.Si dengan dibantu mahasiswa dari program studi keperawatan, ilmu gizi dan bisnis digital.
Edukasi dan Inovasi Produk Jamur Tiram
Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan edukasi mengenai pentingnya camilan sehat berbasis jamur tiram untuk penderita DM.
Jamur tiram dikenal kaya serat dan beta-glukan yang berperan dalam membantu mengatur kadar gula darah.
Tim juga melatih anggota kelompok tani untuk berinovasi mengolah jamur tiram menjadi berbagai produk camilan sehat, antara lain:
• Es krim jamur tiram dengan rasa unik namun tetap menyehatkan.
• Abon jamur tiram sebagai alternatif lauk sehat tinggi serat.
Penguatan Pemasaran Digital
Selain pelatihan olahan pangan, peserta juga mendapat materi tentang strategi pemasaran digital melalui media sosial.
Hal ini penting agar produk olahan jamur tiram bisa menjangkau pasar yang lebih luas.
Peserta juga dibekali keterampilan pencatatan keuangan sederhana agar usaha yang dijalankan dapat dikelola secara berkelanjutan.
Memberdayakan UMKM, Menyehatkan Masyarakat
Kegiatan ini merupakan sinergi antara Fakultas Kesehatan dan Fakultas Ekonomi, Hukum, dan Humaniora UNW dalam upaya meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekaligus mendukung upaya peningkatan derajat kesehatan.
“Harapan kami, inovasi diversifikasi pangan fungsional ini tidak hanya meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya penderita diabetes, tetapi juga memperkuat ekonomi anggota kelompok tani melalui UMKM berbasis pangan sehat,” jelas Dr. Ummu Muntamah.
Dengan adanya program ini, jamur tiram tidak lagi hanya dikenal sebagai bahan masakan sederhana, melainkan telah naik kelas menjadi produk inovatif yang sehat, bernilai jual, dan bermanfaat bagi masyarakat luas. (ria)
Editor : Tasropi