Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Rustantiningsih, Kepala Sekolah yang Menulis 33 Buku, Tingkatkan Prestasi SDN Rejosari 01 Semarang dengan Literasi

Khafifah Arini Putri • Selasa, 1 Juli 2025 | 23:50 WIB
Kepala SDN Rejosari 01 Semarang Rustantiningsih M.Pd. mengajarkan pembelajaran tentang literasi pada peserta didik.
Kepala SDN Rejosari 01 Semarang Rustantiningsih M.Pd. mengajarkan pembelajaran tentang literasi pada peserta didik.

 

RADARSEMARANG.ID, SEMARANG - Di balik gerbang sederhana SDN Rejosari 01 Semarang, ada sosok yang menjadikan sekolah ini lebih dari sekadar tempat belajar.

Dialah Rustantiningsih M.Pd., Kepala SDN Rejosari 01 Semarang ini tak pernah lelah menyemai semangat literasi di sekolah yang dipimpinnya.

Sejak dua tahun lalu, Tanti sapaan akrabnya resmi memimpin SDN Rejosari 01 Semarang. Namun, kiprahnya di dunia pendidikan jauh lebih panjang dari itu.

Perempuan kelahiran Karanganyar, Solo, ini telah mengabdikan hidupnya sebagai guru sejak 1997. Tak tanggung-tanggung, ia juga aktif menulis dan telah menghasilkan 33 buku.

Di tengah kesibukannya, Tanti juga menjadi fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation, tugasnya tidak hanya mengurus sekolahnya tapi juga menularkan praktik baik ke guru-guru, hingga kepala sekolah lain tentang manajemen berbasis sekolah (MBS) yang ia dapatkan dari pelatihannya dengan Tanoto Foundation.

Perjalanan Kepala SDN Rejosari 01 Semarang di dunia pendidikan ini ibarat lembar demi lembar buku yang ia tulis, penuh liku, namun kaya makna.

Berkat ayahnya yang juga seorang guru, kecintaan Tanti terhadap literasi ini sudah tumbuh sejak kecil.

Saat pulang kerja sang ayah selalu membawakan setumpuk buku dari perpustakaan sekolah untuk dibaca.

Cara ini juga menjadi ajang bagi Tanti untuk lebih dekat dengan ayahnya sembari berdiskusi dan bertukar pendapat.

“Dibawakan (oleh Ayah) buku dari perpustakaan sekolah itu satu tas kresek, tak habiskan untuk baca-baca semuanya. Setelah itu biasanya kami diskusi buku bacaannya sudah dibaca sampai mana,” kenang Tanti saat ditemui di sekolahnya.

Dari kegemaran membaca itu, benih kecintaan pada menulis semkin mengakar kuat. Namun, menjadi guru bukan perkara mudah.

Kariernya dimulai dari titik nol, menjadi guru honorer di SD Anjasmoro Semarang pada 1997.

Gaji pas-pasan tak menyurutkan semangatnya. Untuk menambah penghasilan, sekaligus memenuhi rasa haus akan literasi, ia rajin mengirim artikel ke media cetak.

“Dulu nulis artikel dikirim ke media cetak kalau terbit bisa dapat uang. Dari uang inilah saya membeli buku,” bebernya.

Usahanya tak sia-sia, dari giat menulis dan mengikuti lomba, akhirnya tahun 2009 Tanti mengukir prestasi gemilang sebagai Juara 1 Guru Berprestasi Tingkat Nasional.

Penghargaan itu membawanya ke Prancis untuk studi banding selama sembilan hari. Pengalaman tersebut ia abadikan dalam bukunya 149 Jam di Prancis.

Tahun 2014, inovasi Tanti kembali berbuah manis. Ia meraih juara dalam ajang Inovasi Pembelajaran (Inobel) Nasional. Hadiahnya berupa studi singkat ke Australia, ia manfaatkan untuk menimba ilmu lebih dalam, yang kemudian dituangkan dalam buku Bangun Belajar di Negeri Kangguru.

Prestasi lainnya ialah Juara 2 Lomba Kreativitas Guru Nasional tahun 2015, Juara 1 Menulis Feature Nasional tahun 2017, Juara I Lomba Keluarga Sukhinah Teladan Nasional 2018, ia juga pernah menjadi Juara I Lomba Kepala Sekolah Berprestasi Kota Semarang 2022 dan masih banyak lainnya.

Kini, sejak dipercaya memimpin SDN Rejosari 01 Semarang pada 2022, semangat Tanti tak pernah surut. Ketika pertama kali datang, ia menemukan kondisi sekolah dengan rapor pendidikan masih kuning yang berarti indikator rendahnya capaian literasi dan numerasi.

Namun, alih-alih mengeluh, Tanti justru bergerak cepat. Berbekal pengalaman sebagai Fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation, ia menerapkan prinsip Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) untuk memperkuat budaya literasi.

Budaya literasi yang diterapkannya adalah dengan mewajibkan siswa membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran. Tidak hanya siswa, tapi guru wajib melakukan hal yang sama.

“Jadi guru saya minta agar menanamkan budaya membaca sebelum kegiatan belajar mengajar. Bukan cuma siswanya yang membaca tapi gurunya main handphone atau bahkan meninggalkan kelas. Guru juga wajib membaca dan berada di kelas, karena murid akan mencontoh apa yang dilakukan gurunya,” tegasnya.

Prinsipnya sebagai pemimpin adalah memberi contoh secara nyata. Membuat sekolahnya menjadi tertib dan disiplin pun Tanti melakukannya dengan praktik secara langsung.

Salah satu langkah sederhananya adalah berdiri di gerbang sekolah setiap pagi, menyambut siswa dengan senyum dan sapaan ramah.

Perlahan, kebiasaan itu diikuti guru-guru lain, sehingga membangun kehangatan antara guru dengan siswa.

Menariknya budaya menulis dari guru juga ia tanamkan tanpa paksaan. Lewat grup WhatsApp guru, Tanti iseng mengirim pantun setiap pagi.

Respon antusias datang dari para guru yang tak mau kalah, ikut membalas dengan pantun mereka sendiri. Kumpulan pantun itu kemudian ia bukukan dan dibagikan secara gratis.

“Saya bukan yang model ngoyak-ngoyak tapi lebih ke memberi contoh. Pernah pagi hari saya iseng menyapa guru-guru dengan pantun di grup WhatsApp, akhirnya mereka saling berbalas. Nah dari balasan mereka ini saya jadikan satu saya beri nama karya guru dan saya jadikan buku. Guru-guru pun kaget saat tahu pantun mereka jadi buku,” ungkapnya.

Di tangan Rustantiningsih, sekolah bukan sekadar tempat belajar formal. Sekolah adalah rumah kreativitas, tempat tumbuhnya karakter, dan ladang subur bagi benih-benih perubahan. Melalui buku, pantun, dan keteladanan, Tanti membuktikan kepala sekolah sejati adalah mereka yang mampu menginspirasi, bukan sekadar mengatur. (kap)

Editor : Tasropi
#program pintar tanoto foundation #Rustantiningsih #SDN Rejosari 01 #Guru Honorer