RADARSEMARANG.ID, Semarang - Di balik semangat literasi dan numerasi yang tumbuh di SDN Kuningan 02 Semarang, ada peran penting Martini, S.Pd., sebagai Kepala Sekolah.
Fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation ini tak hanya menyemai praktik baik ke siswa, tapi juga aktif menularkan ilmunya ke guru-guru lain di sekolahnya.
Berangkat dari pengalamannya sebagai guru Bahasa Indonesia. Martini menyadari tantangan utama siswa dalam membaca adalah memahami isi bacaan.
“Mereka mungkin bisa membaca, tetapi untuk memahami bacaan kadang-kadang mereka butuh waktu,” ungkap Martini.
Karena itu ia menerapkan strategi bertingkat dalam membuat pertanyaan agar siswa bisa benar-benar memahami teks yang dibaca. Salah satu metode yang ia adaptasi dari pelatihan Tanoto Foundation adalah penggunaan tes diagnostik di awal pembelajaran.
“Tes ini penting untuk mengetahui kompetensi awal peserta didik sebelum diberikan materi baru,” jelasnya.
Martini pun bercerita, dalam praktiknya saat masih mengajar di kelas lima, ia rutin memberikan berbagai paragraf yang mengandung pokok pikiran di posisi berbeda, baik awal, tengah, hingga akhir paragraf. Cara ini dilakukan untuk melatih kemampuan siswa menemukan kalimat utama.
“Salah satu cara agar mereka paham adalah dengan membaca berulang kali. Karena kalau hanya sekali, jangankan paham, ingat saja belum tentu,” bebernya.
Kini sebagai kepala sekolah, Martini menggulirkan program rutin untuk memperkuat literasi dan numerasi yang menyasar seluruh siswa.
Yakni setiap pagi di hari Selasa dan Kamis, siswa mengikuti kegiatan pembiasaan pagi yang dirancang kreatif dan menyenangkan.
“Selasa pagi ada kegiatan literasi-numerasi yang bebas, anak-anak bisa menampilkan puisi, dongeng, atau menyanyi. Sementara Kamis lebih fokus ke membaca bareng dan mendengarkan cerita,” ungkapnya.
Ia menjelaskan di hari Selasa para siswa akan menampilkan kreasi. Mereka bebas membaca puisi, dongeng ataupun drama untuk melatih percaya diri dan kemampuan berbahasa.
Kemudian hari Kamis ada kegiatan mendengarkan cerita dan menuliskan kembali, guna melatih pemahaman peserta didik.
“Bukunya ditutup, lalu mereka menuliskan satu kalimat atau lebih dari yang mereka ingat. Itu nanti akan meningkat terus, dari satu kalimat menjadi setengah halaman,” imbuhnya.
Antusiasme siswa pun tumbuh meski kegiatan rutin digelar setiap pekan. Martini menyadari tantangan dalam menerapkan program ini adalah menjaga semangat mereka, namun hal itu justru menjadi dorongan bagi guru untuk terus berinovasi.
“Tantangan kami adalah bagaimana membuat kegiatan ini variatif dan tetap menarik,” akunya.
Lebih lanjut, Martini juga aktif mendorong pembelajaran kontekstual di sekolah. Salah satunya melalui pendekatan Realistic Mathematics Education (RME).
Program ini salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan nilai asesmen nasional (AN) yang kini menjadi tolok ukur mutu pendidikan.
Menurutnya pendekatan RME ini membuat pelajaran matematika menjadi lebih membumi. Ia memandu siswa untuk belajar numerasi menggunakan benda nyata dari lingkungan sekitar mereka, misalnya dengan membawa bungkus makanan ringan ke kelas.
Dari situ, peserta didik bisa belajar membandingkan pecahan, menghitung uang, hingga operasi hitung campuran melalui simulasi jual beli.
“Anak-anak itu diajari untuk bisa menyelesaikan soal numerasi dengan benda-benda atau dengan kegiatan-kegiatan nyata di lingkungan mereka. Salah satu cara untuk kita meningkatkan numerasi adalah dengan memberikan pembelajaran menggunakan media realistik kepada anak-anak,” bebernya.
Martini mencontohkan, dalam simulasi tersebut siswa diberi studi kasus. Misalnya mereka harus berbelanja jajanan dengan uang saku Rp 10.000.
Para siswa ini berperan sebagai penjual dan pembeli, menghitung total belanjaan, menentukan kembalian, dan menganalisis pilihan mereka berdasarkan nilai uang yang terbatas.
“Anak-anak tidak hanya belajar abstrak, tapi mereka langsung praktik langsung. Jadi ada yang berperan sebagai pembeli dan penjual,” ungkapnya.
Metode ini bukan hanya membuat siswa lebih mudah memahami konsep numerasi, tapi juga mendorong partisipasi aktif mereka.
Kini, sebagai kepala sekolah, ia terus mengintegrasikan semua praktik baik itu ke dalam program sekolah. Tak hanya untuk siswanya, tapi juga dibagikan kepada guru-guru lain.
“Saya juga ingin berbagi kepada teman-teman saya, supaya mereka juga mendapatkan ilmu baru dan bisa diaplikasikan untuk meningkatkan hasil belajar anak-anak,” tandasnya. (kap)
Editor : Agus AP